
'' Zahla?'' David menjauhkan ponselnya dari telinga.
Untuk memastikan kalau telponnya masih tersambung dengan Zahla.
Hanya ada suara helaan nafas yang teratur yang David dengar dari sebrang sana, beberapa kali David memanggil Zahla tapi tidak ada jawaban sama sekali di sana.
David pun memutus sambungan telepon dan bergegas pergi dari kantor untuk melihat keadaan Zahla yang ia cemaskan tanpa sebab itu.
Mengemudi dengan kecepatan tinggi tidak sama sekali ia sadari, yang ada di pikirannya hanya ada nama Zahla yang harus ia pastikan keadaan nya.
'' Apa dia sakit? apa dia jatuh pingsan?'' David terus berspekulasi sendiri tentang keadaan Zahla saat ini.
Beberapa saat kemudian mobil David pun telah terparkir apik di lobby apartemen dan ia pun segera menuju lantai 12 dimana memang unit apartemen Zahla berada.
Tidak mempedulikan sapaan para penjaga dan sapaan orang-orang yang mengenalnya, ia berlarian ke arah lift khusus petinggi yang sudah terbuka karena penjaga yang sigap menekan tombol nya untuk David.
''Zahla!'' teriak David setelah berhasil memasuki unit apartemen Zahla, ia mengambil langkah panjangnya menuju kamar Zahla yang harus melewati anak tangga dengan wajah khawatirnya ia membuka paksa kamar Zahla dan matanya langsung tertuju ke arah ranjang dimana Zahla tertidur pulas di sana.
'' Astaga! bocah itu ternyata hanya tertidur dengan enaknya. Ck, puas kau ya membuat aku cemas.'' Gumam David yang merasa geram dengan tingkah Zahla.
Dengan langkah yang perlahan, David menuju ranjang Zahla, ia terus memperhatikan wajah manis Zahla yang sedang tertidur dengan lelap nya, posisi meringkuk bak bayi yang menggemaskan membuat David terkekeh geli melihat nya.
'' Bisa-bisanya dia pulas di saat telponnya masih tersambung,'' gumamnya.
'' Dia manis juga ya,''
David meraih selimut dan menyelimuti sebagian tubuh Zahla dengan kelembutan yang ada pada dirinya, bibinya terus melengkung di kala matanya tertuju pada wajah manis Zahla.
Tapi sesaat kemudian dengan gelengan kepala yang cepat, David menjauhkan dirinya dari ranjang Zahla dan kembali bergumam mengoreksi ucapannya barusan.
__ADS_1
'' Hissshhh, apa yang ku katakan tadi? manis? apanya yang manis, menyebalkan iya!'' David pun berlalu pergi dari unit apartemen Zahla dan menuju unit kamar apartemennya yang berada di satu lantai dengan unit Zahla.
Setelah membersihkan dirinya, ia bersantai di apartemennya. David mengangkat secangkir gelas kopi yang ia buat sendiri dan menyesap si hitam pait itu yang masih mengepulkan asap tipis. Sambil memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang menyambut nya dari tirai kaca jendela yang baru saja ia buka.
Butiran air hujan yang turun secara perlahan menambah kesan indah di malam yang penuh gemerlap lampu-lampu dari gedung-gedung juga kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.
Tiara, satu nama yang tiba-tiba terucap tanpa sengaja dari bibir tebal David, nama gadis yang dulu pernah menghuni hatinya, nama yang pernah membuat nya jatuh akan pesona seorang gadis yang cantik juga elegan di mata David.
Namun dengan suatu ketika dimana semuanya telah lenyap dari pandangannya dalam satu kejadian, membuat David terpuruk dalam waktu yang lama membuat ia depresi juga mengalami trauma yang mendalam karena nya.
David meraih laci yang ada di sana, mengambil sesuatu dari dalamnya yang ternyata adalah sebuah potret nya bersama gadis cantik itu, potret dimana keduanya sedang di mabuk asmara dengan senyum riang dari wajah keduanya.
'' Ra, apa kamu bahagia sekarang? maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu,'' matanya menatap langit yang berwarna biru tua itu, langit tanpa cahaya bintang, langit yang saat ini sedang menuruni air-air nya ke bumi.
Langit yang gelap itu terlukis jelas wajah cantik gadis yang bernama Tiara, wajah itu tersenyum ke arahnya namun sesaat kemudian wajah itu tiba-tiba berubah menjadi wajah Zahla yang menatapnya dengan tatapan sayu nya.
'' Astaga! aku sudah benar-benar gila karena terbiasa bersamanya,'' semburnya dengan tangan yang mengibaskan ke udara.
Zahla yang terburu-buru memakai pakaiannya karena bangunannya yang kesiangan membuat nya lupa memakai mantelnya, ia berlarian ke arah jalanan mencari angkutan umum yang dapat ia tumpangi untuk menuju kampusnya.
'' Astaga Tuhan! baru hari kedua ku masuk kuliah, jangan sampai meninggalkan kesan buruk karena terlambat,'' mata Zahla terus melirik pada arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya.
'' Taxi!!'' teriak Zahla memanggil taxi yang melewatinya begitu saja.
'' Aahh sial, dia tidak mau berhenti,'' Zahla semakin cemas dibuatnya dan tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang baru saja keluar dari pengisian bahan bakar dan menghentikan laju sepeda motornya di sebuah minimarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Zahla berdiri saat ini.
'' Dia kan?'' gumamnya berusaha mengingat seseorang itu yang entah dilihatnya dimana.
'' Ya! dia pria yang menabrak ku di kelas kemarin,'' dengan berlarian Zahla menuju minimarket dimana pria yang di kenalnya teman sekelasnya itu berada.
__ADS_1
Dengan nafas yang tersengal-sengal Zahla menyenderkan punggungnya di badan sepeda motor orang itu. '' Haaahhh rupanya aku harus banyak-banyak berolahraga, berlari sebentar saja nafas ku seperti sedang di tarik malaikat pencabut nyawa.'' Gumamnya yang masih tersengal-sengal.
'' Sedang apa kau bersender di kendaraan ku,'' ketus pemilik sepeda motor itu.
Zahla yang sedang mengatur nafasnya sedikit terjingkat kaget karena mendengar suara berbarinton dari arah belakangnya.
'' Astaga! kau mengejutkan aku!'' sembur Zahla dengan nada yang meninggi.
'' Minggir dari sana,'' unsirnya.
'' Emmm begini, aku telat bangun pagi ini,''
'' Aku tidak peduli,'' potongnya.
'' Aku meminta bantuan mu ya, bolehkan aku menumpang sampai kampus, please..'' Zahla mengatupkan kedua tangannya memohon agar pria itu mau membantunya.
Mata pria itu memicing tajam ke arah Zahla, ia tidak menjawab maupun menolaknya, ia hanya mendorong tubuh Zahla dengan pelan dan menaiki sepeda motornya lalu menggunakan kembali pelindung kepalanya.
Zahla yang merasa permintaan tolong nya telah di abaikan hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah, ia memundurkan langkahnya dan berbalik untuk pergi dari sana namun tiba-tiba suara pria itu terdengar kembali.
'' Kau mau ikut atau aku tinggal,'' cetusnya membuat Zahla segera berbalik badan dengan wajah yang penuh harapan.
'' Kau mau memberikan aku tumpangan?'' Zahla memastikannya.
'' Apa kau menunggu aku berubah pikiran,''
'' Ooh tentu tidak, terima kasih tampan.'' Dengan cepat Zahla segera menaiki sepeda motor bagian belakang dan merapikan pakaiannya agar merasa nyaman duduk di sana.
'' Ini pakai, Jagan sampai aku terkena masalah hanya karena mu,'' pria itu memberikan pelindung kepala pada Zahla agar mentaati peraturan lalu lintas untuk memakai pelindung kepala di saat menggunakan sepeda motor.
__ADS_1
'' Oh ya, terimakasih sekali lagi,'' merekapun berlalu dari sana tanpa ada obrolan sedikit pun di sepanjang perjalanan.