Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Aku Bodoh!!


__ADS_3

Suasana hening itu terjadi cukup lama, Zahla yang hanya diam tanpa ingin menatap langsung mata David yang sedari tadi menghunus tajam ke arahnya karena mendapatkan penolakan dari Zahla untuk ikut dengannya.


''Kenapa?'' tanya David dengan dingin, namun Zahla tetap diam, Zahla berbalik membelakangi David dan memejamkan matanya sejenak menetralkan emosi yang ada pada dirinya agar dapat terkontrol dengan baik.


''Zahla?'' tidak ada sahutan lagi.


''Apa yang membuat mu kesini? bukankah aku melarang mu untuk beristirahat di apartemen,'' namun kali ini David mendengar helaan nafas Zahla yang berat.


''Kenapa? saya hanya berniat untuk memberikan makanan siang untuk anda, sebagai bentuk rasa terima kasih atas perhatian anda untuk saya, tapi maaf kalau kedatangan saya membuat anda merasa terganggu.'' Jawab Zahla dengan menggunakan bahasa formal nya tidak seperti biasanya bahkan ini lebih-lebih dari sebelumnya.


Alis mata tebal milik David mengkerut sempurna, ia merasa heran dengan kata perkata yang Zahla lontarkan, ada apa dengan cara bicara Zahla? kenapa berubah seperti itu? itulah yang ada di pikiran David.


'' Dia Tiara, dia adalah orang yang pernah hadir di kehidupan ku, dia hanya sebuah kenangan-''


''Saya tidak peduli siapa dia? apa hak saya untuk tau siapa dia untuk anda,'' potong Zahla yang tidak ingin mendengarkan penjelasan David sedikit pun.


Saat David akan menjawab ucapan Zahla, seseorang memanggilnya dari belakangnya dan membuat David mengurungkan niatnya untuk membuka mulutnya.


'' Maaf Tuan David,''


'' Ya, katakan,''


'' Tuan besar Mahendra datang dan sedang menunggu anda,''


David membuang nafas nya ke udara dan menjawabnya hanya dengan deheman juga anggukan dari kepalanya sehingga membuat seseorang itupun pergi setelah mengerti arti dari anggukan kepala David.


''Zahla-?'' saat David berbalik ingin mengatakan sesuatu pada Zahla, ternyata Zahla sudah tidak ada di sana, entah kemana perginya gadis berkulit gelap itu.


Mata David memerah menahan amarah, tangannya pun terkepal erat namun sebisa mungkin ia menahan diri nya untuk tidak melampiaskan nya pada siapapun saat ini karena dia juga harus segera menemui Kakek nya yang datang ke kantornya.


David melangkah menuju ruangan nya, yang dia harap sudah tidak ada Tiara di sana, dan benar saja setelah ia membuka pintu berbahan material kaca itu hanya ada seorang pria tua yang duduk dengan seseorang yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


'' Opah? ada perlu apa opah datang ke kantor ku?'' tanya David tanpa basa-basi.


'' Apa aku harus membuat janji terlebih dahulu hanya untuk menemui cucuku?''


'' Ya,ya. Ada apa?''


'' Berhati-hatilah,'' celetuk Mahendra dengan tiba-tiba yang pasti membuat David keheranan.


'' Maksud mu?''


'' Jangan mudah percaya pada orang-orang yang ada di sekitar mu, Opah hanya memperingati mu agar tidak membuat mu menyesal pada akhirnya.'' David semakin dibuat bingung dengan apa yang di katakan Kakek nya itu.


'' Apa Opah menaruh orang kepercayaan mu di sini?''


'' Bisa di bilang seperti itu, tapi kau tenang saja dia hanya bertugas untuk memantau orang-orang yang tidak pantas berada di dekat mu.''


David terdiam, dengan pikiran yang entah kemana, ia berpikir siapa yang di maksud kakeknya itu? pikirannya juga terbagi dua, antara apa yang di katakan kakeknya dan kemana Zahla pergi?.


'' Itu tidak akan terjadi,'' celetuk David dengan dinginnya.


Mahendra pun berlalu pergi meninggalkan David di ruangannya. '' Kenapa dia menjadi seorang Ayah nya yang arogan itu, andai dulu aku tidak memberikan restu ku, modelan cucu ku tidak akan semirip Daniel.'' Gerutu Mahendra di sepanjang langkah lamban nya.


***


Di sisi lain, seorang gadis sedang duduk termenung di sebuah kursi bercat putih di tengahnya taman yang sepi juga menghadap danau yang luas berwarna hijau muda itu.


Ia duduk dengan tangan yang saling meremas, dia bingung kenapa dan ada apa dengan dirinya, kenapa saat matanya melihat seorang pria yang belakangan ini menunjukkan perhatian padanya ternyata dekat dengan seseorang membuat dadanya terasa sesak.


Bahkan dia sendiri yang mengatakan kalau dirinya tidak sama sekali ingin membawa perasaan yang pria itu telah tunjukkan, tapi kenapa seakan perkataan nya berbalik arah ke arah yang lain.


Suara petir terdengar seperti alarm memberitahukan gadis manis itu bahwa akan ada hujan badai yang akan turun membasahi bumi.

__ADS_1


Zahla, ya gadis manis itu Zahla. Zahla tersenyum kecut memandang langit yang menggelap, bahkan alam pun turut serta merasakan apa yang saat ini ia rasakan.


'' Hei langit! ada apa dengan dirimu? kenapa langit yang semula terang tiba-tiba memunculkan awan gelap itu?'' Ucapnya pada langit yang gelap itu.


''Apa kau berniat untuk meledek ku. Ck, gadis tidak tau diri seperti ku bahkan telah mengharapkan lebih dari mimpi nya.'' Lanjutnya, entah kenapa perkataan yang dia sendiri ucapkan mampu membuat lelehan air mata itu kembali menetes.


Zahla berdiri dan mencari sesuatu di sekitarnya dan tangannya mengambil sebuah batu krikil dan ia lemparkan ke arah langit yang gelap itu.


'' Ada apa dengan takdir ku!! aah bukan takdir tapi apa salah ku!!'' teriak nya dengan tangan yang terus melemparkan batu-batu krikil ke arah langit dan berakhir jatuh ke danau yang ada di depannya.


'' Dari awal aku tidak ingin menaruh harapan lebih pada perhatian dia, tapi kenapa perasaan ku turut egois!'' teriaknya lagi.


Emosinya ia keluarkan melalui batu-batu yang di lemparnya, hingga saatnya dadanya tidak lagi bisa menahan sesaknya dan pecahlah sudah pertahanan tangis nya yang sedari tadi di tahannya.


hiks..hiks..


tangisan Zahla terdengar lirih, memanglah perasaan wanita sangatlah rapuh, terkadang ia berniat untuk tidak terbawa perasaan saat mendapat perhatian lebih dari seseorang namun hati tetaplah hati yang sangat mudah luluh dengan apa yang di rasakannya.


''Shit! bodoh! dungu! ya aku sangat bodoh!'' makinya di tengah-tengah tangisnya.


'' Dengan sikap dia seperti itu padaku, mungkin saja hanya karena kasihan, tidak lebih. Zahla bodoh!'' Zahla terus memaki dirinya sendiri, ia merasa bodoh karena hatinya tidak selaras dengan pikiran nya.


Ingatan nya berputar ke belakang pada saat David menunjukkan perhatiannya, pada saat David meletakkan kepalanya di pangkuannya dan kenangan-kenangan lainnya yang bahkan semakin membuat nya sulit menganggap kalau sikap David terhadapnya hanya didasari oleh rasa kasihan.


'' Zahla?'' panggil seseorang dari balik tubuh nya yang berdiri sejak tadi memperhatikan nya.


Zahla menoleh dengan perlahan dan dia berlari ke arah seseorang itu dan langsung memeluknya dengan di barengi tangisannya.


Seorang pria yang tampan yang saat ini sedang membalas pelukan Zahla merasa iba dengan apa yang telah ia dengar, dengan elusan tangan yang terus naik turun di kepalanya membuat Zahla sedikit demi sedikit merasa tenang.


'' Menangislah, aku siap untuk mendengarkan nya,'' ucapnya, dan Zahla pun kembali menumpahkan tangisan nya lagi.

__ADS_1


__ADS_2