
Di sebuah rumah besar yang bahkan lebih pantas di sebut dengan nama bungalow, di sanalah David dan Zahla berada saat ini. Ya sempat tidak percaya bahwa rumah itu tempat kediaman sang ibu dahulu semasa hidupnya, tapi itulah kenyataannya.
Zahla terus memperhatikan inci demi inci, sudut demi sudut ruangan di sana, furniture yang begitu indah dan mempesona, juga barang-barang di sana terbilang cukup mewah, namun ada yang membuat Zahla merasa heran. Tidak ada satupun potret sang ibu di sana, yang ada hanya potret lelaki tua dengan dua pria yang sepertinya adalah anaknya, tapi wajah salasatu pria di antara mereka tertutup dengan pencahayaan lampu sehingga Zahla tidak terlalu jelas melihatnya.
''Siapa mereka?'' tanya Zahla dengan bergumam.
''Dia Deri dan anak-anaknya, pria tua itu mantan suami ibumu,'' jawab seseorang yang baru saja bergabung dengan mereka.
''Vin?'' sapa David.
''Rupanya kalian sudah datang, maaf kalau aku tidak menyambut kalian, aku baru saja selesai menyiapkan kamar untuk Zahla,'' ujarnya dengan wajah yang berseri-seri tanpa mempedulikan wajah lain yang menatapnya dengan sinis, ya siapa lagi kalau bukan David.
''Emmm, kenapa tidak ada foto mu juga ibu di sini?'' tanya Zahla dengan ragu.
''Ceritanya panjang, tapi yang pasti, merekalah yang merampas hak mu selama ini, dan juga yang sudah merencanakan hilang nya dirimu.''
''Lalu kemana mereka?''
''Entahlah, tiba-tiba saja mereka menghilang, mereka meninggalkan rumah setelah penembakan waktu itu.'' Jawab Kevin, sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang ingin Zahla lontarkan namun setelah melirik wajah David yang memasang raut dengan kecut, Zahla mengurungkan nya, ia paham David sedang cemburu karena melihat nya dan Kevin yang berbincang tanpa melibatkan dirinya.
Dengan peka, Zahla meraih tangan David dan menggenggam nya dengan lembut sehingga membuat keprubahan raut wajah David yang seketika menjadi lebih tenang, senyum tipisnya mengembang setelah Zahla melontarkan senyuman yang memberi tanda untuk nya agar tidak perlu berpikir macam-macam.
''Ya sudah, ayo aku tunjukan kamar mu.'' Ajak Kevin dan di angguki Zahla.
Kevin berjalan lebih dulu dengan di buntuti Zahla dan David yang terus saja saling menggenggam dengan langkahnya yang beriringan, dalam benak Kevin tersirat rasa tidak nyaman, namun ia memaklumi nya karena pasangan seperti merekalah yang masih di landa kasmaran dan pastilah bersikap seperti itu.
__ADS_1
''Aku seperti obat nyamuk saja,'' gerutu Kevin.
''Apa! kau bilang apa! jangan menggerutu.'' Ucap David dengan kesal.
''Apa? aku tidak mengatakan apa-apa,'' balas Kevin.
''Dia masih saja bersikap tidak hormat pada ku, aku kan calon Kakak ipar nya,'' gumam Kevin dalam hati.
Setelah sampai di sebuah kamar, Kevin membuka pintu itu dan mempersilahkan Zahla untuk masuk terlebih dahulu, dengan raut wajah senang, Kevin pun berkata ''Silahkan,'' ucapnya mempersilahkan.
Namun raut itu tidak bertahan lama karena yang masuk lebih dulu adalah David dengan tangan yang masih menggenggam tangan Zahla. ''Aku mempersilahkan untuk pemilik kamar, bukan untuk mu.'' Gerutunya lagi namun kali ini tidak di sahuti oleh David.
''Cukup bagus, tapi apa kau sudah memastikan kalau ranjang dan fasilitas-fasilitas kamar untuk Zahla ini nyaman untuk nya?'' tanya David dengan wajah yang terus saja memperhatikan isi kamar itu.
Mata Kevin memutar malas, ia kesal dengan pertanyaan itu yang terkesan meremehkan dirinya yang dia sendiri lah orang yang menyiapkan kamar itu untuk Zahla, adiknya yang telah lama menghilang.
''Hmmm? kenapa honey, apa pertanyaan ku salah? calon istri ku tidak boleh kekurangan satu pun dalam fasilitas dan kenyamanannya.'' Sahut David yang sengaja memamerkan kemesraan di depan Kevin.
Zahla yang sadar akan kesengajaan David berkata seperti itu, hanya terkekeh geli, karena dua pria yang ada di dekatnya ini adalah pria-pria yang sangat ia sayangi, David yang akan menjadi suaminya kelak, dan Kevin kakak sepupu nya yang baru saja ia temui setelah bertahun-tahun lamanya.
''Aahh ya, kau pasti lelah kan? sebaiknya kau istirahat, aku dan David akan berbincang sebentar.'' Ujar Kevin yang langsung menarik paksa tangan David untuk keluar dari kamar Zahla.
''Hei! apa-apaan kau ini!'' protes David yang masih saja di tarik Kevin.
''Sudah kau ikut saja,'' jawab Kevin yang terus menarik David ke sebuah ruangan yang ternyata di sana sudah ada Rey juga Kean yang sedari tadi menunggu mereka.
__ADS_1
''Kalian? mau apa kalian disini?'' tanya David melihat heran teman-teman nya.
David menatap waspada pada kedua temannya itu, ia tidak mau mereka melihat Zahla yang nantinya akan ada ketertarikan pada mereka untuk Zahla.
''Sudah tidak perlu berpikir banyak, Rey ingin mengatakan sesuatu padamu.'' Ucap Kevin yang paham isi pikiran David.
''Apa? aku tidak berpikir apapun,'' sahut David.
David pun duduk begitu juga Kevin, dan tanpa mengucapkan apapun, Rey memberikan sebuah amplop coklat tua untuk David. ''Lihat lah,'' ucap singkat Rey.
Dengan wajah dingin nya, David menerima nya dan membukanya dengan tidak sabar. Melihat semua isi amplop itu dengan raut bingung, namun setelah melihat lembaran lainnya, matanya menyiratkan kemarahan. ''Apa ini?'' tanya David dengan sarkas.
''Ya, ternyata bukan hanya berita itu yang orang itu ciptakan, melainkan teror-teror kejam juga mereka lakukan untuk wanita mu.'' Jawab Kean mewakili Rey yang sudah menceritakan lebih dulu padanya.
''Brengsek! pantaslah, malam itu aku lihat ponsel Zahla hancur, ternyata bukan hanya sekedar berita yang ia lihat, dia juga mendapat kan teror-teror ini,''
''Ya, tapi kita masih belum tau, siapa pemilik akun bernama TR ini.'' Ujar Kean lagi.
''Siapapun dia, aku akan pastikan dia akan menyesal sudah membuat calon istri ku cemas.'' Tekat David dengan mata yang tajam.
''TR? sepertinya aku tahu siapa dia, tapi aku akan pastikan lebih dulu sebelum mengatakan nya,'' Benak Kevin pun berkata.
Pertemuan mereka pun selesai, Rey dan Kean berpamitan pergi dari sana meninggalkan dua pria yang saling diam dengan pikiran masing-masing.
''Sebab itulah Zahla tidur dengan keadaan menangis, aku akan balas di setiap keluarnya air mata Zahla untuk pelaku itu,'' gumam David dengan tekatnya.
__ADS_1
''Apa kau yakin? walaupun nantinya ternyata orang itu adalah orang yang dekat dengan mu juga?'' sahut Kevin yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari David.