Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Teman


__ADS_3

Di sebuah swalayan lebih tepatnya pusat Perbelanjaan, Zahla sedang memilah beberapa bahan pangan untuk dia ambil dan bawa pulang, kebetulan stok bahan pangan di apartemen sudah habis dan sepulangnya ia dari kantor David, ia langsung menuju swalayan yang letaknya memang tidaklah terlalu jauh.


Saat tangan mungilnya akan mengambil sebuah daging fillet yang dipajang di etalase khusus, ada tangan juga yang akan mengambil daging yang sama.''Ooh maaf,'' ucap Zahla melebarkan senyumnya ke orang yang ada di depannya.


''Oh tidak, aku yang minta maaf, silahkan,'' ujarnya memberikan kesempatan untuk Zahla mengambil daging tersebut.


''Terima kasih, tapi memang aku yang lebih dulu memegangnya.'' Sahut Zahla dengan di susul tawa renyahnya.


Zahla mengambilnya dan memasukkan nya ke troli belanja yang di bawanya, mata sayu orang itu menatap intens Zahla, dan tiba-tiba tangannya terulur ke depan mengajak Zahla berkenalan. ''Aku Marissa,'' ucap nya, Zahla tidak langsung menyambut tangan wanita itu, ia menatap heran ke arah wanita itu dan barulah setelah beberapa saat ia baru membalas jabatan tangan wanita yang bernama Marissa.


''Aku Zahla.''


''Nama yang cantik,''


''Terima kasih.''


Zahla bukan tipe orang yang cepat akrab, ia bersikap cuek pada orang yang baru saja di kenalnya terlebih lagi dengan orang asing seperti wanita itu, Zahla melangkah ke arah bagian dimana etalase memajang beberapa ikan lauk yang sudah di kemas. Tapi Zahla sedikit risih karena wanita itu terus membuntuti nya dan ikut mengambil apa yang di ambilnya.


''Apa kau tidak nyaman?'' tanya wanita yang bernama Marissa itu.


''Oh bukan, hanya sedikit canggung, kenapa kau membeli apa yang aku beli?''


''Tidak, mungkin hanya kebetulan saja.'' Zahla hanya ber' oh ria tanpa mengeluarkan suara nya dan melanjutkan langkahnya untuk membeli bahan pangan yang lainnya.


''Aku baru datang di negara ini, dan aku tidak memiliki teman, apa kau mau menjadi teman ku?'' ucap Marissa menawarkan dirinya.

__ADS_1


''Oh tentu.''


''Di sana ada tempat minum kopi, apa kau ada waktu duduk berdua dengan ku di sana?'' Zahla pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah Marisa untuk tawaran nya.


Marissa memesankan minuman untuk Zahla dan mengajaknya berbincang banyak, lambat laun Zahla pun mulai merasa nyaman berbincang dengan wanita yang sudah di pastikan usianya lebih tua darinya, sampai mereka tidak menyadari kalau hari pun sudah mulai sore. ''Maaf ya aku harus pulang, lain kali kita bisa bertemu lagi.'' Ucap Zahla yang memutuskan untuk pulang.


Setelah bertukar kontak, merekapun berpisah di depan swalayan tersebut, Zahla yang pulang dengan taxi dan Marissa yang pulang dengan mobilnya.


Baru saja Zahla sampai di lobby gedung apartemen, sebuah mobil berwarna hitam metalik berhenti di depannya, senyum Zahla terpancar menunggu seseorang pemilik mobil itu keluar yang tak lain adalah suaminya sendiri.


''Honey,?''


''David, kebetulan. Tolong bantu aku bawakan kantung belanjaan ya.'' Tanpa menyahuti David pun segera mengambil alih semua kantung-kantung dan tas yang di bawa Zahla.


''Apa berbelanja memerlukan waktu sampai setengah hari, hmm?''


Sesampainya mereka di unit apartemen, David menaruh semua belanjaan Zahla di meja dapur dan Zahla yang langsung membenahinya.


''Aku mandi dulu ya sayang.'' Ucap David yang berlalu setelah mengecup singkat kening Zahla.


Setelah merapihkan semua belanjaan nya dan memisahkan bumbu dengan bahan pangan yang akan ia olah langsung, Zahla pun segera bersiap untuk memasak makan malam mereka. Dengan cekatan Zahla bermain dengan alat dapur, satu persatu ia selesaikan masakannya dan menaruhnya langsung ke meja makan.


Suara deru langkah membuat Zahla segera menoleh yang ia tahu kalau langkah itu milik suaminya, aroma harum dari tubuh suaminya merasuk ke dalam indra penciuman nya, aroma yang sudah menjadi candu bagi dirinya, senyum Zahla menghiasi wajah lelah dan berkeringat nya yang langsung di balas oleh David, suaminya.


''Kamu sudah selesai masak?'' tanya David heran karena istrinya dapat memasak beberapa masakan dengan waktu yang cukup singkat.

__ADS_1


''He'em, aku mandi dulu ya,'' jawabnya, baru saja Zahla akan melangkah pergi namun tangannya di tahan David yang membuat Zahla tersentak kaget.


''Kenapa?''David memeluk tubuh kuyul Zahla yang berkeringat karena baru saja berperang dengan api kompor.


''Aroma tubuh mu yang berkeringat ini yang aku suka.'' Ucap David yang terus mengendus aroma tubuh Zahla. Zahla bergidik merasa jijik dengan keadaannya sendiri yang berkeringat dan menurutnya aroma tubuhnya sudah berubah menjadi asam.


''David, kau baru saja mandi, nanti kau bau lagi karena keringat ku.'' Ucap Zahla manja.


''Aku tidak perduli,'' David terus saja mengendus di beberapa bagian tubuhnya.


Keduanya memiliki kebiasaan yang berbeda. Zahla yang merasa candu dengan aroma tubuh David ketika habis mandi dan bahkan justru David yang merasa candu dengan aroma tubuh Zahla yang berkeringat.


Cukup lama David memeluk tubuh Zahla dan terus menciuminya hingga membuat Zahla merasa risih karena keringatnya sendiri yang menurut nya membuat aroma tak sedap tapi justru membuat David suka dan menciuminya.


Tidak membuang kesempatan, saat David mengendurkan pelukannya, Zahla langsung pergi dan berlari ke arah kamar untuk membersihkan dirinya. ''Dasar jorok..!'' teriak Zahla dengan langkah berlarinya.


David hanya tertawa kecil melihat tingkah istri kecilnya itu, tapi itulah membuat David semakin jatuh hati padanya, dan soal ia menyukai aroma tubuh istrinya yang sedikit asam karena keringat, itu bukanlah bualan tapi memang ia benar-benar menyukainya.


''Percuma kau mandi, karena aku akan membuat kau berkeringat lagi..!'' teriak David sedikit menggoda Zahla yang sudah berada di dalam kamar.


David duduk di kursi makan, sembari menunggu Zahla selesai mandi, David pun bermain dengan ponselnya, tapi baru saja ia membuka aplikasi game online yang ada di gawainya, suara dering dari ponsel Zahla berbunyi menandakan ada Notifikasi pesan masuk.


Matanya melirik ke arah ponsel Zahla yang tergeletak di atas meja makan tak jauh dari tempat ia duduk, sebuah nomor yang belum ada nama kontak terlihat mengirimkan pesan pada Zahla.


''Nomor siapa ini,'' gumam David yang langsung membuka isi pesan singkat itu. ''Zahla, aku harap besok kamu ada waktu, apa kita bisa ke salon bersama,'' isi pesan tersebut yang di baca oleh David dengan suara kecil.

__ADS_1


''Siapa dia, apa teman kantor nya? tapi kenapa tidak di beri nama kontaknya'' gumam David.


Karena tidak mau berlarut larut berpikir, David pun kembali menaruh gawai Zahla dan melanjutkan niatnya untuk bermain game di ponselnya.


__ADS_2