
Dua hari telah berlalu dari semenjak kedatangan Devita, ibu dari David, untuk membicarakan tentang pernikahan juga keturunan, Zahla benar-benar berubah menjadi gadis yang pendiam juga selalu menyibukkan dirinya dengan apapun kegiatannya. Bahkan David pun merasa bahwa Zahla, gadisnya itu kerap menghindari nya di saat ia membahas soal pesta pernikahan yang akan mereka adakan.
Ya dua hari ini David selalu berusaha ingin menemui Zahla, namun Zahla selalu beralasan sibuk dengan tugas kampus juga pekerjaan kantornya, tapi tidak untuk hari ini, David tidak sama sekali menerima alasan apapun lagi, ia masuk begitu saja ke ruangan Zahla tanpa mengetuk dan menguncinya dari dalam agar siapapun orang dari luar tidak dapat mengganggu nya dengan Zahla.
Dengan langkah yang lebar, David menghampiri Zahla yang duduk di kursi kerjanya, Zahla yang tahu apa yang akan David lakukan juga tanyakan pada dirinya, hanya diam dengan mata yang menatap ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan sekali hentakan, David menarik tangan Zahla dan membawanya ke pelukannya, ya dengan cara itulah David bisa mengontrol emosi nya juga berharap akan membuat Zahla lebih tenang dan nyaman untuk mengatakan apapun yang saat ini tengah di sembunyikan nya dari dirinya.
''David, kau kenapa?'' tanya Zahla yang bahkan dia sendiri tahu kalau pertanyaan nya itu seharusnya untuk dirinya sendiri.
''Tidak mungkin kau tidak tahu kan?'' sahut David dengan nada yang menenangkan. ''Sayang, apa kau tidak mempercayai ku?'' tanyanya.
''Maksud mu?''
''Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari ku? semenjak Mommy datang hari itu, sikap mu kian berubah, ada apa? hmm?'' Zahla pun terdiam sesaat lalu beberapa menit kemudian terdengarlah suara isakan kecil dari Zahla yang tidak bisa lagi menahan kesedihannya di kala David benar-benar mempertanyakan nya dengan cara yang teramat lembut.
''Maaf,'' ya hanya itu yang keluar dari bibir mungil gadis 23 tahun itu.
''Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun, honey. Jangan membuat ku malu dengan kata maaf mu itu.''
''David?''
''Hmmm?''
''Sebenarnya-'' baru saja Zahla akan mengatakan sesuatu, ponsel Zahla yang ada di atas meja pun berbunyi, dan David yang posisinya menghadap ke meja langsung, tentu melihat nama si penelpon itu, matanya memicing karena nama wanita yang cukup ia kenal itulah yang sudah mengganggu mereka.
__ADS_1
Zahla yang berusaha melepaskan pelukan David tidak berhasil karena David menahannya, dengan tangan panjang dan kekarnya, David meraih ponsel milik Zahla dan menggeser icon warna hijau lalu menempelkan nya ke daun telinganya tanpa mengeluarkan suara apapun.
Terdengar suara yang membuat nya muak itu menyapa Zahla dengan ramah, entah tujuan David apa dia hanya mengangkat dan mendengarkan apa yang akan di katakan wanita itu pada Zahla lalu memutuskan sambungan nya setelah si penelpon mengakhiri ucapannya.
''Siapa yang menelpon?'' tanya Zahla yang masih di dekap David. Tanpa menjawab, David hanya memberikan senyuman tipis yang di dalamnya penuh dengan makna.
***
Di sebuah cafe, seorang pria tampan nan gagah baru saja menyelesaikan pertemuan nya dengan klien pentingnya, dengan menyusup kopi yang di pesannya ia menatap ke arah jalanan yang basah karena tetesan air hujan yang baru saja berhenti.
Tanpa permisi seseorang datang dan ikut duduk di depan nya dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan, dengan tatapan datar pria itu kembali menyusup kopinya dan menatap seseorang itu tanpa bertanya apapun.
''Kevin,,'' suara parau terdengar dari bibir yang di lapisi pewarna berwarna merah itu. Ya pria tampan nan gagah itu adalah Kevin, pemilik baru perusahaan yang di tinggali Paman jahatnya yang memang seharusnya milik Kevin dan Zahla pewaris sebenarnya.
''Apa benar, dia tidak akan lagi bisa menerima ku?'' tanyanya dengan kepala yang tertunduk.
Kevin yang mendengar pertanyaan itu, semula hanya menghela nafasnya dan menjawab seadanya.''Menurut- mu?''
''Aku selalu berharap kalau dia akan menerima ku lagi setelah gadis itu pergi dari nya,'' Kevin yang mendengar kelanjutan ucapan seseorang itu hanya tersenyum dengan menyunggingkan sebelah bibir nya saja.
''Ra, ketika kita melepaskan seseorang demi kebahagiaan nya, di sanalah ada rasa kepuasan yang nyata pada diri kita, akupun pernah merasakan nya.''
''Benarkah?''
''He'emm, aku pernah mempunyai hasrat untuk memiliki gadis yang berhasil membuat ku jatuh cinta, tapi ketika ku tahu dia bahagia bukan dengan ku, aku berusaha menerimanya, dan sekarang aku bahagia melihatnya bahagia.''
__ADS_1
''Apa aku bisa?''
''Siapapun bisa, asal ada kemauan.''
Keheningan terjadi sesaat pada dua orang itu, sebagian orang yang melintasi nya dan melihat nya akan beranggapan bahwa mereka adalah pasangan kekasih yang serasi tapi tidak untuk kenyataannya. Ya Kevin saat ini sedang bersama Tiara yang entah tahu dari mana kalau Kevin berada di sana.
Keheningan itu berlangsung cukup lama tanpa sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka dari sebrang jalan dengan tatapan sendunya. Kean ya pria yang selalu perduli pada Tiara, pria yang selalu berusaha memberikan kenyamanan pada Tiara, pria yang sering membantu Tiara karena berharap tindakan baiknya terbalaskan oleh perasaan dari wanita 28 tahun itu.
Hatinya merasa sakit ketika lagi-lagi ia harus melihat wanita yang di cintai nya bersama orang lain terlebih lagi, pada sahabat nya lagi.
''Apa kau tidak pernah melihat ku, Tiara.'' Gumamnya dengan suara pelan dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat dimana hatinya terasa teriris kembali.
Hari sudah menjelang malam, pasangan dua sejoli berjalan menyusuri koridor dan melewati para karyawan yang menyapanya dengan baik, mereka berniat untuk meninggalkan gedung perusahaan itu bersama-sama.
''Kau akan membawa ku kemana, David?'' tanya Zahla, ya mereka adalah Zahla dan David.
''Ke sebuah tempat,'' sahut nya, dengan manis David memperlakukan Zahla dengan membukakan pintu mobil dan memasangkan seatbelt dan melingkarinya untuk Zahla. Dan perlakuan itu tentu di saksikan langsung oleh seluruh karyawan perusahaan yang di pimpin sendiri oleh David.
''Tidak sangka ya, bos kita yang kita kenal pria sadis bisa bersikap manis seperti itu.'' Ucap salasatu karyawan yang turut menyaksikan sikap David terhadap Zahla.
Mobil berwarna hitam mengkilap itu, membelah jalanan yang sudah di sinari lampu-lampu yang menyorot langsung ke aspal untuk menerangi jalan. Zahla yang sudah hapal jalan menuju apartemen, rumah kediaman Carroll juga tempat-tempat biasa mereka kunjungi tentu merasa asing dengan jalanan yang saat ini mereka lewati.
''David, sebenarnya kita akan kemana?'' tanya Zahla sekali lagi.
''Ke tempat khusus yang bisa menyelesaikan kekhawatiran mu belakangan ini.'' Jawaban David tentu membuat Zahla tersentak, ia benar-benar terkejut dan menduga-duga bahwa selama ini sebenarnya David telah mengetahui apa yang tengah ia sembunyikan.
__ADS_1