
Di ruangan yang gelap, Daniel duduk termenung seorang diri. Ia benar-benar tidak berdaya antara kebahagiaan anaknya dan dendam yang sudah mendarah daging karena perbuatan mendiang Nadia di masalalu dan melibatkan anak yang tidak tahu menahu itu.
Ia harus apa, dia pun belum tahu, terlebih lagi saat melihat wajah anaknya sendiri yang di penuhi rasa kekecewaan terhadapnya tentunya membuat dia tersiksa, David adalah anak yang membanggakan baginya, apa dia harus melupakan dendam itu? atau harus mengikuti egonya? entahlah, itupun masih Daniel pikirkan.
Bukan tanpa alasan Daniel menentang hubungan mereka, karena Daniel sendiri takut jika Zahla pun memiliki sifat yang sama dengan sang ibu, ya itulah yang dia takuti selain rasa dendamnya.
''Bagaimana aku bisa melupakan kejadian waktu itu,'' gumam Dani deh mengusap wajahnya dengan rasa frustasi.
Meninggal keresahan Daniel, di gedung perusahaan yang di bangun sang anak oleh jerih payahnya sendiri, di balkon kantor David dan Kevin tidak menyadari kalau pembicaraan nya rupanya terdengar oleh Zahla yang sudah lama berdiri di belakang mereka.
Dengan air mata yang berderai, Zahla melangkah mendekati kedua pria itu. '' Apa maksud kalian, bahwa ibu ku memiliki dosa besar dengan Tuan besar? lalu dimana ibu?'' tanya Zahla dengan suara yang tertahan karena rasa sedihnya.
Kevin dan David menoleh berbarengan, saling menatap satu sama lain karena tujuan mereka berbicara tidak di hadapan Zahla karena takut membuat nya sedih, tapi ternyata itu malah berbalik.
David dan Kevin melangkah secara bersamaan menghampiri Zahla yang berdiri terpaku, dengan sayang Kevin mengusap lembut kepala Zahla dan kali ini David membiarkan itu terjadi karena bukan waktu yang tepat untuk ia meluapkan kecemburuan nya.
Bagaimanapun Kevin adalah keluarga Zahla, dan tidak sepatutnya David cemburu dengan nya, ya walaupun David ingin sekali memukul kepala Kevin saat itu.
''Kali ini aku membiarkan mu,'' bisik David ke belakang telinga Kevin.
__ADS_1
''Diamlah,'' sahut Kevin dengan kesal.
Mata David melebar karena baru kali ini Kevin berani berbicara ketus dengan nya. ''Dia sudah mulai mendalami perannya sebagai calon kakak ipar ku,'' gumam David di dalam hatinya.
''La,, dengarkan aku. Kau tidak perlu tau dosa ibu mu di masalalu karena itu sudah berlalu, dan jika kamu mau bertemu dengan ibu mu, aku akan mengantarmu ke tempatnya,'' ucap Kevin dengan lembut.
Kepala Zahla hanya mengangguk lemah menyetujui ucapan Kevin yang ternyata adalah Kakak nya, ia benar-benar merasa sedih karena mendengar pembicaraan itu tapi apa yang Kevin katakan itu juga benar, bahwa itu semua hanya masalalu.
Dan satu lagi yang mengganggu pikirannya bahwa Daniel Carroll ayah dari David sudah tidak mendukung hubungan mereka, apa yang harus dia lakukan? Zahla pun tidak paham, perasaannya terhadap David pun semakin dalam setelah mendengar penuturan nya yang dia dengar.
Ketiga orang itu saat ini sedang berada di dalam mobil yang sama, dengan Kevin yang menyetir mobilnya dan David yang keukeuh ingin duduk d kursi belakang menemani Zahla. Beberapa kali Kevin melirik kearah kursi belakang dengan kaca yang ada di atas kepalanya, ia merasa kesal pada David yang belum juga menghargai posisinya, dan masih saja menganggap nya sebagai asisten pribadinya, tapi bagaimanapun Kevin merasa tenang karena adiknya telah di cintai oleh pria yang tepat.
Tapi sesaat kemudian ia mulai mengerti, setelah langkah mereka terhenti di sebuah batu nisan yang terukir indah dan ada nama seseorang di sana yang ternyata adalah nama sang ibunda.
Zahla terduduk dengan menatap nanar batu yang bertuliskan nama ibunya, ya ternyata dia benar-benar anak yatim-piatu seperti dugaannya, tapi dia cukup tenang karena dia masih mempunyai keluarga yaitu Kevin, sebagai kakak sepupunya yang juga sudah mencarinya sejak lama.
''Ibu mu meninggal karena penyakit yang dideritanya, dan kala itu aku yang masih sekolah di luar negri tidak mengetahui kabar duka itu, dan karena keserakahan Paman Deri suami ibumu, ayah tiri mu. Dia membuang mu karena tidak mau kalau harta yang dimiliki ibumu akan jatuh kepada mu ataupun aku, sehingga membuat dia mengalihkan surat-surat atas namanya.'' Ujar Kevin menjelaskan tentang keluarga mereka.
''Paman Deri?''
__ADS_1
''Ya Paman Deri, kau tidak mengenal nya tapi kau pernah bertemu dengannya sekali, karena dia yang pernah menembak mu waktu itu,'' lanjut Kevin.
''Lalu dimana dia saat ini?'' tanya Zahla.
''Entahlah, sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, saat aku pulang ke rumah utama pun, aku tidak pernah menemukan nya dengan para bodyguard nya sekalian, juga anaknya. Entahlah mereka bersembunyi dimana.''
Langkah kaki beberapa orang terdengar di area pemakaman dan membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan.
Dua orang pria yang gagah berjalan ke arah mereka, semakin dekat langkahnya dan semakin jelas terlihat siapa mereka.
David yang melihat kedatangan kedua orang itu seketika langsung menarik tangan Zahla dan memposisikan Zahla ke belakang tubuhnya.
''Mau apa kalian kesini?'' tanya David dengan ketus.
Ia memasang sikap waspada untuk melindungi Zahla dengan tubuhnya, karena ia mengira kalau kedatangan mereka akan memisahkan diri nya dengan wanita yang di cintainya.
Kevin yang berada di samping David bersikap sama dengan sahabat nya, ia ikut memasang badan untuk melindungi Zahla.
''Kalian tidak perlu bersikap seperti itu,'' ucap salasatu di antara mereka dengan wajah yang seolah-olah menyembunyikan tawanya.
__ADS_1