Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Menghindar


__ADS_3

Suasana semakin hening, dua anak manusia terduduk di bangku taman dengan kepala si wanita yang masih tersender di pundak di pria.


Sudah tiada lagi suara tangisan, yang ada hanya helaan nafas yang perlahan terdengar samar-samar seperti menyembunyikan rasa sesaknya.


''Zahla? apa yang terjadi?'' tanyanya dengan hati-hati namun tidak ada jawaban dari gadis yang saat ini menyenderkan kepalanya di bahu nya.


Dengan perlahan ia menoleh ke arah Zahla yang ternyata sudah tertidur pulas setelah meluapkan emosi dan tangisnya.


Senyum lembut tergambar di wajah tampan pria itu, dengan di susul helaan nafas yang ria buang ke udara.


'' Apa kamu benar-benar memiliki hubungan dengan nya,'' gumamnya dengan pandangan jauh ke depan danau berwarna hijau itu.


'' Aslan,'' lirih Zahla yang masih memejamkan matanya seakan enggan untuk melihat terangnya dunia yang kejam menurutnya.


Ya pria tampan itu adalah Aslan, teman satu kampusnya yang sudah dekat namun tiba-tiba ingin menjauh karena sebuah kenyataan kalau Zahla sudah ada yang mengincarnya tapi setelah melihat nya hari ini, Zahla yang tengah menderita karena perasaan, niatan untuk menjauh pun sirna.


'' Emmm,'' sahut Aslan.


'' Kenapa orang seperti ku selalu di pandang rendah?''


'' Siapa yang memandang mu rendah?''


'' Kenyataan,''


Aslan pun terdiam, ia tau saat ini Zahla hanya ingin di dengar curhatan nya bukan untuk mendengarkan sebuah nasihat, karena tidak semua orang yang menceritakan permasalahan meminta untuk sebuah saran, dengar dan simak lah baik-baik, itulah yang di namakan pendengar yang baik.


'' Orang tua ku membuang ku di sebuah panti, sebelum aku merasakan kasih sayang dan juga perhatian dari mereka, dan di saat ada yang memberikan sebuah perhatian dan aku tidak mau berharap lebih tapi pikiran dan perasaan ku tidaklah sejalan.''


'' Mestinya aku tau itu adalah sebuah perhatian karena iba bukan perhatian karena rasa,'' lanjutnya yang lalu menyeka sisah air matanya.


'' Sekarang aku paham arti takdir ku,'' Zahla menegakkan tubuhnya dan berusaha memunculkan senyuman khasnya.


'' Oh ya, kenapa kamu ada disini?''


'' Aku baru saja menemui kakak ku,''


'' Kakak?''


'' Ya, dia bekerja di perusahaan itu,'' tunjuknya pada sebuah gedung yang ada di sebrang taman yang saat ini mereka berada.


'' DGC maksud mu?''

__ADS_1


''He'em''


''Oouh itu juga tempat kerja ku, aku sebagai office girl disana,''


'' Oh ya? kebetulan sekali ya,''


Merekapun terus berbincang, dengan Aslan yang berusaha mengalihkan perhatian Zahla, agar melupakan kesedihannya yang perlahan sirna karena terhanyut dalam candaan dari pria yang semula dingin itu.


***


Dua hari berlalu, semenjak kejadian dimana Zahla melihat adegan mesra David dan seorang model itu, Zahla sudah bersikap lebih tenang.


Ia hanya menyibukkan dirinya dalam bekerja dan berkuliah, ia tidak ingin lagi merasa bodoh hanya karena terbawa perasaan yang tidak pantas ia dapatkan dari seorang saudagar kaya seperti Tuan Bos nya itu.


Zahla juga seperti menghindari kontak langsung dengan David dan David pun merasakan itu, setiap kali ia memanggil seorang office girl ke ruangan hanya untuk sekedar memerintah karena berharap Zahla yang datang namun ternyata bukan.


David mengingat betul permintaan Zahla waktu itu, ia tidak ingin terlihat dekat dengan nya dan menimbulkan fitnah di lingkungan kantor tapi karena sudah tida tahan lagi karena Zahla yang mengindari nya belakang ini.


David mengambil langkah panjangnya ke arah Pantry, menimbulkan ketegangan di ruangan sempit itu, semua menunduk hormat dengan kaki yang bergetar karena tidak biasanya bos besar menginjakkan kakinya ke Pantry.


Mata David menatap satu persatu office girl mencari keberadaan Zahla, namun yang di carinya ternyata tidak ada di sana.


'' Semua hadir, Tuan'' sahut salasatu di antara mereka.


'' Lalu dimana Zahla?''


Pekerjaan pantry pun saling melirik satu sama lain, dan memberanikan dirinya untuk menjawab pertanyaan David dengan mengangkat kepalanya.


'' Zahla tidak lagi bekerja di Pantry ini Tuan, ia di pindahkan di bagian lantai tiga''


'' Kenapa?''


'' Kami tidak tau Tuan''


'' Ya sudah lanjutkan pekerjaan kalian,'' David pun berlalu pergi menuju sebuah ruangan yang bertanggung jawab atas kinerja para karyawan di bagian kebersihan.


Tiada mengetuk maupun tidak ada kata permisi, David masuk ke ruangan itu dengan seenaknya dan tentunya membuat seorang wanita yang bekerja sebagai HRD itu pun terjingkat kaget.


'' Tuan David? selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu.'' Ucapnya dengan posisi tubuh yang sigap.


'' Kenapa kau memindahkan seorang office girl yang bekerja di Pantry ke lantai tiga tanpa persetujuan saya?''

__ADS_1


'' Maaf Tuan, apa yang di maksud anda adalah Zahla Putri?''


'' Hemm, siapa lagi,''


'' Maaf Tuan, dia sendiri yang meminta di pindahkan karena memang di bagian Pantry sudah cukup orang,''


'' Kau bekerja untuk siapa? dia atau saya!'' tegas David yang langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


Helaan nafas lega keluar dari mulut wanita dewasa itu, ia tahu bos besarnya itu sedang marah karena tindakannya, ia pun pasrah dengan apa yang akan dia hadapi selanjutnya, antara pecat dan potong gaji.


Braaakkkk


David menggebrak meja kerjanya, meluapkan emosi nya karena tidak lagi berhasil bertemu dengan Zahla, nomor ponselnya pun tidak kunjung aktif saat ia hubungi.


'' Kenapa kamu sampai semarah ini padaku, Zahla,'' lirihnya dengan tangan yang mengusap kasar wajah dan rambutnya.


'' Kamu salah paham-'' David terdiam ia menyadari sesuatu lalu bibirnya terangkat membentuk bulan sabit.


'' Apa Zahla tengah cemburu padaku? berarti itu tandanya dia menyukai ku? Heeehhhh ternyata selama ini dia menyukai ku,'' gumamnya dengan wajah sombongnya.


Rasa kesal yang baru saja hinggap, lenyap begitu saja dalam sekejap karena menyadari sesuatu dibalik sikap Zahla belakangan ini yang menghindari nya semenjak melihat adegannya bersama Tiara waktu itu.


'' Baiklah, aku akan mendatanginya nanti malam di apartemen, aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,''


'' Pesona ku ternyata membuat dia tergila-gila,'' kekeh nya dengan tangan yang terus saja mengusap dagu yang berbulu tipis itu.


Jam pulang kantor pun tiba, Zahla bersiap-siap untuk pulang dengan berjalan bersama teman satu profesi nya.


'' Aku duluan ya, La,'' seru seorang wanita sebayanya.


'' Iya, hati-hati.'' Zahla memperhatikan temannya yang sudah naik ke sebuah sepeda motor yang di kendarai seseorang itu, lalu ia berjalan menuju halte bus yang ada di depan kawasan kantor.


Dengan mata yang terus memandang ke jalanan dari balik jendela bus yang saat ini ia tumpangi tidak terasa ternyata ia telah sampai di halte apartemen tempat ia tinggali.


'' Haaahh lelahnya, aku akan segera mandi dan langsung tidur, hari ini cukup menguras tenaga.'' Gumamnya yang sudah membuka pintu unit apartemen nya.


'' Besok tidak ada kelas, berarti ada kesempatan ku untuk mencari tempat tinggal baru,'' lanjutnya dengan sembari melepaskan sepatunya dan manaruh nya di rak dan menggantinya dengan sendal jepit.


'' Tempat tinggal baru?'' tanya seseorang yang sudah berdiri dengan tangan yang di lipat di atas perut.


'' kyaaaaa!! Kau! sejak kapan anda ada disini?'' tanya Zahla setelah berteriak karena terkejut.

__ADS_1


__ADS_2