Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Pendarahan?


__ADS_3

Terlalu terbuai akan hubungan yang baru saja membaik karena sudah lama banyak yang mengintai kebahagiaan nya, David melupakan sebuah ancaman yang bisa saja datang kapan pun itu.


Hari ini David di sibukan dengan berbagai rapat dengan pemerintah untuk rencana pembangunan sistem keamanan yang baru saja di luncurkan oleh perusahaan yang David sendirilah otaknya.


Zahla yang berperan sebagai asisten manager di pengurusan dokumen pun ikut menyibukkan dirinya. Dari membuat dokumen sampai mondar mandir mengurus lainnya ia pun melakukannya, sudah tiga hari Zahla tidak bertatap muka langsung oleh tunangannya namun itu bisa di mengerti karena sifat keduanya yang profesional akan tanggung jawabnya.


Kevin yang seharusnya ada di sebelah David terpaksa harus hengkang dari perusahaan karena diapun harus mengurus perusahaan yang di tinggali oleh keluarganya yang semula di pimpin pamannya sendiri yaitu Deri Mun yang entah kemana ia menghilang sejak kejadian penembakan waktu itu.


Hengkangnya Kevin pun tidak sama sekali di permasalahkan oleh David, karena dia pun mendukung Kevin dan mendorongnya untuk berdiri di jalannya sendiri, terlebih lagi dia sadar siapa Kevin bagi kekasihnya, Zahla.


David menghela nafasnya setelah beberapa orang keluar dari ruangannya yang di khususkan untuk mengadakan pertemuan antara dirinya dengan klien-klien nya.


Kepala yang di ngadahkan ke atas karena merasa lelah bekerja seharian itu sejenak ia lepaskan dari rasa nyeri di bagian tengkuknya itu. ''Zahla, apa dia sudah makan?'' gumamnya, ya sesibuk apapun David ia tetap mengingat keadaan Zahla yang bahkan sudah beberapa hari ini dia sendiri belum bertatap wajah dengan nya, tapi dengan via telpon atau chatting lah ia selalu memantau Zahla dengan mengingatkan makan juga istirahat calon istrinya itu.


Hari sudah mulai gelap, Zahla yang sudah menyelesaikan pekerjaannya berniat untuk pulang ke apartemen nya, namun karena David masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan Zahla pun tidak mau mengganggu calon suami nya itu walau David sudah mengatakan untuk menunggunya agar pulang bersama.


Zahla berjalan menuruni anak tangga, namun tiba-tiba perutnya terasa sangat nyeri dan sakit yang teramat sampai ia pun tidak bisa lagi berdiri menopang tubuhnya.


Matanya terpejam sesaat berharap rasa sakit itu hilang, namun harapannya sia-sia karena rasa sakit yang di rasanya semakin terasa, keadaan perusahaan yang sudah sepi membuat Zahla tidak bisa meminta bantuan kepada siapapun.


Mata bulatnya terbelalak setelah melihat ada darah yang mengalir di bagian paha mulus nya. ''Darah? darah apa ini?'' gumam Zahla yang tertahan karena rasa sakit yang di rasanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Zahla sudah kehilangan kesadarannya, wajahnya pucat seperti tidak ada aliran darah di tubuhnya, darah yang keluar dari area sensitif nya pun tidak kunjung berhenti, sampai pada akhirnya ada seseorang yang datang dan membawa Zahla ke rumah sakit dengan segera.


Semalaman Zahla berada di rumah sakit tanpa David tahu bagaimana keadaan calon istrinya itu. David yang mengira kalau Zahla sudah pulang ke apartemen karena saat dia memeriksa ruangan Zahla sudah kosong, David pun ikut pulang ke apartemennya tanpa memeriksa unit Zahla yang letaknya di sebelah unitnya.


Keadaan sepi dan hanya ada suara beberapa langkah dari beberapa perawat lah yang terdengar di bangsal lorong rumah sakit, seorang pria duduk dengan cemas memegang ponselnya yang entah sudah puluhan kali ia tempelkan ke daun telinganya namun tetap tidak ada jawaban dari sebrang sana.


Setelah seseorang keluar dari ruangan yang bertuliskan angka 01 yang dimana terdapat seorang pasien yang masih tak sadarkan diri itu, seseorang yang semula duduk di depan ruangan tersebut langsung berdiri dan menanyakan keadaan pasien yang tertidur di berangkar itu.


''Bagaimana? apa dia sudah sadar?'' tanyanya dengan panik.


''Kean, dia masih tertidur. Oh ya apakah kau sudah menghubungi David?'' tanya wanita yang baru saja keluar dari ruangan pasien.


''Sudah puluhan kali aku menghubungi nya, tapi tidak nomornya bahkan di luar jangkauan,'' sahut pria tersebut yang ternyata adalah Kean sahabat sekaligus orang kepercayaan David juga.


''Kean, aku sudah berubah, percayalah padaku, aku tidak akan berbuat macam-macam dengan nya.'' Ucapnya lagi setelah melihat keraguan di wajah Kean.


''Baiklah aku percayakan padamu,'' sahut Kean yang langsung bergegas pergi untuk mencari keberadaan David.


''Ya aku harus mempercayai nya, karena kalau bukan dirinya, mungkin saja gadis itu sudah mati di depan perusahaan itu,'' gumam Kean yang sudah bersiap menancapkan gas nya.


Kepergian Kean membuat wanita itu merasa lega, senyum di bibirnya terukir jelas dan ia pun berbalik badan dan masuk kembali ke kamar pasien itu. Namun saat dia menutup pintu rawat dan berbalik menghadap tempat tidur pasien ia merasa terkejut karena Zahla sudah duduk dengan menyenderkan tubuhnya di tumpukan bantal.

__ADS_1


''Kau sudah sadar?'' tanyanya dengan memasang wajah manisnya.


Mata Zahla mengecil memperjelas penglihatannya, tapi setelah langkah orang yang bertanya dengan nya itu semakin mendekat ia pun terpaku kaget. ''Kau?''


''Ya, ini aku, aku yang menemukan mu tergeletak pingsan di depan kantor, apa kau sudah merasa lebih baik?''


''I-iya tapi perut ku terasa sangat sakit,''


''Benarkah? tunggu sebentar, biar aku panggilkan dokter,''


''Tidak, tidak perlu.'' Cegah Zahla.


''Kenapa? tapi ya sudah, oh ya. Kejadian waktu itu aku benar-benar menyesalinya, aku benar-benar meminta maaf padamu. Aku sadar akan kesalahan ku, ku harap kau mau memaafkan ku,'' ucapnya dengan wajah yang menyimpan rasa penyesalan.


''Iya, aku sudah melupakan kejadian tersebut, tapi bagaimana bisa kau yang membawa ku ke sini, dan apa David ada di sini?''


''Tidak, David tidak bisa di hubungi, tapi Kean saat ini sedang mencarinya.''


Perbincangan antara dua wanita tersebut harus terhenti karena datangnya beberapa orang yang ternyata adalah dokter dan dua orang perawat. Wanita yang duduk di kursi samping berangkar pun berdiri memberi ruang dokter untuk memeriksa keadaan Zahla.


''Nona Zahla, apa kau sudah merasa lebih baik?'' tanya dokter tersebut.

__ADS_1


''Sudah lebih baik dok, tapi perut ku masih terasa sakit, dan kenapa darah itu mengalir begitu deras padahal tanggal juga ini belum waktunya aku datang bulan.'' Sahut Zahla, dokter wanita itupun hanya tersenyum lembut dan menyelesaikan pemeriksaan nya sebelum menjelaskan dari pertanyaan Zahla.


''Menurut hasil scanning, ada luka di bagian dinding rahim dan mengakibatkan sebuah pendarahan pada rahim nona, tapi kami belum bisa memastikan luka tersebut akan berdampak di kemudian hari atau tidak, sebelum hasil lab keluar dan menjelaskan lebih lanjut dari apa yang terjadi pada anda.'' Jelas dokter wanita itu.


__ADS_2