Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Setitik kehidupan


__ADS_3

David duduk di tengah kesunyian malam, Devita dan Daniel yang melihat anaknya tengah khawatir itu sungguh membuat kedua nya ikut bersedih hati juga.


Yang seharusnya mereka tengah merayakan atas kelahiran cucu pertama mereka, tapi mereka malah merasakan kekhawatiran yang sangat mendalam, terlebih lagi ibu dari si bayi yang juga belum keluar dari kamar operasi.


Anggota keluarga lain sudah berpamitan pulang karena harus beristirahat setelah berada di rumah sakit berjam-jam lamanya. Daniel pun meminta Devita untuk pulang namun wanita berhati lembut itu tidaklah tega meninggalkan anaknya yang sangat membutuhkan sebuah penyemangat.


''Jika kau lelah, kau saja yang pulang, biar aku yang menemani anak ku,'' cetus Devita melirik tajam pada Daniel yang sedari tadi membujuk nya untuk pulang.


''Heehhh, tidak. Aku juga akan berada di sini.'' Balas Daniel menyerah.


Pintu ruang operasi kembali terbuka, David yang memang sadari tadi menunggu kabar Zahla segera bangun dari duduknya dan menghampiri seorang perawat yang keluar dari ruang operasi tersebut.


''Bagaiman?'' tanya David dengan tidak sabar nya.


''Maaf tuan, saya harus segera membawa ini ke ruang bayi.'' Ucapnya dengan sebuah kantung yang berisikan air susu pertama yang di ambilnya langsung dari Zahla.


''Lalu bagaimana dengan istri ku!'' teriak David dengan kesal karena perawat itu mengabaikannya dan berlalu melewati nya.


''David, kendalikan dirimu,'' ucap Devita menenangkan David yang emosinya tengah labil karena rasa khawatir pada istrinya.


David duduk kembali dengan mengontrol emosinya, berulang kali ia menghela nafasnya menetralkan pikiran nya dan setelah beberapa saat diapun bisa lebih tenang dari sebelumnya. ''Mom?''


''Ya, kau butuh sesuatu?''


''Aku ingin melihat anak ku,'' lirih David dan di angguki Devita.


Ibu dan anak itu pun berlalu meninggalkan Daniel yang kini hanya seorang diri di depan ruang operasi, perasaannya sangatlah kacau saat ini. Di satu sisi hatinya merasa bahagia karena kelahiran cucu pertamanya, tapi di sisi lain dia juga merasa sedih melihat anaknya yang sedang khawatir karena istrinya.


Tubuhnya yang tidak lagi bugar seperti dulu, matanya yang sayu menatap pintu ruang operasi, berharap seseorang keluar dari sana dan membawa kabar bahagia.


Di tempat lain, David dan Devita yang berdiri di luar ruang bayi, menatap sebuah box yang terdapat bayi mungil yang sedang di beri susu melalui selang kecil, tangannya berulang kali bergerak seolah-olah melambai ke arah David, ayahnya.

__ADS_1


David tersenyum tipis dengan berbarengan sebuah tetesan air yang keluar dari ujung matanya. Seharusnya dia menyambut anaknya dengan rasa bahagia seperti ayah-ayah kebanyakan, tapi hatinya tidak lah sanggup untuk mengutarakan rasa bahagianya karena separuh hidupnya yang lain masih terbaring di atas ranjang operasi yang dingin.


Namun tiba-tiba, suara beberapa orang berlarian menyita perhatian David dan Devita yang sedang menatap wajah mungil bayi yang bahkan bum di berikan nama oleh kedua orang tuanya.


Beberapa perawat berlarian dan masuk ke ruang bayi dan langsung membawa bayi tersebut pergi dari sana, David dan Devita yang kebingungan ikut berlari mengikuti kemana baby pewaris keluarga Carroll itu di bawa.


''Mom, ada apa ini? ada apa dengan anak ku?'' tanya David pada Devita yang bahkan juga sama tidak mengertinya apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi kenapa bayi itu di bawa kembali keruang operasi, David melihat Daniel, ayahnya yang tengah berbicara pada seorang dokter yang langsung menyuruh perawat yang membawa bayi agar langsung masuk ke ruang operasi.


''Daniel? ada apa ini!'' tanya Devita dengan panik.


Daniel terdiam sejenak, menghela nafasnya dan membuangnya ke udara, menatap secara bergantian pada anak dan istrinya seraya berkata.


''Zahla keritis.''


Seperti di hujam sebuah benda tajam, jantung David terasa berhenti berdetak, kakinya lemas sehingga tidak lagi bisa menopang berat tubuh nya, ia terduduk lunglai di bawah lantai, tubuhnya gemetar takut menerima sebuah kenyataan yang akan di dengar nya.


''Tidak, tidak mungkin..'' Lirih David dengan kacaunya.


Di ruangan yang dingin itu, para medis kian berusaha untuk keselamatan Zahla yang tengah keritis itu, dokter pun mengambil cara antara batin seorang ibu dan anak, maka dari itu ia meminta untuk membawa bayi tersebut agar bisa berinteraksi oleh ibunya yang sedang melewati masa kritis nya.


Bayi mungil itu di letakan di atas tubuh ibunya, tangan mungilnya terus saja meraih-raih wajah sang ibu, seakan memintanya untuk bangun dan memeluk tubuh kecilnya, tanpa mereka sadari air mata Zahla keluar dari mata yang terpejam itu, apa itu sebuah respon yang baik? entahlah. Para dokter punn masih berusaha untuk itu.


Suara mesin monitor elektrokardiograf bagaikan musik di ruangan dingin itu, berulang kali dokter mengecek nya memastikan denyut jantung Zahla masih berfungsi dengan normal.


Tapi tiba-tiba suara mesin monitor itu semakin kencang berbarengan dengan suara tangis si bayi yang seakan memberikan respon tentang keadaan si ibu yang semakin lama semakin menurun. ''Panggil suami dari nyonya Zahla, untuk masuk.'' Ucap Dokter senior yang saat ini memimpin operasi nya.


Seorang perawat pun keluar dan memanggil David agar masuk ke dalam. ''Ada apa sus?'' tanya Devita yang sudah tidak bisa lagi tenang.


''Dokter meminta tuan muda David masuk, nyonya.'' David mengangkat kepalanya dan langsung mengangguk lalu berdiri dan berlalu masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


Devita semakin khawatir, tangannya bergetar, Daniel yang melihat istrinya tengah shok membawanya ke dalam pelukannya. ''Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada anak perempuan mu.'' Ujar Daniel dengan hangat.


''Akupun berharap seperti itu,'' lirih Devita.


Di dalam ruangan, David yang sudah berganti pakaian, berjalan dengan perlahan menatap istri nya yang tertidur tidak berdaya di atas ranjang operasi.


''Tuan, saya harap anda bisa tenang, berikan semangat pada istri Anda agar bisa menemukan titik kehidupannya kembali, karena saat ini istri mu bagaikan sedang tersesat di dalam mimpinya, ia berada di ambang garis hidup dan matinya.'' Jelas dokter itu dengan sangat mudah di pahami.


David mengangguk mengerti dan duduk di samping Zahla, berbisik dengan sangat lembut meminta agar Zahla bisa semangat untuk hidupnya, anaknya yang masih di atas tubuh Zahla terus saja meraih-raih wajah Zahla, tangan mungil satu nya David sentuh, memberikan ketenangan walaupun dia sendiri merasa khawatir.


''Anak papah.. Minta mamah mu untuk kembali pada kita ya.'' Bisik David dengan sangat lirih.


Dokter dan para perawat tidak tinggal diam, merekapun masih berusaha dengan terus memancing detak jantung Zahla agar tetap stabil, segala upaya mereka lakukan karena bukan hanya menyangkut siapa yang saat ini mereka tangani, mereka juga tidak ingin kehilangan pekerjaan karena gagal membawa menantu pemilik rumah sakit itu kembali kepada mereka.


''Sayang.. Bangunlah,, aku berjanji kita akan pergi berlibur kemanapun yang kau mau, hanya kita bertiga.'' Bisik David ketelinga Zahla.


''Aku tidak ingin mengantarkan anak mu ke sekolah jika tidak bersama mu, biar saja dia menjadi anak yang bodoh.'' David terus berceloteh dari membujuk mengancam sampai memarahi Zahla, karena memang itu yang di maksud dokter.


Semua sudah di lakukan David tapi tanda-tanda akan sadarnya Zahla belum juga terlihat, David menangis dengan di samping kepala Zahla, dia merasa putus asa, begitu juga para medis, detak jantung Zahla semakin lama kian melemah, suara monitor pun semakin kencang dan 'Tiiiiiiiittt......


Dokter dengan panik mengambil pacemaker atau alat pacu jantung dan meletakkannya di atas dada Zahla setelah memindahkan bayinya di samping tubuh ibunya.


Beberapa kali ia tempelkan namun belum juga ada hasil, David semakin di buat kalut melihat itu semua, anaknya yang terbaring di samping Zahla pun terus saja menangis seolah mengerti dengan apa yang terjadi.


''Baiklah, jika memang kau mnyerah..'' Lirih David di balik tangannya.


Tiiit tiiit tiiit tiiit suara monitor kembali berbunyi, mata Zahla perlahan mengerjap, bibirnya bergerak, dan perlahan mata bulat itu terbuka namun kembali tertutup karena silau dengan lampu yang langsung mengarah kepadanya.


''Dok, pasien-'' semua mata tertuju pada Zahla dan bernafas dengan lega karena sudah berhasil membawa menantu Carroll kembali.


''David..'' panggil Zahla dengan sangat lemah, David yang masih menangis di balik telapak tangannya seketika menghentikan tangisnya dan membuka tangannya dengan perlahan karena merasa suara yang sangat ia nantikan itu saat ini memanggil nya.

__ADS_1


David tersenyum bahagia dengan linangan air mata ia memeluk Zahla dengan erat seolah tidak ingin istrinya pergi lagi darinya.''Terima kasih, terimakasih, terimakasih.'' Hanya itu yang dapat David katakan saat ini..


Para dokter dan perawat pun ikut bahagia karena bangunnya Zahla, dan merasa lega karena karirnya akan baik-baik saja.


__ADS_2