Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Sick!!


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Zahla yang selalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaan nya tidak sempat bertemu dengan David.


Begitupun David, dengan pekerjaannya yang padat iapun tidak sempat bertemu dengan gadis yang membuat nya selalu uring-uringan itu.


Kelas telah berakhir, kelas tambahan yang di janjikan dosen pun telah Zahla ikuti, dengan merentangkan kedua tangannya Zahla membuang nafas nya ke udara, merasa terperas seluruh pikiran dan tenaganya hari ini, Zahla melangkah ke arah lobi kampus dengan menyeret kakinya.


Pinggang dan bokongnya terasa panas karena terlalu lama duduk, ingin rasanya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya namun ia harus segera pergi ke perusahaan DGC untuk bekerja.


'' Pinggang ku sakit sekali,'' keluhnya.


'' Hei wanita! kau mau pulang?'' teriak seseorang dari arah belakang dan membuat Zahla berbalik dengan lemas.


Aslan dan Zahla pun semakin hari semakin akrab, dan membuat beberapa mahasiswa di sana di buat kagum oleh Zahla.


'' Hah? oh tidak, aku harus pergi bekerja,'' sahut Zahla dengan lesu.


'' Bekerja? kau yakin? tapi wajah mu pucat sekali,'' Aslan menempelkan punggung tangannya ke dahi Zahla secara tiba-tiba dan membuat Zahla hanya diam mematung karena sikap Aslan yang aneh itu.


'' Sepertinya kau demam,'' seru Aslan.


'' Demam? ah jangan berlebihan, aku tidak apa-apa,'' tepis Zahla yang menepis tangan Aslan dari dahinya.


Zahla berlalu pergi meninggalkan Aslan, dan Aslan pun kembali mengejarnya menyesuaikan langkah Zahla yang berjalan di depannya.


'' Kau naik apa ke tempat kerja mu?''


'' Bis,''


'' Mau tumpangan?''

__ADS_1


'' Tidak, terima kasih,''


Sikap dingin Zahla membuat Aslan merasa heran, karena biasanya sikapnya tidak begitu, Zahla yang selalu ceria tapi tidak untuk hari ini.


'' Hei kau ini kenapa?'' tanya Aslan yang langsung menarik lengan Zahla untuk menghadap ke arahnya.


'' Aslan, please.. Hari ini aku sedang tidak berselera untuk berbincang, kau pulanglah, aku juga harus pergi bekerja,'' lirih Zahla.


Zahla memejamkan matanya sesaat menyesuaikan penglihatannya yang tiba-tiba buram, rasa sakit di kepalanya tiba-tiba hinggap.


Namun tidak sama sekali tak di rasa, sedari pagi memang ia merasakan aneh pada dirinya tapi Zahla tidak sama sekali hiraukan, semangat nya yang menggebu-gebu membuat nya melupakan keadaan tubuhnya.


Seseorang datang dari arah belakang dan langsung menarik tangan Zahla yang masih di cengkram Aslan.


'' Apa kau tuli, dia tidak mau kau antar, mengerti!'' semburnya dengan wajah yang garang.


'' Kau siapa? kenapa tiba-tiba datang dan ikut campur,'' tanya Aslan tak kalah ketusnya.


'' La, ayo,'' tarik David, ya dia adalah David, perasaannya yang tidak enak dan selalu kepikiran tentang Zahla membuat nya meninggalkan pekerjaannya untuk mengecek keadaan Zahla di kampus nya.


'' Tunggu! jawab dulu pertanyaan ku,'' Aslan tidak sama sekali mau mengalah, tidak ada rasa takut pada dirinya dengan tatapan tajam David.


'' Kau diam di tempat mu, atau kau akan kehilangan sebelah kakimu,'' ancam David.


Aslan pun terdiam, ia tahu David bukan orang sembarangan terlihat dari penampilannya juga raut wajahnya, namun ia belum mengerti kenapa Zahla bisa mengenal orang seperti David itu.


Zahla tetap bungkam, bungkam karena menahan rasa sakit yang semakin terasa di kepalanya itu, wajahnya pun semakin memucat, namun David dan Aslan tidak menyadari itu, mereka hanya berdebat tanpa ingin tau raut wajah Zahla saat ini.


David berhasil membawa Zahla ke samping mobil miliknya. Karena sudah terlanjur emosi, David pun tidak bisa mengontrol amarah nya.

__ADS_1


'' Kau kemana saja, kenapa tidak sama sekali mau menemui ku,''


'' Apa kau memang begini, setelah mendapatkan apa yang kau mau, kau melupakan seseorang yang membantu mu, iya!!''


David terus meluapkan emosi nya pada Zahla, di tambah apa yang di lihatnya, tangan Zahla yang di sentuh orang lain mampu membuat terpancing amarahnya.


Dan satu kenyataan lagi bahwa Zahla sudah semakin dekat dengan pria lain yang tempo hari dia lihat telah berboncengan dengan Zahla.


'' Tuan, maaf.. Bukan aku melupakan orang yang telah membantu ku, tapi jadwal kuliah ku belakangan ini sangat padat.'' Sahut Zahla dengan suara yang pelan.


'' Kau tidak mengerti, La. Betapa aku mencemaskan mu belakangan ini, stiap aku menghubungi mu tidak pernah di jawab, setiap kali aku berusaha menemui mu di pantry pun, aku tidak bisa, dan setiap ingin bertemu dengan mu di apartemen kau selalu tidak ada.'' David terus berceloteh tidak karuan, Zahla yang mendengarnya pun hanya diam dengan mata yang terus menatap wajah David.


'' Apa sesibuk itu, hah!! kalau tau begitu kau tidak perlu berkuliah.''


'' Tapi ini impian ku,'' lirih Zahla lagi.


'' Ya! tapi kamu bisa kan meluangkan waktu mu untuk ku, apa kau tidak sama sekali merasakan hal yang sama dengan ku!'' emosi David semakin meledak-ledak.


'' Tu-tuan, a-aku...'' Bruugg' rasa sakit yang luar biasa di tahannya pun tidak bisa lagi tertahan, Zahla ambruk di pelukan David.


Mata David terbelalak setelah tau kalau Zahla telah jatuh pingsan di pelukannya, dengan sigap David pun membawa masuk Zahla ke dalam mobilnya.


'' Zahla bangun, kau kenapa? kenapa tidak mengatakan nya kalau kau sedang tidak baik-baik saja!!'' dengan cemas, David segera menancapkan gasnya dan meninggalkan area kampus untuk menuju rumah sakit.


David tidak menyangka kalau Zahla sedang menahan sakit nya, ia baru sadar ketika tubuh Zahla sudah ambruk di pelukannya.


David mengemudi dengan kecepatan tinggi, beberapa kali David mengecek kondisi Zahla yang semakin memucat, suhu tubuh nya pun meninggi dan membuat nya semakin cemas karena nya.


'' Astaga, Zahla. Jangan buat aku gila seperti ini,''

__ADS_1


__ADS_2