Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Gugup menjelang Hari H


__ADS_3

Malam kian larut, keheningan melanda sebuah kamar yang di buat gelap oleh pemiliknya, siapa lagi kalau bukan David sang calon mempelai pria yang besok akan berganti status menjadi suami dari Zahla putri, gadis pilihan nya sendiri.


Tubuh kekarnya yang di balut oleh baju tipis dan celana pendek itu hanya berguling ke kiri dan ke kanan mencari kenyamanan pada kasur empuk dan besar nya itu, ya malam memang sudah semakin larut bahkan sebentar lagi akan memasuki waktu dini hari tapi mata hazel pria 27 tahun itu tetap tidak mau tertutup untuk di bawa ke alam mimpinya.


Astaga, entahlah, ada apa dengan David malam itu, sehingga ia tidak dapat tidur dengan nyenyak, entah karena gugup akan melewati serangkaian acara pernikahan atau memang sudah tidak sabar mempersunting gadis manis yang semula ia kenal dan sebut dengan sebutan gadis berkulit gelap itu.


Posisinya kian berubah, saat ini ia menelungkup dengan tangan yang menjulur ke lampu tidur, dengan usil ia menyalakan dan mematikan lampu tidur itu dengan bergantian berharap kegiatannya membuat nya mengantuk dan tertidur, tapi harapannya tetaplah tidak terjadi. Matanya tetap kering bahkan rasa kantuk itu tidak sama sekali ia rasakan.


David menghela nafasnya dengan kasar dan lagi-lagi berganti posisi yang saat ini ia sudah duduk dengan tubuh ia senderkan di senderan ranjangnya.


''Haaahhhh,, kenapa aku bisa segugup ini. Ayolah David, kau ini pria tangguh! kenapa hanya untuk mempersunting gadis saja kau bisa segugup ini.'' Gumam nya dengan gemas pada dirinya sendiri.


''Aku tidak mau terlambat bangun, atau aku tidak perlu tidur. Aaahhhh,,, kalau aku tidak tidur kantung mata ku pasti akan terlihat, aku tidak mau di hari spesial nanti penampilan ku tidak maximal.'' Lanjutnya, perang batin David berlangsung cukup lama. Dan bukan hanya gugup sebenarnya yang ia rasakan, ia juga merasakan kerinduan pada gadis nya itu, beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor Zahla belakangan hari ini tapi entahlah apa yang sebenarnya terjadi, saat ia menghubungi nomor Zahla hanya ada sahutan dari operator seluler.


Ada kecemasan pada diri David, bahkan ia kerap berniat akan mengecek sendiri keadaan Zahla tapi tentu sang Mommy melarangnya. ''Tenang saja, Zahla baik-baik saja, baru saja Mommy berbicara dengannya di telpon.'' Ya hanya itu jawaban dari Devita setiap kali David mengatakan kalau nomor Zahla tidak bisa ia hubungi.


''Apa ini semua Mommy yang melakukannya, nomor ku di blokir dari kontak Zahla. Oh astaga ternyata aku memiliki ibu yang licik.'' Ujarnya dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


Ya memang ini semua Devita yang melakukannya, Devita meminta Zahla untuk memblokir sementara nomor David, agar mereka tidak saling terhubung untuk sementara waktu ini, karena kalau ia meminta David memblokir nomor Zahla, tentu David akan menolaknya mentah-mentah.


***


Jam sudah menunjuk pada jam Lima pagi, Zahla yang sudah di terbangun dari tidurnya dan mandi untuk bersiap-siap karena akan ada beberapa orang suruhan Devita, si nyonya besar calon mertuanya, yang datang untuk meriasnya.


''La.. Kau sudah bangun?'' terdengar suara dari balik pintu, yang di yakini itu adalah Kevin.


''Iya kak! aku sudah bangun!'' teriak Zahla menyahuti ucapan Kevin, kakak sepupu nya.


Kevin menyusuri koridor yang akan membawanya ke sebuah ruangan khusus dimana terdapat potret-potret mendiang ibu dari Zahla, matanya berkaca-kaca mengingat kebaikan dari Nadia, bibinya sekaligus ibu kandung dari Zahla.


''Bi, apa kau tau, hari ini anak gadis mu akan di pinang oleh pria pilihan nya. Dan kau tidak perlu khawatir oleh pria pilihan putri mu itu, dia pria baik dan bertanggung jawab, dan yang membuat ku terharu adalah, aku akan menjadi walinya di hari spesialnya nanti.'' Ujar Kevin dengan mata yang terfokus pada sebuah potret berukuran besar yang berfigura indah, yang menempel rapih di dinding.


''Terima kasih Bi, sudah memberikan ku kesempatan untuk menjaganya. Dan selanjutnya akan ada suaminya yang akan menjaganya lebih baik dari ku.'' Lanjutnya yang setelah menyeka air matanya lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali menguncinya dengan rapih dan apik.


Di kamar mempelai wanita, Zahla yang sudah cantik dengan ber-make up natural sesuai permintaan ya namun tidak meninggalkan kesan cantik dan elegan nya di tambah gaun putih yang sudah membalut tubuh rampingnya itu, menambah keanggunan gadis 23 tahun itu. Ya saat ini ia tengah memperhatikan penampilannya di depan cermin besar, beberapa kali ini berputar karena merasa kagum dengan gaun pilihan calon mertuanya itu yang di buat sendiri oleh Dinar bibi dari David.

__ADS_1


''Nona sudah cantik, terlebih dengan penampilan seperti ini, tuan muda pasti akan terpesona.'' Ucap wanita yang membantu meriasnya itu.


''Benarkah? bukan karena gaun ini aku terlihat berbeda?'' tanya Zahla yang tidak yakin dengan pujian wanita itu.


''Sungguh nona, nona memang sudah cantik sebelum di rias pun.'' Jawab cepat wanita itu.


''Ya Nona, dia benar.'' Sela yang lainnya.


Bibir Zahla tersenyum sehingga membuat kecantikan Zahla bertambah terlebih lagi ada gingsul serta lobang kecil pada pipinya yang menambah kecantikan gadis itu.


''Apa dia benar-benar aku?'' Zahla terus bergumam pada dirinya yang ada di cermin sana, ia bahkan tidak pernah memimpikan akan memakai gaun semewah dan semahal itu, bahkan untuk bersanding dengan pria terpandang seperti David. Ya tidak sama sekali tersirat bahkan sedikitpun. Tapi entahlah bagai hidup di dunia dongeng, gadis Upik abu yang besar di panti saat ini sudah berubah menjadi gadis beruntung karena akan bersanding dengan pria anak pengusaha sukses yang di kenal banyak orang.


''Tuhan, aku tidak menyangka atas kehendak mu, aku pikir kau sangat kejam pada kehidupan ku, tapi ternyata kau memiliki rencana lain dari kehidupan pahit ku dulu.'' Gumam Zahla dalam hatinya.


Hanya menunggu beberapa jam lagi ia akan berganti status menjadi seorang istri dan seorang menantu dari orang yang terpandang, tapi bukan itu yang ia banggakan, ia tidak sama sekali melihat sosial dan materi, ia hanya mengharap kebahagiaan yang ia idam-idamkan.


Mengingat kekelaman kehidupannya, dari menjadi gadis pengantar koran, penjual kue keliling sampai menjadi office girl di perusahaan yang ternyata di sanalah tempat bertemunya ia dengan jodohnya. Zahla mengingat satu persatu perjalanan hidupnya, perjuangan nya untuk mendapatkan pundi-pundi uang untuk biaya sekolah dirinya sendiri, ia bertekad tidak akan melupakan itu semua, biar itu akan menjadi cerita untuk anaknya kelak jika memang Tuhan mentakdirkan dirinya menjadi seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2