Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Kasih tanpa Cinta


__ADS_3

Seorang pria berdiri di depan makam yang sudah di tumbuhi rumput yang hijau dengan bunga-bunga berwarna merah yang sengaja di tanam di atasnya.


Ya dia adalah Kevin, entah kenapa setelah menemui koleganya di sebuah restoran, tiba-tiba ia sangat merindukan sosok Tiara yang sering juga mengajak nya ke restoran tersebut, dan Kevin pun memutuskan untuk pergi ke makam Tiara untuk menebus rasa rindunya.


Dia sosok wanita yang pertama kali membuat nya jatuh cinta dalam diam, dia juga sosok wanita yang membuat nya menguburkan perasaan kuat itu hanya demi sahabat nya, dan saat dia bisa mendapatkan nya, takdir malah mengambil nya kembali darinya.


Kevin tertawa kecil, meratapi nasib cintanya yang tidak pernah mulus, pernah sekali ia berpaling dari perasaan nya ke Tiara dan berharap bisa menjalin hubungan dengan seorang gadis manis yang bekerja di satu perusahaan dengan nya, namun takdir menyatukan mereka bukan dengan status hubungan kekasih melainkan kakak beradik yang sempat terpisah saat mereka kecil, ya gadis itu adalah Zahla.


Tapi sungguh, perasaannya pada Zahla waktu itu tidak sebanding dengan rasa sayangnya dengan Tiara, gadis cantik dan ceria yang di kenalnya sejak duduk di bangku sekolah menengah.


Setelah mengunjungi makam Tiara, entah bisikan setan dari mana, Kevin membelokan kemudinya pada sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat klub, bukan klub terkenal yang biasa ia jumpai dengan para sahabatnya melainkan klub malam yang tidak ada batas privasi.


Memesan sebuah minuman yang beralkohol dan duduk di sudut ruangan seorang diri, menatap hamparan manusia yang berjoget ria di tengah klub, banyak para wanita panggilan menghampirinya namun tidak sama sekali Kevin tertarik, bahkan ia menolak nya dengan kasar dan menatap mereka penuh jijik.


Tidak puas dengan segelas minuman itu, ia pun memesan kembali namun bukan porsi gelas melainkan perbotol, pria 29 tahun itu memang jago hal minum, dan itu dapat di akui oleh para sahabatnya. Kevin memesannya kembali dan lagi, lagi dan lagi, sehingga hamparan botol alkohol pun berserakan di lantai juga mejanya.


Sekuatnya seseorang dengan alkohol namun jika sudah melampaui batas, tidak di pungkiri ia tidak akan bisa lagi sadar apa yang di ucapkan dan lakukan nya. Apa itu bentuk ia meluapkan kesedihan nya? ya sudah pasti. Dari menangis, tertawa sampai berteriak dan meracau tidak karuan, Kevin lakukan. Sampai siapapun tidak ada yang berani mendekatinya.


Sampai ketika seorang pria yang bekerja sebagai pelayan klub, merasa iba pada Kevin karena bisa saja siapapun akan melakukan hal yang tidak baik, mencari kesempatan dari ketidak sadaran seorang Kevin Heinze. Dan karyawan klub itupun mencoba mencari ponsel milik pria yang dia tidak kenal itu dan dengan kebetulan, ia menemukannya dengan keadaan layar yang menyala.


187 panggilan tak terjawab, dan nama seorang perempuan lah yang menghubunginya sebanyak itu. Mengira kalau panggilan itu dari kekasihnya, akhirnya pelayan klub pun mencoba menghubungi balik nomor yang telah menghubungi Kevin.


Tidak berselang lama, seseorang yang di hubungi nya pun datang, ya dia adalah Emily, dengan wajah panik Emily mencari keberadaan Kevin, bertanya-tanya pada orang-orang yang berada di sana dan akhirnya ia menemukan seseorang yang telah menghubungi nya.


''Anda, nona Emily?'' tanya pria penjaga klub tersebut.


'' Ya! dimana dia?'' dan pria itupun menunjuk ke arah dimana Kevin sudah setengah pingsan di sofa panjang.

__ADS_1


'' Bisa bantu aku membawanya ke mobil? aahh, tenang saja, akan ada tip untuk anda,'' tawaran Emily pun di setujui nya dengan senang hati.


Sesuai perjanjian, Emily pun memberikan beberapa uang kertas pada pekerja klub itu, dan pria itupun menerima dengan bahagia karena uang yang di berikan Emily sebanding dengan upah ia bekerja di sana.


'' Terima kasih, Nona. Semoga hubungan kalian tetap baik-baik saja.'' Ucapan pria itu membuat nya berbunga-bunga karena orang lain mengira kalau dia dan Kevin adalah pasangan kekasih tapi sekejap kemudian ia sadar kalau itu hanyalah perkiraan orang luar yang tidak mengenal mereka.


'' Ya, tapi aku cukup senang dengan ucapannya.'' Gumam Emily.


Emily membenarkan posisi Kevin agar pria itu duduk dengan aman dan nyaman dan setelah itu ia berputar untuk menuju kursi pengemudi. Mengemudi dengan hati-hati, sesekali ia menoleh ke arah Kevin yang masih juga belum sadar.


'' Akan aku antar kemana kak Kevin? apa tidak apa-apa jika aku mengantarkan nya ke rumahnya?'' Emily menimbang-nimbang untuk kemana ia mengantar Kevin pulang.


Dan setelah berpikir panjang, akhirnya Emily pun memutuskan untuk mengantarkan pulang ke rumahnya, dengan di bantu seorang penjaga rumah, Emily memapah tubuh berat Kevin ke lantai atas untuk ke kamar tidurnya.


Samar-samar Emily mendengar racauan Kevin yang tidak beraturan dan sampailah ia di kamar Kevin yang bernuansa manly, warna hitam dengan di padukan warna gold sebagai pemanisnya.


'' Terima kasih, sudah membantu.'' Ujar Emily pada penjaga itu.


Membenarkan posisi tidur Kevin dan melepaskan sepatu juga kaus kaki pria yang mencuri hatinya sejak dulu itu, kemudian ia menarikan selimut tebal untuk membungkus tubuh Kevin agar lebih nyaman.


Menatap wajah Kevin dengan rambut yang acak-acakan, membuat Kevin semakin terlihat tampan dan ****, Emily menggelengkan kepalanya dengan cepat menyadarkan dirinya dari pikiran jahanamnya.


'' Apa yang membuat mu sampai mabuk seperti ini, kak?''


'' Apa karena wanita itu?''


'' Dia sudah tiada kak,'' Emily terdiam sejenak. '' Apa kakak tidak pernah melihat aku yang terus mencari perhatian kakak, perlu kakak tahu, aku berharap kakak bisa menyukai ku bukan hanya sekedar adik, tapi seorang wanita.'' Emily menatap nanar wajah Kevin, dan tidak terasa air matanya pun menetes.

__ADS_1


'' Sesakit ini mencintai seseorang tanpa balasan,'' lirihnya.


'' Kalau begitu aku pamit ya kak,'' Emily beranjak dari ranjang Kevin, tapi sebelum ia benar-benar pergi tiba-tiba Kevin berkata.


'' Jangan pergi..''


Emily menoleh dengan cepat, menduga kalau Kevin memintanya untuk tinggal tapi ia paham kalau itu hanyalah sebuah halusinasinya, Emily kembali berbalik dan akan berlalu tapi tiba-tiba tangannya di tarik Kevin sampai Emily terkejut dan terjatuh tepat di atas dada Kevin.


Mata Kevin terbuka sedikit, bibirnya tersenyum dengan manis, dan tiba-tiba Cupp' mata Emily melebar, pipinya pun memanas dengan telinga yang sudah memerah. '' Dia mencium ku?'' ucap Emily dalam hatinya.


Tangan Kevin beralih dari lengan Emily dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Emily.


'' Jangan pergi, tetaplah disini, hmm?'' ucap Kevin dengan suara seraknya. Tangan kanannya berpindah merapihkan anak rambut Emily dan menyelipkannya ke belakang telinga nya, Emily hanya diam tanpa melakukan apapun karena perasaan nya yang tidak karuan.


Cupp' Kevin kembali mengecup bib*r nya lagi, Emily yang terbawa suasana pun tanpa sadar memejamkan matanya menikmati permainan bib*r tebal Kevin. Perlahan permainan itu semakin dalam dan dalam, satu persatu pakaian yang mereka kenakan berterbangan ke lantai.


Entah ini mimpi indah atau buruk, Emily sudah tidak peduli karena Emily tidak bisa membohongi diri nya bahwa perasaan nya saat ini sangatlah bahagia.


Hubungan terlarang itu terjadi, mahkota nya terlepas oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan khusus dengan nya, tapi kenapa ia sama sekali tidak menyesalinya, ya jawabannya karena cinta buta nya.


Keringat mereka bersatu di bawah selimut yang sama, Kevin ambruk di atas tubuh ramping Emily, Emily tersenyum bahagia. '' Terima kasih,'' lirih Kevin langsung ke telinga Emily, dan Emily pun mengangguk pelan.


Lagi-lagi perasaan nya berbunga-bunga hanya dengan kata terima kasih dari mulut pria yang belum sepenuhnya sadar itu, tapi tiba-tiba jantung nya berdebar kencang, mulutnya seakan membisu ketika satu kalimat lagi yang Kevin keluarkan sehingga mampu membuat gadis yang baru saja merasakan kebahagiaan karena mengira kalau cintanya akan terbalaskan.


'' Aku mencintai mu, Tiara.'' Bagai tertusuk belati tepat di jantung nya, perasaan nya hancur, air matanya mengalir tanpa permisi, dengan sisa tenaganya ia mendorong tubuh Kevin yang menindihnya ke samping.


Tubuhnya bergetar, memeluk selimut dengan sangat erat, merasa bodoh karena sudah merelakan mahkotanya untuk pria yang bahkan tidak sadar sedang bersenang-senang di atas ranjang dengan dirinya dan mengira kalau ia adalah wanita lain, yaitu Tiara.

__ADS_1


Mencoba bergerak untuk mengambil pakaian-pakaian nya yang tergeletak di bawah walaupun ia meringis kesakitan pada area sensitifnya, turun dari ranjang dengan tertatih, setelah ia memakai pakaian nya kembali dan akan segera pergi dari sana, matanya kembali menatap ranjang tempat ia dan Kevin bergelut kasih tanpa cinta, beberapa bercak darah yang masih segar tersisah di seprai dan selimut yang berwarna krem itu, bercak darah itu adalah saksi dari kebodohannya.


Emily pun berlalu dengan terus menangis, memegangi perutnya yang terasa kram, dan segera masuk ke dalam mobil yang terparkir di pelataran rumah besar Kevin.


__ADS_2