
Zahla terus menendang-nendang kerikil kecil yang ada di pinggir kolam ikan, ia sedang merasa sangat bosan, ya sudah tiga hari David meninggalkan nya, walaupun setiap tiga jam sekali David selalu menghubungi nya namun Zahla tetap saja merasa bosan.
Sesekali ia bersenandung kecil dengan mengayunkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan tangannya yang terus memeluk perut besarnya, suara yang sangat lembut terdengar syahdu di telinga siapapun yang mendengarnya, tapi tiba-tiba bibir nya membisu, wajahnya pucat, tangannya nya mencengkeram erat dress nya.
Aaakkkhhhhh'!!
Zahla memekik kesakitan, entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa sakit, Zahla terus aja berteriak sampai beberapa orang yang memang bekerja di sana berdatangan dengan panik karena mendengar teriakan dari Nona mudanya.
'' Astaga, nona muda!''
'' Darah!''
'' Nyonya!!!!!!!'' masing-masing memegang peranan, ada yang segera memapah Zahla untuk duduk di kursi, ada yang segera menghubungi rumah sakit, dan ada yang memanggil Devita dengan berteriak karena rasa paniknya.
Devita yang merasa di panggil, berlari dengan tunggang langgang, ia bahkan tidak memikirkan kalau saat ini sedang memakai alas kaki berhils tinggi, karena memang ia akan pergi keluar untuk membeli keperluan Zahla.
Dengan wajah panik, Devita berlari menghampiri asal suara, wajahnya bertambah panik ketika melihat ceceran darah yang ada di lantai marmer nya.
'' Darah? darah apa ini? astaga apa... anakku!!'' Devita mengikuti darah yang berceceran itu, dan lagi-lagi ia merasa syok karena melihat Zahla yang terduduk di kursi dengan darah yang keluar dari bagian bawah perutnya, beberapa pelayan rumah yang berada di sana ikut panik.
Devita yang sudah tidak bisa mengontrol emosi seketika berteriak pada semua pelayan nya.
'' Kalian sedang apa! cepat hubungi ambulans!!'' Sembur Devita, para pelayan pun berlarian, sungguh baru kali pertama Devita berteriak pada para pelayan, dan itu karena melihat menantunya yang saat ini terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Tidak berselang lama, suara sirine ambulans pun terdengar, beberapa pria berpakaian serba putih berdatangan membawa tandu dan membawa Zahla ke atasnya. '' Hati-hati!'' subur Devita lagi.
'' Sayang, kau jangan khawatir ya. Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah pada Mommy.'' Ujar Devita menenangkan Zahla yang sudah menangis karena rasa sakit. Devita mencoba menenangkan menantu nya namun ia lupa kalau dirinya yang bahkan lebih sangat terlihat panik dan khawatir nya.
__ADS_1
'' Mom, sakiiiiitttt...!'' lirih Zahla dengan menggigit bibir bawahnya.
Zahla yang di bawa dengan mobil ambulance, tentunya terus di temani mertuanya. Dengan tangan yang gemetar Devita berusaha menghubungi Daniel, dan hanya dengan deringan kedua, Daniel pun menjawabnya.
'' Daniel. Aku sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit, kau menyusul lah.'' Ucap Devita dengan suara yang terdengar sangat panik sampai ia tidak sadar memanggil nama suaminya langsung di depan orang lain.
Tanpa menunggu jawaban dari Daniel, Devita sudah menutup sambungan telepon nya, dan beralih menghubungi David namun nomor David sedang tidak bisa di hubungi, Devita pun berdecak kesal.
'' Hei kau! Lamban sekali..!'' teriak Zahla pada sang supir ambulans tersebut. Karena sudah tidak bisa mengontrol diri, Devita terus saja berteriak pada siapapun yang ada di dekatnya.
'' Mom, David?'' tanya Zahla yang masih menahan rasa nyerinya.
'' Tenang ya sayang, kau tidak perlu memikirkan apapun,'' ..
Sesampainya di rumah sakit, Zahla pun langsung di larikan ke UGD dan segerakan di periksa oleh dokter khusus yang akan menangani kandungan.
'' Nyonya, maaf. Dokter akan menjalankan serangkaian tes, mulai dari pemeriksaan fisik hingga penunjang, seperti USG dan tes darah, untuk mencari tahu apakah perdarahan tersebut merupakan darah keguguran atau bukan. Jadi mohon doa dari anda.'' Ucap seorang wanita berpakaian suster.
''Bi.. bibi? ada apa?'' tanya Davin yang baru saja datang, karena mendengar kabar dari teman dokter nya yang mengatakan kalau keluarga sedang ada di UGD.
'' Oh kau Vin, tolong coba hubungi David, Zahla pendarahan.'' David tersentak, ia pun segera mencoba menghubungi David dari ponsel sampai nomor kantornya.
Seorang pria yang sudah tidak lagi muda berlarian melewati orang-orang yang menyapanya dengan hormat namun tidak sama sekali ia hiraukan. Mencari-cari keberadaan seseorang dan langsung menghampiri nya setelah melihat orang yang tengah di cari.
'' Sayang?'' panggilnya.
'' Dad, anak kita-'' ucap Devita yang sudah tidak bisa menutupi rasa khawatirnya. Ya pria yang berlarian itu adalah Daniel.
__ADS_1
'' Ada apa?'' tanya Daniel yang juga khawatir namun masih memasang wajah tenang nya.
'' Entahlah, tiba-tiba Zahla pendarahan. Aku takut terjadi sesuatu,''
'' Jangan berpikiran buruk, berdoa lah. Agar Zahla baik-baik saja.'' Daniel memeluk Devita agar istrinya itu sedikit lebih tenang.
'' Apa kau sudah menghubungi David?''
'' Davin yang sedang mencoba menghubungi nya.''
Daniel mengajak Devita untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan, memberikan minum agar istrinya lebih tenang, tapi ketika melihat para perawat yang bergantian masuk membuat keduanya semakin di landa ketakutan.
Dokter yang menangani Zahla keluar dan menghampiri mereka, mata Daniel memicing karena merasa ada sesuatu yang terjadi karena terlihat dari raut wajah dokter itu. '' Ada apa? bagaimana keadaannya?''
'' Tuan, apa kalian tahu golongan darah, Nona Zahla?'' Daniel dan Devita saling menatap tanya.
'' Kami sudah mencari ketersediaan darah yang Nona Zahla butuhkan saat ini, tapi karena darah yang Nona Zahla miliki termaksud golongan darah yang sangat langka, akan sulit mencarinya.'' Jelas dokter pada Daniel dan David.
'' Memangnya golongan darah apa yang menantu ku miliki?'' tanya Daniel dengan rasa penasarannya.
'' Golden blood.''
'' Ambil darah ku, aku memiliki nya.'' Sambar Devita yang memang dia pun memiliki golongan darah langka tersebut.
Daniel menoleh ke arah Devita, yang bahkan tidak berpikir terlebih dahulu untuk memberikan darahnya untuk Zahla, Daniel tersenyum bangga karena kebaikan istrinya.
'' Wah, iya! istri ku kebetulan memiliki darah langka itu.'' Timpal Daniel.
__ADS_1
Dokter yang mendengarnya pun segera membawa Devita untuk melakukan transfusi darah untuk Zahla yang memeng membutuhkan donor dengan segera.
'' Mestinya anda bertanya lebih dulu. Kelak jangan pernah melakukan hal yang sama lagi lain kali, pada siapapun itu!'' tegas Daniel pada dokter itu karena memang kelalaian dokter yang tidak bertanya lebih dulu perihal siapa yang mempunyai golongan darah yang sama dengan pasien akan berakibat fatal jika terlambat menanganinya. Dan Daniel pun hanya menegur nya ketika Devita sudah di bawa oleh seorang asisten dokter.