
Dengan mata yang penuh binaran, seorang gadis menatap sebuah potret seorang wanita cantik yang tengah memakai dress merah dengan perut buncitnya, sebuah senyum yang penuh kebahagiaan terlihat dari wajah cantik yang ada di potret itu.
Senyum tipis tergambar dari wajah manis gadis tersebut, namun entah kenapa air matanya tiba-tiba luruh tanpa permisi, entah saat ini apa yang tengah ia pikirkan ataupun rasakan namun percayalah, ia sangat bahagia bisa melihat wajah cantik sang Ibunda dan air mata yang ia keluarkan sebagai tanda kesedihan nya karena wajah cantik itu tidak bisa lagi ia lihat secara langsung.
Zahla, ya gadis itu adalah Zahla. Zahla yang saat ini sedang menatap penuh keharuan potret sang Ibunda, ya hanya dengan sebuah potret saja yang bisa ia pandangi karena memang sang Ibunda sudah menghadap sang pencipta jagat raya.
Tapi ia tidak mau larut dalam kesedihannya, dengan tangan lentiknya ia mengusap air mata yang mengaliri pipi mulusnya dan menaruh potret berbingkai itu ke dalam dekapannya serta bergumam. ''Bu, aku tidak mengenal mu, bagaimana kau semasa hidup mu, tapi ku yakin kau adalah ibu yang baik, doakan aku dari sana ya Bu, doakan aku untuk kuat menjalani kehidupan baru ku bersama pria pilihan ku, juga bersama Kak Kevin, keponakan kesayangan mu.'' Ujarnya dengan gumaman.
Mata bulatnya melirik ke sebuah pintu berharap David kembali ke kamarnya karena dia pun ingin mengatakan soal teror yang ia terima, namun pintu itu masih setia dengan keadaan tertutup, potret sang bunda ia taruh di atas meja dan bergegas untuk mencari David yang entah tau berada di mana.
Kakinya melangkah perlahan menyusuri setiap lorong-lorong yang ada di rumah besar itu, juga melewati setiap pintu-pintu ruangan yang dia sendiri tidak tahu ruangan apa itu. Dan pada akhirnya ia menemukan orang yang sedang di carinya di sebuah tempat yang langsung menghadap jendela berbahan material kaca yang tembus pandang ke arah sebuah pekarangan belakang.
Dengan kaki telanjang tanpa sendal, Zahla berjalan perlahan mendekati David yang berdiri membelakangi nya. Zahla memanggilnya namun David tidak menjawabnya yang rupanya David tengah melamunkan sesuatu.
Zahla pun kembali memanggil nya tapi tetap tidak ada jawaban, dan dengan sekali sentuhan di lengan kekar nya, akhirnya David pun tersentak dan tersadar dari lamunannya yang segera menoleh ke seseorang yang berani mengganggunya. Mata dan mulutnya bersiap untuk menyerang orang yang ada di belakangnya namun setelah melihat siapa orang itu, emosinya seketika mereda.
''Honey? kenapa kau ke sini, apa kau tidak lelah, hmm?'' tanya David dengan intonasi yang sangat lembut.
''Sedang apa disini?'' Zahla tidak menjawabnya melainkan memberi pertanyaan lagi untuk David.
''Aku, aku sedang menikmati asrinya pemandangan dari sini,'' balas David. Namun percayalah Zahla tidak langsung percaya atas jawaban David.
__ADS_1
''Dengan melamun?''
''Melamun? tidak honey. Kemarilah,, apa kau tidak merindukan ku, hmm?'' ucapnya yang senagaja mengalihkan perhatian Zahla.
David membawa Zahla ke dalam dekapannya, dan Zahla pun turut terhanyut di dalam dekapan hangat pria yang saat ini bersetatus sebagai tunangannya.
'' David. Aku masih merasa canggung berada di sini, bahkan aku belum tau, bisa atau tidak kembali ke kamar ku, rumah ini sangat luas. Walaupun tidak seluas kediaman orang tuamu.'' Ucap Zahla yang masih di dalam pelukan hangat David.
'' Lalu, apa kau mau kembali ke mansion?-''
''Atau kau mau aku yang ikut tinggal disini?'' sahut David yang langsung mendapatkan pukulan manja dari Zahla.
''Heheh, lalu kau mau bagaimana?''
''Ajak aku berkeliling, bagaimana?''
Tanpa menjawabnya, David hanya mengangguk sambil mencium singkat kening Zahla dan meraih tangannya untuk ia genggam di setiap langkahnya.
Pasangan muda itu saat ini sedang berbincang dengan berkeliling di sekitar rumah besar itu, dengan sesekali di selingi candaan yang manja dari keduanya, namun terkadang David seakan tidak berada di sana, ya hanya raganya yang berada di dekat Zahla, tidak dengan jiwanya.
Langkah Zahla terhenti dan otomatis David yang tengah kembali melamun itu terkejut karena tangannya tertahan, kepalanya menoleh kebelakang, melihat Zahla yang tangannya masih ia genggam namun berjarak selangkah dari tempat ia berdiri.
__ADS_1
''Kenapa?'' tanya David.
''Kau berada di sini, tapi tidak dengan jiwamu, David.'' Ujar Zahla dengan lirih.
''Astaga, maafkan aku honey, Entahlah mungkin karena pekerjaan ku sedang menumpuk, maaf ya.'' Ucap David yang merasa bersalah karena membuat wanitanya merasa terabaikan.
''Kau bisa berbagi padaku, David.''
''Baiklah, aku tidak akan seperti ini lagi, kau jangan cemas, oke?'' Zahla pun hanya tersenyum walaupun hatinya belum yakin dengan alasan serta jawaban dari David untuknya.
''Maafkan aku La, entahlah kenapa ucapan Kevin bisa membuat ku seperti ini, tapi jika itu benar dia, aku akan berusaha untuk membalasnya, demi dirimu.'' Ucap David dalam hatinya.
Di tempat lain, dua orang sedang berbincang dengan keseriusan, mereka berdua tengah menyusun rencana untuk cara lain agar bisa memisahkan sebuah hubungan yang saat ini tengah membuat mereka terbakar api cemburu nya.
''Aku tidak mau tau, aku harus mendapatkan David dan kau akan mendapatkan Zahla, adil bukan.'' Ucap wanita itu.
''Ya, aku pun tidak mau tinggal diam, mereka harus terpisah antara satu dengan yang lainnya, aku akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan ku.'' Tekat pria yang bersama nya.
''Ya tugas mu hanya mengirim teror lagi ke dalam rumah itu, dan tugas ku akan membuat orang-orang menyebarkan berita buruk tentang David agar gadis mu itu mengetahuinya sendiri.'' Balasnya dengan seringai liciknya.
''Ya aku rasa itu cukup adil,'' mereka berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan bersama untuk menjalani sebuah misi jahat yang akan mereka lakukan untuk pasangan yang baru aja terikat dalam sebuah hubungan itu.
__ADS_1