
Seperti biasa hari-hari Kevin tidak ada yang berkesan, selain membantu David kesibukannya hanya melukis yang memang di gandrungi sebagai hobinya.
Lagi-lagi sebuah wajah mungil bocah perempuan lah yang terus ia buat sketsa di kertas besar, dengan lihainya jari-jari berurat itu meliukkan nya dengan cekatan, tidak membutuhkan waktu lama Kevin telah selesai membuat sketsa wajah mungil anak perempuan yang sangat ia rindukan itu.
Di ujung sketsa tertulis nama perempuan yaitu Carrisa, ya adik perempuan yang ia rindukan dan ia selalu pikirkan keberadaan nya namun sudah dua puluh tahun belum juga kunjung ia temukan.
Terlintas ia teringat ucapan Daniel yang mengatakan kalau akan membantunya untuk menemukan adiknya, namun ia belum juga mendapatkan kabar itu.''Apa aku- langsung tanyakan lagi pada paman Daniel?'' gumam Kevin namun niatan itu ia singkirkan jauh-jauh karena kalau dia menanyakan nya pada Daniel akan membuat tersinggung pada diri Daniel nantinya, pikiranya.
Dan Lagi-lagi ingatannya tertuju pada adegan tadi pagi yang ia sendiri menyaksikan kemesraan sahabatnya dengan gadis yang selalu membuat nya nyaman di ajak berbincang, ya David dan Zahla. Entah kenapa perasaan tidak nyaman itu kerap sekali muncul kala melihat David dan Zahla bermesraan terlebih hati ini ia benar-benar melihat nya langsung mereka sedang berciuman dengan panasnya.
Kevin berdecak kesal dengan pikirannya, seharusnya ia tidak merasa kesal karena itu, dan seharusnya malah senang bukan? tapi kenapa seolah-olah hatinya menolak itu.
Dalam lubuk hatinya ia selalu ingin melindungi Zahla, ingin selalu berada di sisi Zahla, tapi mengingat sudah ada David buang selalu ada untuk gadis itu membuat Kevin pun mundur dari keinginannya.
''Tidak mungkin kan aku menyukai gadis yang sama dengan David?'' gumamnya yang langsung ia ralat sendiri. ''Ahh iya! itu pasti tidak mungkin,'' lanjut nya.
''Aku sudah merasa senang karena Zahla berada di dekat pria yang bertanggung jawab seperti David, kehidupannya pun semakin membaik karena David.'' Kevin terus bergumam sampai tidak menyadari kalau ada panggilan masuk di ponselnya.
Paman Daniel CR📱
Ya nama Daniel yang tertera di sana, dengan segera ia menjawabnya dengan menggeser kan ikon hujiau pada layar gawainya.
''Selamat malam Paman,'' salam Kevin dengan sopan.
''Besok datang ke perusahaan paman, ada sesuatu yang harus paman sampaikan kepada mu.''
__ADS_1
''Baik Paman, besok aku akan kesana,''
''baik kalau begitu, paman tutup. Selamat malam.'' Daniel pun memutuskan sambungan telepon itu dengan salam penutup nya. Kevin bernafas lega karena mengira kalau Daniel akan menyampaikan kabar tentang adiknya.
''Semoga ini tentang kamu, Carissa.'' Gumamnya dengan harapan yang besar.
***
Di sisi lain, di sebuah cafe yang menyediakan khusus minuman dan makanan khusus para remaja, di sana sepasang manusia sedang duduk menikmati coffie dan sebuah potongan kue yang di lumuri coklat favorit si wanita.
Ya mereka adalah Zahla dan David, sebenarnya bukan mau David berada di sana, terlebih-lebih tempat itu termaksud tempat umum juga ramai pengunjung yang David sendiri tidak sama sekali menyukai keramaian.
David meminum coffie yang Zahla pesan untuk nya dengan ragu, ia takut tempat seperti itu tidak steril, matanya pun terus memperhatikan setempat yang banyak pasangan muda-mudi berada di sana.
''Kenapa? kau tidak menyukai tempat ini ya?''
''Bukan, bukan begitu, hanya saja ini terlalu ramai.''
''Heheheh, kau tenang saja, disini asik kok, lihat banyak pasangan seperti kita yang menikmati nya.'' Jawab Zahla tanpa sadar.
''Apa? pasangan seperti kita? berarti kamu telah menerima hubungan ini?''
Wajah Zahla memerah, ia benar-benar tidak menyadari apa yang telah ia ucapkan, dengan suara pelan ia meralat ucapannya. ''Memangnya siapa yang tidak menerimanya,'' sahut Zahla dengan nada yang paling rendah dan nyaris tidak terdengar.
''Kalau begitu aku punya satu permintaan,'' ucap David yang di tanggapi Zahla dengan wajah penasarannya.
__ADS_1
''Apa?''
''Panggil aku tanpa kata formal, karena tidak enak sekali terdengarnya,'' protes David atas panggilan Zahla terhadap nya.
Zahla tersenyum lembut dan mengangguk dengan yakin sebagai jawaban permintaan David. ''Cobalah,'' pinta David.
''David,'' ucap Zahla dengan yakin, senyum David terukir mendengar nya, ia benar-benar senang karena Zahla sudah mau menerima hubungan mereka.
Zahla pun berpikir, kalau David bisa memanggil nya dengan panggilan sayang nya kenapa mesti ia tetap memanggilnya dengan kata 'Tuan.
''Terima kasih.
Matahari baru saja memunculkan cahayanya, namun seorang pria sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Dia benar-benar tidak sabar untuk datang ke tempat tujuannya itu.
Ya dia adalah Kevin, jam masih menunjukkan pada enam pagi namun Kevin sudah rapih dengan pakaian formalnya, selain dia harus mengurus jadwal David ia juga akan datang ke kantor perusahaan milik ayah dari David yaitu CR Corp, perusahaan milik Daniel Carroll.
Dengan mobilnya ia melaju dengan tenang, harapannya ia gantungkan pada Daniel, untuk bertemu dengan adik kecilnya itu.
Setelah mengurus jadwal pertemuan David dengan beberapa klien, Kevin langsung pergi meninggalkan kantor dan menuju perusahaan Daniel.
Daniel dan Zen sudah menunggu Kevin di ruangan Pribadinya, sembari berbincang-bincang mengenai fakta yang baru saja mereka ketahui.
''Niel, aku benar-benar tidak percaya ini,''
''Ya, aku juga awalnya tidak percaya tapi ya memang ini faktanya.'' Jawab Daniel menanggapi ucapan Zen.
__ADS_1