
Di Negara lain, seorang gadis yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya di pembaringan nyamannya terpaksa harus bangkit lagi karena sebuah deringan di ponsel nya, dengan malas-malasan ia meraih gawainya yang ia letakan di atas meja riasnya.
Di lihat sebuah nomor yang tidak terdaftar di kontaknya, saat dia akan menggeser icon hijau, ia mengurungkan niatnya karena merasa tidak asing lagi dengan nomor tersebut. 910, tiga nomor terakhir yang sangat ia ingat adalah nomor seseorang yang telah membuatnya ingin pergi dari negara kelahirannya dan menjauh dari semuanya.
Dengan cepat, gadis itu beralih menggeser icon yang berwarna merah, yang bertujuan untuk mematikan telpon masuk itu, sungguh sebenarnya ia sangat ingin bicara dengannya tapi hatinya masih belum siapa karena rasa sakit itu belum juga hilang dari ingatannya.
Tring' . Notifikasi pesan pun masuk, dengan tangan gemetar ia membuka aplikasi pesan dengan tidak yakin, apakah dia yang mengirimkan pesan? gumamnya dalam hati. Dan benar saja nomor itulah yang menghubungi nya.
'' Emily Carrollin !! angkaattt!!''
Itulah isi pesan dari nomor yang tadi menghubungi nya.
Sebuah pesan yang menandakan kalau sang penelpon marah padanya dan ingin telponnya segera ia angkat, namun dengan cueknya, gadis yang ternyata adalah Emily itu hanya mengabaikan pesan tersebut dengan menekan tombol back dari layar ponselnya.
'' Maaf, tapi untuk berbicara dengan mu, aku tidak berdaya,'' lirih Emily menakan dadanya yang seakan masih merasakan sakit karena ucapan Kevin tatkala mereka habis bercumbu mesra pada malam itu.
Tangannya berseluncur lagi pada layar ponselnya dan kembali membuka pesan yang memang dari pria yang ingin ia jauhi, yaitu Kevin Heinze. Menekan tanda mikrofon dan mendekatkan pada bibirnya lalu bicara.
''Maaf kak, aku sedang sibuk, kakak bisa bicara nanti. Oh ya maaf ya aku meninggalkan noda darah di sprei kakak, tangan ku waktu itu tidak sengaja tergores jam tangan kakak, tapi aku sudah baik-baik saja.''
Ucap Emily pada pesan voice note, Ya dia sedang berbohong, setelah mengatakan itupun ia kembali menangis, dia merasa sangat malu, dan bahkan untuk mengakuinya dan berkata jujur pada Kevin pun ia merasa tidak mampu. Apa masih ada harga diri lagi kalau nantinya ia berkata apa adanya pada Kevin? dia turut memikirkan itu.
.
__ADS_1
Kevin yang mendapatkan balasan pesan dengan sebuah pesan voice note, mendengarkan nya dengan baik-baik, tapi setelah mendengarkan, ia merasa heran, karena Emily yang mengatakan kalau tangannya berdarah karena terkena jam tangannya, bahkan malam itu ia tidak mengenakan jam tangan. Kevin semakin di buat kesal, niat baiknya tidak sama sekali di anggap Emily.
Ia sadar kalau dirinya bersalah, bahkan rasa bersalah itu terus menggelayut di dalam pikiran nya, berusaha mencari cara agar bisa tersambung dengan nya tapi setelah bisa menghubungi nya ia malah tidak mendapatkan sambutan yang baik, tapi Kevin bisa memakluminya karena mungkin Emily merasa malu.
'' Aku yang menodainya, tapi kenapa seakan-akan dia yang telah menodai ku, seharusnya ia datang untuk meminta pertanggungjawaban, bukan lari seperti pencuri!'' geram Kevin yang memukul kemudi mobil nya.
'' Sebenarnya apa yang membuat mu sampai seperti ini?'' lanjutnya, kembali memikirkan kenapa Emily seakan-akan melarikan diri bagaikan seorang buronan.
~
Matahari sudah menyongsong, Daniel yang tertidur dengan posisi duduk di sofa, mengerjap perlahan karena merasa silau dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk dari celah-celah gorden besar itu.
Mengangkat tangannya, melihat arloji branded yang melingkar di tangan nya, dan beranjak untuk melihat anaknya yang masih tertidur pulas, '' apa ancaman ku tidak kau anggap serius?'' ucap Daniel pada anak laki-lakinya.
Daniel menarik nafas dalam-dalam. Sungguh ia berkata seperti itu bukanlah serius, ia sengaja ingin memancing emosi pada anaknya, tapi apa usahanya sia-sia? Daniel menjauh dari ranjang anaknya untuk berdiri di depan jendela kamar inap David, matanya menatap jauh ke luar sana, ia juga merasakan kesedihan sama seperti Devita dan Zahla menantunya, tapi Daniel tetaplah Daniel, yang tidak ingin atau tidak bisa mengekspresikan diri nya pada orang lain, seperti kebanyakan orang.
Aku pastikan, kau menyesal dengan keputusan, mu!
Daniel tersentak, matanya terbelalak mendengar suara berat yang berasal dari belakangnya. Ia segera menoleh dan mencari asal suara tersebut, apa benar suara itu bersalah dari ranjang anaknya? tapi saat ia berjalan menghampiri anaknya, ternyata dugaannya benar! Ya David telah sadar dan saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
Daniel mengulumkan senyuman, menahan tawanya, tapi melihat ekspresi wajah dari David yang seakan menahan kesal padanya, itu membuat ia menyemburkan tawa kencang. '' Ha Ha Ha.. Rupanya kau terpancing juga.'' Ucap Daniel di sela-sela tawanya.
Tangannya bergerak dan menekan tombol khusus yang akan memanggil dokter dan para perawat, Daniel terus tertawa, merasa geli karena ternyata anaknya terpancing dengan ancaman palsunya.
__ADS_1
'' Rupanya kau sangat-sangat mencintai istri mu itu ya?''
'' Jangan macam-macam, Dad!'' ucap David dengan susah payah di balik tabung plastik yang menutupi hidung dan mulutnya.
'' Ya, ya. Tunggu dokter datang untuk memeriksa keadaan mu, baru kita akan bicarakan lagi.'' Dengan jahil Daniel melambaikan tangannya dan kembali duduk di sofa dengan menyilangkan kaki menunggu dokter datang.
Pintu terbuka beberapa suster dan satu orang dokter berdatangan, Daniel yang melihat mereka, hanya memberikan kode untuk memeriksa anaknya itu.
Setelah melihat anaknya di tangani, iapun segera menghubungi istrinya untuk memberitahu kabar baik itu.
Tak berselang lama, dokter menghampirinya dan memberikan selamat pada nya karena anaknya telah melewati masa komanya. '' Terima kasih, kalian telah bekerja keras.'' Ucap Daniel dengan wibawanya.
'' Ini sudah menjadi tugas kami, Tuan besar.'' Sahut dokter tersebut.
Di Mansion Carroll, Devita yang baru saja mendapatkan telpon dari suaminya, segera memberitahukan kepada menantunya yang di sambut tangis haru bahagia karena suaminya telah sadar dari komanya.
'' Mam, ayo kita ke rumah sakit!'' ajak Zahla dengan tidak sabar nya.
'' Ha ha hah...
Tawa Devita membuat Zahla terheran-heran.
'' Kau mau kerumah sakit dengan seperti ini, rambut yang acak-acakan, baju piyama dan sendal teplek?'' Zahla menatap dirinya di cermin, dan benar saja, ia juga baru paham dengan maksud tawa dari mertuanya.
__ADS_1
'' Berdandanlah yang cantik, agar suami mu yang baru saja bangun itu, menyesal karena meninggalkan mu cukup lama di alam mimpinya.''..