
Ucapan dokter Veronica ternyata mempengaruhi pikiran Zahla yang semakin tenang karena ia ada sedikit harapan dari apa yang ia khawatirkan.
David yang sebelumnya melihat Zahla kerap melamun dan selalu khawatir, namun tidak untuk hari ini, pulang nya mereka dari dokter kandungan kenalannya Devan, Zahla seperti wanita yang paling bahagia, bibirnya terus tersenyum, tangannya terus saja mengelus perutnya yang masih rata.
David yang melihat nya pun semakin merasa bahagia, karena istrinya yang terus memancarkan aura kebahagiaan, terlebih lagi hanya menghitung bulan ia akan menjadi seorang ayah. Sungguh tidak terduga, pria yang semula tidak pernah memikirkan masa depannya, dan selalu foya-foya dan seenaknya, Kalak akan menjadi seorang ayah dari seorang wanita yang sangat ia cintai, Zahla putri.
Di sebuah ruangan dan terdapat buku-buku yang tersusun rapi, David melangkah semakin ke dalam nya, sebuah buku dengan isi yang tebal ia raih dan buka satu persatu lembaran buku tersebut.
Tepat di sisi sudut ruangan seseorang sedang duduk dengan membelakangi, David yang melihat tersenyum tipis dan semakin mendekat ke arah seseorang tersebut yang tak lain adalah Daddy nya sendiri. ''Dad?'' panggilnya namun tidak langsung mendapatkan sahutan.
Sebenarnya ada rasa terkejut anak semata wayangnya datang khusus mencarinya, karena semenjak David beranjak dewasa, hubungan mereka tidak sehangat sewaktu David masih kanak-kanak, David berubah drastis ketika usianya semakin besar dan Daniel bisa memakluminya karena anaknya cerminan dirinya sendiri, ya! Daniel melihat David seperti melihat dirinya ketika muda dulu.
David duduk di kursi yang tidak jauh dari Daddy nya, semula ia hanya diam karena David sendiri harus menetralkan rasa canggung nya terhadap Daddy nya. ''Dad?'' panggilnya lagi namun Daniel masih diam.
''Aku sungguh akan menjadi seorang ayah,'' suara David melemah, duduk dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang saling meremas, Daniel menoleh sedikit dan melihat anaknya yang duduk dengan punggung gemetar dan bisa di yakini kalau saat ini David, si pria yang selalu menunjukkan dirinya kuat pada orang lain sedang menangis, ya! menangis, menangis karena bahagia.
''Aku akan merasakan posisi Daddy,'' ucapnya lagi, bibir Daniel terangkat sedikit mendengar ocehan anaknya.
David, anak yang selalu dingin dan selalu membangkang saat ini sedang mengutarakan isi hatinya pada ayahnya? ya, mungkin inilah momen yang paling langka di sejarah hidup Daniel, karena anaknya saat ini sedang terisak haru di depannya.
''David.. Daddy ikut bahagia dengan kabar itu, Daddy ucapkan selamat untuk kalian'' ya, sedikit kaku memang, tapi memang hanya itu yang bisa Daniel ucapkan pada anaknya karena Daniel bukan tipekal ayah yang hangat.
''Tapi, jika suatu saat nanti ada sebuah kondisi yang memang membuat mu harus memilih di antara cinta dan kasih sayang, Daddy harap kau tidak egois.'' gumam Daniel dalam hatinya.
__ADS_1
''Terima kasih dad, berkat mu penting bagi kami,''
''Pergi, urus calon ibu itu. Jangan terlalu lama kau meninggalkan nya, karena saat-saat ini yang dia perlukan hanya dirimu, bukan Mommy mu.'' Ucap Daniel yang kembali bersikap dingin.
''Bahkan Mommy tidak membiarkan aku terus berada di dekatnya,'' jawab David dengan bergumam.
''Panggil Mommy mu, bilang padanya untuk menemui ku.'' Ucap Daniel lagi. David menghapus air mata yang menggenang dan berdiri dari duduknya lalu pergi dari sana tanpa berkata apapun lagi. Ya seperti itulah interaksi antara anak dan ayah yang memiliki sifat yang sama persis.
Di lain tempat tepatnya di meja makan, Zahla yang di minta Devita untuk duduk dan makan semua buah juga makanan yang di buat nya tidak bisa lagi menolak permintaan ibu mertuanya itu. Melihat mertuanya yang sangat bersemangat untuk mengurusnya membuat Zahla sedikit terenyuh walaupun perutnya sudah merasa tidak bisa lagi menampung makanan tapi Zahla tetap memakannya dengan alasan tidak tega menolaknya.
David yang baru datang atau bisa di bilang baru saja menemukan Zahla yang di cari nya di seluruh tempat merasa terkejut melihat berbagai macam buah dan makanan tertata di atas meja dengan Devita yang hanya bertopang dagu melihat menantunya yang sedang menyantapnya dengan wajah yang sudah memerah karena makan yang di makan nya.
''Mom??!'' panggil David sedikit berteriak karena terkejut melihat istrinya yang tersiksa karena makanan yang di siapkan Mommy nya.
Devita maupun Zahla menoleh secara bersamaan, Devita yang menatap kesal karena anak nya memangil nya dengan berteriak dan Zahla yang menoleh dan menatap David dengan tatapan seolah-olah meminta pertolongan untuk di bawa pergi dari sana.
''David!!? Zahla kan sedang makan buah, dia perlu asupan gizi yang lengkap dari buah-buahan ini.'' Ucap Devita yang sudah terlanjur kesal dengan anaknya.
''Aku tau Mom, tapi sebanyak ini? astaga,, secara tidak langsung Mommy sedang menyiksa istri dan anak ku secara perlahan,'' protes David.
Alis Devita mengernyit, matanya beralih melihat semua piring-piring yang ada di atas meja, ya tidak salah David berkata seperti itu, Devita pun baru menyadari kalau Zahla memang sudah terlalu banyak makan dan itu dirinya yang menyiapkan nya.
''Astaga,, maaf sayang.. Mommy salah,, ya mommy tidak sadar sudah menyiapkan ini semua,'' saut Devita dan David hanya menghela nafasnya dengan kesal karena ulah Mommy nya.
__ADS_1
''Ya sudah, Daddy mencari Mommy, di ruang baca.'' Ucap David dan Devita pun segera berlalu untuk menemui suaminya.
David hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakukan Mommy nya yang terlalu berlebihan pada istrinya. David melihat Zahla yang melihat kepergian mertuanya, ada tatapan lega karena terbebas dari mertuanya dan itu dapat terlihat jelas di mata David.
Ada senyum geli melihat istrinya yang seakan terbebas dari tawanan yang menahannya, tangannya bergerak merapihkan rambut Zahla yang menutupi pipi dan ia selipkan di belakang telinga.''Maafkan Mommy ya, hmmm?'' ucap David pada Zahla.
''Tidak apa-apa, Mommy seperti itu karena ingin mengurus ku dan calon cucunya.'' Jawab Zahla.
''Tapi jika seperti ini terus, bukan mengurus mu,'' sesaat keduanya terdia dan sepersekian detik keduanya tertawa bersama mengingat kelakuan Devita yang kerap membuat kegaduhan.
Devita yang mencari suaminya di ruang baca langsung menemui Daniel. ''Kau mencari ku?''
''Duduklah,''
''Ada apa?''
''Dari pada kau mengganggu kedua orang itu, lebih baik kau mengurus ku,''
''Apa maksud mu?''
''Kau sibuk memberi menantu mu makan, tapi lupa memberikan makan untuk suami mu.'' Ucapan Daniel membuat Devita bingung karena ia tidak pernah membiarkan Daniel kelaparan.
''Kau ingin makan lagi?ya sudah aku siapkan.'' Ucap Devita yang sudah akan beranjak namun di tahan Daniel.
__ADS_1
''Tidak perlu menyiapkan nya karena aku yang akan mengambil nya sendiri,'' ujar Daniel yang sudah memegang tangan Devita dan menariknya pelan agar Devita mendekat ke arahnya, melihat tatapan mata Daniel, Devita baru mengerti apa yang di maksud suaminya itu.
''Dasar otak mesum,'' gumam Devita.