
Suara begerumuh dari sebuah alat berat kondektur, menuju sebuah bangunan hotel yang masih dalam tahap pembangunan, dengan duduk manis di atas kap mobil, tiga orang pria berbeda usia memerhatikan dari jarak lumayan jauh dengan minuman kaleng di masing-masing tangannya.
Brakkkkkhh ,, Bruugghhh
Bunyi reruntuhan bangunan terdengar jelas sampai membuat kabut tebal karena runtuhnya pembangunan itu.
Pekerja di sana hanya melihat dari jarak jauh karena sebelumnya sudah ada pemberitahuan kalau bangunan itu akan di runtuhkan sehingga tidak membuat korban akan runtuhnya pembangunan hotel CCA itu.
Sebuah mobil Jeep memasuki kawasan itu dan dengan raut wajah yang syok seorang pria yang mengendarai mobil itu turun dengan mulut yang menganga.
'' Ada apa ini? Berto!!'' teriak nya memanggil seseorang yang bertanggung jawab atas pembangunan itu.
Dengan berlarian seorang yang bernama Berto pun menghampirinya dan langsung mendapat kan hadiah bogeman dari pria paruh baya itu.
'' Ada apa ini!'' teriaknya dengan emosi yang tidak tertahan lagi.
Pria bernama Berto itu tidak menjawabnya ia hanya menoleh ke arah tiga orang pria yang duduk manis di atas kap mobil yang terparkir di sudut kawasan itu.
Pria parubaya itu hanya mengikuti kemana pria bernama Berto itu menoleh, dengan tatapan tajamnya ia menatap ke tiga pria di sana. Mestinya ia tahu akan terjadi hal seperti ini jika berani bermain-main dengan orang yang berpengaruh di kota itu.
'' Daniel?'' gumamnya dengan gigi yang saling beradu karena geram.
Dengan mengambil langkah panjangnya, dan dengan percaya dirinya ia menghampiri ketiga pria yang juga sedang menatapnya bagaikan kawanan singa sedang memperhatikan mangsanya.
'' Daniel! apa yang kau lakukan!!'' teriaknya dengan suara yang sedikit tercekik karena faktor usia.
Ya mereka adalah Daniel, Zen dan Kemal, tiga pria yang paling di takuti pada masanya dan sampai sekarang pun nama itu masih di takuti di kalangan bawah ataupun kalangan pembisnis lain nya.
Daniel dengan usianya sudah setengah abad itu tidak sama sekali terlihat karena tubuh dan wajahnya masih terlihat gagah sama seperti dulu.
__ADS_1
Ia turun dari kap mobil dan berdiri mensejajarkan tubuh nya di depan tubuh pria ringkih itu.
'' Deri Mun, pembisnis serakah yang sampai sekarang pun tidak pernah mau bertobat,'' celetuk Daniel dengan menohok.
'' Daniel Carroll, lagi-lagi kau yang selalu menghalau jalan ku, apa yang kau lakukan dengan hotel ku!!'' teriaknya.
''Hahahahahha, hotel mu? apa kau amnesia dengan tiba-tiba? jelas hotel ini atas nama anak ku, David Guetta Carroll, tapi dengan tidak tahu malunya kau mengakui bahwa ini milik mu, Cihh.'' Daniel membuang air ludah tepat ke samping Deri.
'' O-o-ou, dan jangan berteriak karena bisa membuat mu mati mendadak,'' lanjut Daniel.
Deri tersentak malu, ternyata rencananya sudah tercium lebih dulu oleh tiga pria itu, ia hanya diam terpaku di tempatnya dengan wajah yang memerah entah karena malu ataupun karena marah.
'' Zen, lemparkan semua bukti kepemilikan bangunan ini ke wajah tua bangka ini, agar dia membuka matanya dan menyadari kalau ini bukan miliknya,'' Daniel pun berlalu memasuki mobil berwarna hitam miliknya.
Seperti perintah Daniel, Zen melemparkan berkas-berkas bukti kepemilikan tanah juga pembangunan itu.
'' Tuan Bangka, aku peringati jangan pernah mencoba bermain-main dengan yang namanya Daniel Carroll, karena bukan hanya pembangunan ini yang di hancurkan, tubuh mu yang renta ini bisa saja ia lumatkan, mengerti!'' ejek Kemal yang juga berlalu bersama Zen memasuki mobilnya masing-masing.
Di rumah sakit, Zahla sudah di pindahkan ke bangsal pemulihan yang lebih steril dan nyaman bagi pasien juga pengunjung.
David yang setia menunggu Zahla sadar dengan duduk di sampingnya dan tidak sama sekali mengalihkan pandangannya ke arah lain dan membuat Devita yang ikut menemani anaknya itu hanya tersenyum bahagia karena melihat anaknya yang sudah semakin dewasa.
Mata bulat Zahla mengerjap menandakan bahwa ada tanda-tanda akan sadarnya gadis bernama Zahla itu.
'' Mom, di sadar,'' ucap David dengan tersenyum lega.
'' Benarkah? biar mommy panggilkan dokter,'' ucapnya yang langsung menekan sebuah tombol dari remot kontrol khusus yang langsung tersambung ke ruangan dokter.
'' Datanglah, calon menantu ku sudah sadar,'' ucap Devita dengan tegas dan langsung mendapat sahutan dari sana.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian seorang dokter dan dua orang perawat datang dan langsung memeriksa kondisi Zahla yang baru saja sadar dari tidur nya karena efek bius paska operasi.
'' Syukurlah tidak ada komplikasi yang biasa terjadi pada pasien paska melakukan operasi, dua tiga hari Nona muda akan pulih tapi tidak di perbolehkan untuk melakukan pekerjaan yang membuat syok untuk luka nya.'' Jelas Dokter kepercayaan keluarga Carroll.
Setelah menjelaskan dan memeriksa keadaan Zahla, dokter dan dua perawat itupun permisi pergi dari sana, memberikan ruang untuk nyonya juga tuan muda Carroll.
Zahla bergumam di balik rebreathing mask, dan dengan hati-hati David membantu Zahla untuk melepaskan itu dari mulutnya.
'' Zahla, syukurlah kamu sudah sadar,'' ucap David yang masih dengan keadaan khawatir.
'' Tuan bos, tuan Kevin,'' lirih Zahla dan langsung di cegah David.
'' Ssttt, ya aku sudah mengetahui nya, kamu tidak perlu mengatakan apapun ya,'' cegah David dengan lembut.
Devita menghampiri ke ranjang Zahla dan langsung menyapanya dengan ramah. '' Halo nak' bagaimana keadaan mu?'' tanya Devita dengan suara yang sangat lembut.
'' Bibi?'' terukir indah senyuman Zahla setelah melihat wajah cantik Devita.
'' Cepatlah pulih, bibi tidak mau melihat anak bibi gila karena dirimu,'' ledek Devita pada anaknya dan Zahla yang tidak mengerti maksudnya.
'' David, Mommy pulang sebentar ya, Daddy mu akan segera pulang dari tugas nya, kalau Mommy tidak ada di rumah saat dia pulang, kau tau sendiri bagaimana hebohnya dia,'' ucap Devita dan hanya mendapatkan anggukan dari David.
'' Zahla, bibi pulang sebentar ya. Cepatlah pulih.'' Pamit Devita pada Zahla dan Zahla pun hanya memberikan senyuman lembutnya.
Seperginya Devita, David merasa lega karena ia tidak nyaman dengan adanya sang mommy di tengah-tengah mereka, entah merasa di awasi ataupun yang lain hanya David yang tau.
'' La, kau butuh sesuatu?'' tanya David dan Zahla hanya menggelengkan kepalanya.
David melempar senyuman lembutnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Zahla dan Cup, David mendaratkan kecupan mesra di kening Zahla dan membuat Zahla seketika blush-ing malu.
__ADS_1
'' Cepatlah pulih, dan terima kasih.'' Ucap David dengan suara yang pelan.