Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Harapan dalam Doa


__ADS_3

Assalamualaikum. selamat hari raya idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin untuk yang merayakannya 🙏 maaf author baru sempet up karena memang kesibukan di dunia real benar-benar membuat Nurmay belum bisa melanjutkan cerita novel nya.


Tapi Nurmay akan aktif kembali mulai hari ini, terimakasih sudah menunggu nya ya. Aku cinta kalian 🤗💜


.........


Perasaan yang tidak lagi bisa tegar, merasa dunianya telah hilang bersamaan dengan kenyataan dan permintaan dari orang yang di cintai nya.


Wajah yang tersenyum manis menghiasi bayang-bayang di secarik kertas yang saat ini ia genggam, senyum yang penuh dengan makna, senyum yang tulus dari seorang istri dan calon ibu.


Tersenyum penuh harapan, tersampaikan dengan baik dari bayangan yang saat ini dapat si pria yang memperbudak dirinya sendiri oleh cinta tulusnya pada sang istri yang juga menyayangi nya bahkan lebih dari dirinya sendiri.


.


David menyeret kakinya menuju pintu ruang ICU, dadanya masih saja sesak mengingat isi dari surat itu. Netranya menangkap sosok wajah wanita yang di cintainya, sosok wajah wanita yang sudah menjadi separuh hidupnya yang meminta untuk melepaskan nya agar bisa menyelamatkan buah cinta mereka.


Apa aku bisa seperti mu? yang bisa menukar nyawa demi kebahagiaan yang lain. Kau sungguh wanita hebat. David berbicara dalam benak nya.


Dengan duduk di samping ranjang, tangannya meraih tangan Zahla yang tertancapkan sebuah jarum infus di sana, ia mengelusnya dengan sangat hati-hati karena takut menyakiti wanitanya, mengecupnya dalam-dalam dan tidak terasa air mata itu tiba-tiba menetes dengan sendirinya.


David menangis, menangis memeluk tangan istri nya, berharap semua akan baik-baik saja tapi kenapa seolah-olah semua sudah di persiapkan dengan apik,


''Aku belum siap, dan tidak akan pernah siap,'' lirihnya.

__ADS_1


Sebuah tangan meraba dengan sayang kepala David, seakan mengerti apa yang saat ini pria dewasa itu rasakan, dia pun ikut menangis. David mengangkat kepalanya melihat seseorang itu yang ternyata adalah ibunya sendiri yang juga bersedih seperti dirinya.


''Mom..'' suara serak itu terdengar sangat menyakitkan di telinga wanita paruh baya itu. Terakhir kali ia melihat anaknya menangis sewaktu David masih kecil, yang menangis karena mainannya di rusak teman sebayanya, dan saat ini ia melihat air mata itu kembali namun dengan arti yang jauh berbeda.


''Mom.. tolong istri ku..'' ucapan asal itu keluar begitu saja dari mulut David yang seharusnya tidak seharusnya berbicara dan meminta seperti itu. Siapa Devita bisa menolong Zahla? tapi itu dapat di maklumi oleh Devita.


''Aku tidak sanggup jika kehilangan dia, Mom..'' tangisan David semakin lirih terdengar, David memeluk tubuh Devita dengan erat, tubuhnya terasa lemas sampai iapun terduduk di bawah lantai yang kini Masi memeluk kaki Devita.


''David, anakku.. Kau harus tabah, berdoalah agar mereka bisa kembali ke tengah-tengah kita, jangan seperti ini, Zahla pasti juga akan bersedih melihat mu bersedih begini.''


Lama mereka saling menguatkan, seseorang pun masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah Daniel Carroll. Matanya melirik ke arah ranjang, diapun sama sedihnya tapi ia tahu, diapun tidak bisa berbuat apa-apa. Di hadapannya istri dan anaknya sedang saling menguatkan, ia sangat mengerti perasaan anak dan istrinya karena dia juga mengalami kesedihan itu.


''15 menit lagi Zahla akan di pindahkan ke ruang operasi, kita harus tetap berpikiran positif dan terus berdoa, dokter hanya bisa melakukan semampu nya dan yang kuasa lah yang akan menentukan nya,'' ujar Daniel dan di angguki Devita.


Daniel, Devita dan David berdiri di depan ruangan ICU, menunggu para tenaga medis memindahkan Zahla ke ruang operasi. Pintu terbuka lebar, ranjang Zahla dengan di bawa oleh beberapa para suster melewati David dan orang tua nya. David, Daniel dan Devita berjalan mengikuti berangkar itu pergi.


Dengan sopan dan hormat, dokter meminta para keluarga pasien menunggu di luar, pintu pun mulai tertutup rapat, keadaan hening dengan sebuah lampu LED di atas pintu yang mulai menyala menandakan jika operasi nya sudah berjalan.


David tidak henti-hentinya berharap untuk keselamatan istri dan anaknya, begitu juga yang lain terutama Devita yang memang sangat taat dengan agama yang ia anut, berdoa bersungguh-sungguh dengan terus meminta kehidupan kedua untuk menantu yang sudah di anggapnya sebagai anak perempuannya sendiri.


David terus menoleh ke arah pintu dan lampu itu, namun pintu itu masih tertutup rapat juga dengan lampu nya yang juga belum padam.


Oooeeekkkkkkk'

__ADS_1


Sebuah tangisan seorang bayi terdengar sangat indah di telinga mereka, semua orang tersenyum bahagia tapi tidak dengan David, walaupun sebenarnya ia juga merasa lega mendengar tangisan tersebut tapi hatinya juga tidak dapat di pungkiri jika ia juga masih resah menunggu kabar keadaan istrinya.


Devita yang masih terduduk di kursi, seketika bangun setelah mendengar tangisan seorang bayi, tangisan pertama dari cucunya yang dia juga belum tahu jenis kelamin nya.


Tapi melihat David yang tidak sama sekali merespon tangisan anaknya sendiri karena ia juga masih berharap dengan kabar keadaan Zahla, Devita pun duduk kembali. Puspa yang merupakan adik iparnya sekaligus sahabatnya menghampiri nya dan memberikan usapan lembut pada Devita.


''Vita.. Kau tidak perlu cemas, justru kau harus memberikan kekuatan untuk David.'' Ujarnya.


''Tapi, Pu.. Aku tidak tega melihatnya.''


''Aku tahu, tapi kalau bukan kau siapa lagi? Kak Daniel? itu tidak mungkin karena mengingat sifatnya yang serupa dengan David,''


Baru saja Devita akan menjawab ucapan Puspa, pintu terbuka dengan seorang perawat yang membawa sebuah tabung kaca yang terdapat bayi di sana dan sudah di pastikan jika bayi itu adalah cucu dari Daniel Carroll. Semua mata tertuju pada tabung itu, melihat gemas dengan bayi mungil yang masih merah dengan sebuah gelang berwarna merah muda.


Bayi menggemaskan itu seakan tidak ingin menampakkan wajah nya karena tangan mungilnya menutupi wajahnya sendiri, Devita dan Daniel berjalan bersamaan dan di susul dengan yang lainnya, menuju bayi penerus keluarga bangsawan itu.


''Selamat tuan besar, cucu anda sangatlah cantik.'' Ucap perawat tersebut.


Semua tersenyum bahagia, begitu juga Daniel karena dirinya tidak pernah menuntut soal jenis kelamin seperti kakek kebanyakan.


''Apa boleh ku gendong?'' tanya Devita yang tidak sabar membawa cucunya ke pelukan nya.


''Maaf Nyonya, karena suhu tubuhnya menurun, bayi ini akan segera di bawa keruangan khusus untuk beberapa saat. Anda dapat menyiapkan nama untuk cucu anda, kalau begitu saya permisi.'' Perawat pun berlalu melewati keluarga besar itu membawa bayi mungil yang sudah di pastikan kejayaan di kehidupannya itu.

__ADS_1


''David.. Anak mu sangat cantik, dia sangat mirip dengan ibunya.'' Ucap Devita pada anaknya yang masih terdiam di tempatnya.


''Zahla akan bahagia jika tahu kalau anaknya mirip dengan nya,'' gumam David.


__ADS_2