Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Kevin mengendarai mobilnya dengan tergesa-gesa, ia tidak memperdulikan rambu-rambu yang sudah jelas terpampang di setiap sisi jalan.


Beberapa mobil ia lewati begitu saja, tidak juga mempedulikan suara klakson-klakson pengemudi yang protes dengan tindakan nya. Dengan tanpa kesabaran Kevin menerobos juga rambu lalu lintas di saat kendaraan lain sudah berhenti karena lampu di sana menunjukkan kata stop.


Sesampainya di sebuah mansion, yang di jaga beberapa orang di sana, Kevin hanya membunyikan klakson tanpa menurunkan kaca mobil dan masuk begitu saja.


Ya Kevin datang ke Mansion keluarga Carroll yang tentunya pemiliknya adalah Daniel Carroll dan family.


Devita yang sedang berada di taman depan rumah mewahnya merasa heran dengan kedatangan Kevin yang terlihat sangat tergesa-gesa yang sepertinya ada sesuatu yang terjadi.


''Kevin?'' panggil Devita, Kevin yang baru saja akan melangkah masuk ke dalam rumah terhenti langkahnya, dan berbalik dimana Devita memanggil.


''Bibi, Paman ada?'' tanya Kevin dengan raut yang cemas.


''Paman mu ada di ruang belajar, ada apa Kevin?''


''Maaf bi, aku ke Paman sebentar.'' Tanpa menjawab pertanyaan Devita, Kevin pun berlalu pergi meninggalkan Devita yang masih berdiri di depan pintu.


Dengan berlari Kevin menuju satu ruangan yang terletak di lantai tiga dan harus menaiki anak tangga ataupun lift, namun karena terburu-buru Kevin pun melupakan keberadaan lift.


Sesampainya Kevin di depan pintu besar itu, perlahan ia menghela nafasnya yang tersengal-sengal karena lelah berlari menaiki anak tangga untuk ke lantai tiga dan barulah mengetuknya kemudian masuk setelah mendatapkan sahutan dari dalam.


Di dalam sana ada tiga pria yang tidak lagi muda namun masih terlihat tampan nan gagah, menatap kedatangan Kevin dengan alis yang saling menyatu.


''Kevin? bukannya aku menyuruh mu datang kesini besok?'' sambar Zen yang duduk di antar mereka.


''Maaf Paman, tapi ada satu hal yang ingin ku pastikan,'' sahut Kevin masih dengan nafas yang tersengal-sengal.


''Katakanlah,'' potong Daniel.


Kevin terdiam dengan menatap ketiga pria yang memasang wajah datar sehingga membuat nya sampai menelan ludahnya dengan terpaksa.

__ADS_1


''Aku mendengar cerita dari Daniel-'' baru saja Kevin memulai ucapannya, Daniel sudah menghela nafasnya dengan panjang yang menandakan kalau ia sudah paham dan bisa menebaknya dengan apa yang akan di pertanyakan oleh Kevin padanya.


''Baiklah, berhubung kau sudah mulai mengerti, aku akan membuat kau lebih mengerti lagi.'' Ujar Daniel masih dengan raut yang datar.


''Kevin, duduklah,'' suruh Kemal yang memang mereka sedang berkumpul di sana.


Kevin menurut untuk duduk di kursi tunggal yang ada di antara mereka, duduk diam dengan menunggu apa yang akan di ucapakan Daniel selanjutnya.


''Kau mau tau dimana adik mu itu kan?'' Kevin mengangguk dengan cepat.


''Tapi aku ada satu permintaan dan kau harus menyetujuinya.'' Lagi-lagi Kevin mengangguk namun dengan sedikit jedaan.


''Ketika aku memberitahu dimana dan siapa adik mu, di saat itu juga kau harus berjanji untuk membawa nya pergi sejauh-jauhnya.'' Ujar Daniel yang membuat Zen dan Kemal seketika menoleh ke arahnya.


''Daniel? apa maksudmu?'' tanya Zen.


''Iya kak, apa maksud mu?'' timpal Kemal yang juga sebenarnya sudah mengetahui siapa adik Kevin.


''Kenapa aku harus membawanya pergi?'' dan kini giliran Kevin yang melayangkan pertanyaan pada David.


''Aku hanya memberikan satu permintaan tapi tidak untuk mendapatkan pertanyaan. Anggap saja sebagai timbal balik karena aku telah membantu mu.'' Ujar Daniel tanpa menjawab pertanyaan Kevin.


Kevin terdiam dengan berpikir sejenak kemudian memberikan sebuah anggukan dari kepalanya sebagai jawaban nya. '' Baik Paman, aku janji akan membawanya pergi dari negri ini.''


''Baiklah, sekarang kau hanya perlu kembali ke kantor dan menemui gadis yang baru saja menjabat sebagai wakil sekretaris Direktur di kantor David.'' Hening, semua terdiam, Zen dan Kemal yang diam karena merasa kecewa dengan keputusan Daniel dan Kevin yang terdiam karena mencerna ucapan Daniel.


''Apa yang paman maksud adalah, Zahla?''


''Berarti Zahla benar-benar adik ku yang selama ini aku cari?''


''Ya seperti dugaan mu, dan aku tau kau kemari untuk mempertanyakan itu kan? dan sekarang kau sudah tau.''

__ADS_1


''Permisi.'' Kevin segera pergi dari sana setelah berpamitan dengan singkat pada ketiganya.


Lagi-lagi Kevin berlarian, dengan tanpa kata sabar ia terus menyerobot siapapun yang menghalangi jalannya, ia menaiki mobilnya dan menancapkan gas nya dengan segera meninggalkan pekarangan luas Mansion keluarga Carroll.


Sebuah kenyataan yang membuat nya terkejut ini benar-benar tidak bisa di cerna oleh akal sehatnya, terlebih lagi ia mengingat pernah menaruh rasa pada gadis yang ternyata adalah adiknya sendiri.


Sungguh aneh, ya memang aneh! dunia terlalu sempit yang membuat nya harus mencari keberadaan adiknya yang ternyata sudah lama berada di dekatnya.


Kevin tertawa kecil mengingat kebodohannya, bagaimana bisa ia tidak menyadarinya, dan dia pun baru menyadari bagaimana golongan darahnya bisa cocok dengan golongan darah milik Zahla kala itu.


''Takdir tuhan memang tidak pernah bisa di duga,'' gumam Kevin.


Rasa haru dan bahagia nya tidak bisa lagi terbendung, saat ini ia hanya ingin menemui Zahla dan memeluk adik kecilnya itu. Tapi senyum Kevin tiba-tiba sirna ketika mengingat syarat dari Daniel.


''Carissa, sampai kapanpun kakak tidak akan membiarkan mu menderita lagi. Cukup penderitaan mu selama ini.'' Tekat Kevin.


Sesampainya ia di perusahaan dan dengan memarkirkan mobilnya dengan asal juga, Kevin kembali berlari menuju lift, sampai sapaan para karyawan pun ia abaikan tidak seperti biasanya.


Di ruangan yang baru saja di berikan untuk Zahla, si gadis malang yang belum juga menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya itu, gadis yang berusia 23 tahun duduk di kursi kerjanya dengan beberapa berkas yang harus ia pelajari lebih lanjut lagi, sejak tadi pagi ia tidak keluar ruangan karena untuk menguasai apa yang sudah menjadi tugasnya itu.


Namun ia di kejutkan oleh seseorang yang membuka pintu tanpa mengetuk nya itu, matanya mengecil merasa heran karena yang datang adalah Kevin. Kevin yang datang dengan senyuman lebarnya dan berjalan cepat ke arah nya dan langsung memeluknya dengan erat, sungguh membuat nya bingung setengah mati.


Zahla hanya mematung tidak mengerti tanpa membalas pelukan pria yang di anggap nya sebagai sahabatnya itu.


''Carissa,'' lirih Kevin yang masih memeluk Zahla dengan eratnya.


''Tu-tuan Kevin?'' Zahla ingin melepas pelukan Kevin namun Kevin menahannya.


''Biarkan begini dulu, sebentar saja.'' ucap Kevin.


Namun tiba-tiba seseorang datang dan langsung menarik Kevin dengan paksa dan sebuah pukulan pun mendarat dengan sempurna di bagian wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2