Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Jalan-jalan Sore


__ADS_3

Di Ruang TV apartemen, Zahla dan David sedang menonton bersama, David yang memang sedang tidak enak badan sedari tadi hanya merebahkan tubuhnya saja di atas karpet bulu yang ada di sana, dengan Zahla yang duduk dengan berselonjor kaki di samping tubuh David yang sedang rebahan santai itu.


Namun dengan posisi seperti itu sebenarnya membuat Zahla sediki tidak nyaman, karena posisi dia saat ini hanyalah sebagai bawahan dan David adalah bos besarnya.


Sekian kali Zahla terus melirik jam yang menempel di dinding, menanti kapan David akan pergi dari sana, bukan ia tidak tau diri, ia menyadari kalau dia hanya menumpang di apartemen itu dan David lah pemiliknya.


Tapi yang Zahla pikirkan alangkah tidak pantasnya jika ada seseorang dari perusahaan tau kalau mereka berada di sebuah tempat yang sama seperti itu akan menimbulkan fitnah kembali tentang mereka.


'' Kenapa?'' tanya David dengan mata yang tetap terfokus ke layar televisi.


Dengan cepat Zahla menoleh ke arah David dan memasang raut wajah bingungnya karena tiba-tiba David yang bertanya pada nya tanpa ada kata lainnya.


Hah?


'' Iya kenapa sedari tadi kau selalu melihat jam dinding?'' tanya David kembali dengan pertanyaan yang lebih signifikan.


Ada sedikit terkejut pada diri Zahla, karena sedari tadi kepalanya pun tidak sama sekali bergerak hanya bola matanya lah yang bergerak tapi kenapa David bisa tau pergerakan kecil dari bola matanya itu.


'' Apa kau tidak nyaman dengan keberadaan ku?'' tanya David kembali.


'' Tidak. Eemmm bukan begitu,'' jawab Zahla dengan gugup.


Zahla bingung untuk menjawab apa atas pertanyaan David, karena tebakan David benar adanya.


'' Lalu?''


'' Emmm a-aku hanya bosan berada di sini,'' jawab Zahla sekenanya karena hanya itulah jawaban yang terlintas di pikirannya.

__ADS_1


'' Apa yang kau lakukan pada bonus mu?'' tanya David lagi yang bahkan tidak sejalan dengan jawaban yang di lontarkan Zahla.


'' Hah? Oh tidak ada, bonus yang di berikan perusahaan masih utuh di tabungan ku,''


'' Apa kau tidak ingin membeli sesuatu dari hasil dedikasi mu?''


'' Beli sesuatu? apa?''


'' Ponsel?''


Zahla termenung sejenak di saat David menyingung tentang ponsel, ya karena memang seumur hidupnya dia mempunyai ponsel baru satu kali itupun sudah ia jual untuk biaya membuat lamaran pekerjaan dan sampai saat ini dia belum terpikirkan untuk kembali memiliki ponsel.


'' Ponsel? buat apa? bahkan tidak ada yang ingin tahu kabar ku kan,'' lirih Zahla, perasaan nya rapuh di kala mengingat siapa dia dan berasal dari mana ia, namun dengan mimik wajah palsunya yang selalu berpura-pura baik-baik saja membuat dia tegar menghadapi semuanya.


David mendengar ucapan yang menyimpan luka itu hanya bersikap biasa saja walau sebenarnya ada perasaan yang tidak tega mendengar nya.


'' Ponsel itu penting, bagaimana kalau aku membutuhkan tenaga mu di kala waktu genting, dan di setiap orang yang bekerja di perusahaan ku mengharuskan untuk memiliki nomor ponsel.''


'' Hem,, ya sudah kau bersiap-siaplah, aku tunggu di bawah, kita akan pergi membeli ponsel dari hasil bonus mu itu, dan aku juga akan meminta traktiran dari mu.'' Ucap David yang langsung beranjak dan berlalu keluar dari apartemen itu.


Kepergian David membuat Zahla terdiam, memikirkan apa yang di katakan bos nya itu, benar adanya atau tidak? namun setelah menyadari kata terkahir yang di ucapkan bosnya sebelum keluar dari apartemen Zahla pun berdecak kesal.


'' Ck, bisa-bisanya dia meminta traktiran pada ku, bahkan uang yang dia miliki mungkin tidak mempunya seri lagi,'' gerutu Zahla yang berlalu ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Hanya menggunakan pakaian sederhana dengan tas yang di sangkilnya juga flatshoes yang di kenakan nya Zahla berjalan dengan anggunnya di belakang David di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota nya.


David yang merasa heran karena Zahla tidak ingin berjalan di sampingnya seketika menghentikan langkahnya.

__ADS_1


'' Kenapa? apa kau malu berjalan dengan ku, apa penampilan ku tidak pantas untuk mu?'' tanya David dengan tatapan datar nya.


'' Bukan tuan bos, tapi saya takut ada karyawan kantor yang melihat kita pergi bersama.'' Lirih Zahla dengan menundukkan kepalanya.


'' Sudahlah. Ayo!'' ajak David dan kali ini tangannya menggandeng tangan Zahla dengan lembut nya dan berjalan santai walau banyak tatapan kecewa dari banyak orang yang menganggumi nya, karena tidak sedikit orang yang mengenal nya sebagai pewaris tunggal dari Daniel Carroll.


Zahla hanya ikut dengan rasa syoknya, di tambah nyinyiran orang-orang yang tidak sengaja di dengarnya.


'' Jangan kau dengar dan lihat mereka yang merasa iri dengan posisi mu, tapi lihat kedepan dengan kepala yang tegak,'' Celetuk David meyakinkan Zahla.


Tibalah mereka di sebuah toko ponsel terbesar di sana dan David pun segera memulihkan ponsel yang menurutnya bagus juga cocok untuk Zahla gunakan.


Zahla hanya menurut karena yang dia tahu David membeli ponsel itu juga memakai uang pribadi miliknya bukan milik David.


'' Kemarikan kartu mu,'' ucap David. dan Zahla pun memberikannya ke tangan David.


'' Kau tunggu di sana, biar aku yang mengurusnya,'' ucap David dan hanya di angguki oleh Zahla.


Beberapa saat kemudian David kembali dengan paper bag di tangannya dan langsung memberikannya pada Zahla, lanjut mereka menuju sebuah restoran yang terbilang mewah tapi saat mereka akan melangkah masuk Zahla seketika menghentikan langkahnya yang otomatis David pun sama menghentikan langkahnya juga.


'' Kenapa?'' tanya David dengan alis yang terangkat sebelah.


'' Uang tabungan ku sudah di belikan ponsel yang mungkin akan menghabiskan seperapat dari isinya, kalau harus makan di sini maka uang ku akan habis.'' Ucap Zahla dengan suara yang sedikit berbisik.


David tersenyum tipis mendengar ucapan Zahla dan tanpa mengatakan apapun lagi David langsung menarik tangan Zahla untuk segara masuk kesana.


'' Setelah dari sini cek saldo rekening mu, yakin saja tidak akan ada angka nol di awal angkanya,'' kekeh David menggoda Zahla yang sudah menekuk wajahnya dengan sendu.

__ADS_1


Dan benar saja lepas mereka makan dan David kembali mengatakan kalau Zahla harus menunggu nya di luar resto dan dia yang akan membayar nya dengan menggunakan kartu milik Zahla dan Zahla hanya mengangguk pasrah di buatnya.


'' Aku harus kembali menabung dari awal,'' gumamnya lagi dengan kepala yang tertunduk...


__ADS_2