
Pagi-pagi sekali Zahla sudah bersiap untuk pergi ke kantor, semalaman ia benar-benar tidak dapat memejamkan matanya, perintah Daniel rupanya telah berhasil mengusik ingatannya.
Masih dalam keadaan yang sepi, Zahla berjalan dengan bermindik-mindik, ia ingin menghilangkan rasa syok nya ke dalam pekerjaannya di kantor.
Setelah sampai kantor yang masih dalam keadaan sepi pula, Zahla langsung mengganti seragam nya ke ruang ganti khusus pekerja office girl, setelah siap ia langsung membersihkan Pantry. Apapun ia kerjakan bertujuan agar pikirannya teralihkan dan ternyata berhasil.
Di Mansion utama, semua sudah berkumpul di meja makan terkecuali dua manusia yang kemarin di sidang oleh tuan besar Daniel Carroll, yaitu David dan Zahla.
''Anak mu tidak ikut sarapan?'' tanya Daniel yang sedang membaca laporan perusahaan CR Corp yang baru saja di berikan Zen.
''Entahlah, biar aku panggil,'' saat Devita ingin beranjak dari duduknya, David berlarian ke ruang makan dengan wajah bingungnya seperti sedang mencari seseorang.
''David, kenapa kau berlari seperti itu?'' tanya Devita yang sudah kembali duduk.
''Apa kalian melihat Zahla?''
''Zahla? tidak,bukannya dia di kamarnya?''
''Tidak mom, Zahla sudah tidak ada di kamarnya,'' sahut David dengan wajah cemasnya.
''Mungkin saja dia memilih melarikan diri ketimbang bertunangan dengan mu,'' sambung Daniel dengan nada yang mengejek.
''Astaga, Daniel. Kau ini,'' bisik Devita yang langsung menyenggol suaminya agar tidak ikut bicara.
David berdiri dengan perasaan yang masih cemas, ia takut apa yang di katakan Daniel benar-benar kenyataan.
'Kalaupun begitu, aku tidak akan membiarkan mu pergi kemanapun, karena kau hanya boleh ada di dekatku.' Tekat David dalam hatinya.
''Mom aku pergi ke kantor!'' pamit David sembari berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari sang Mommy.
''Kau tidak sarapan dulu nak!'' sahut Devita dengan berteriak.
''Tidak mom, biar aku makan di kantor saja,'' balas David yang sudah jauh.
''Hei anak kurang ajar! apa disini hanya ada Mommy mu saja!'' teraik Daniel yang marah karena David anaknya hanya berpamitan dengan ibunya saja.
__ADS_1
''Daniel, kau ini.''
''Kau lihat kan sayang, anak itu benar-benar tidak menghargai ku,'' ucap Daniel
''Sudahlah, lanjutkan makan mu,'' sahut Devita yang tidak ingin memperpanjang urusan yang sudah biasa terjadi jika David dan Daniel bertemu.
David mengendarai mobilnya dengan perasaan yang masih cemas, ia cemas memikirkan dimana Zahla saat ini, apa benar Zahla pergi dari nya hanya karena rencana pertunangan mendadak itu.
'' Shit! Aku benar-benar tidak akan membiarkan itu terjadi, kau hanya akan menjadi milik ku, aku akan menemukan mu walaupun kau bersembunyi di lubang semut sekalipun,'' gumam David dengan wajah yang menahan amarahnya.
Sesampainya ia di perusahaan yang ia bangun dengan jerih payahnya selama ini, ia langsung menuju ruangannya tanpa menoleh dan menjawab sapaan para perkeja dan karyawan-karyawan lainnya. Daniel melangkah dengan gagah, tercium aroma kemarahan di raut wajah Daniel yang kapan saja akan meledak.
Dengan kasar ia meraih gagang telepon setelah ia menduduki kursi kebesarannya itu. ''Antarkan segelas kopi ke ruangan ku,'' ucapnya dengan tegas dan menutupnya tanpa kata permisi maupun kata terima kasih.
Di Pantry, seorang office boy yang menerima panggilan dari David segera menyiapkan pesanan bos besarnya itu dengan malas karena dia tahu suasana hati CEO Arrogant itu sedang tidak baik-baik saja hari ini.
Sembari tangannya yang sibuk menyiapkan kopi, mulut nya pun terus saja menggerutu dan tidak sengaja terdengar oleh Zahla yang memang kebetulan sedang membuat pesanan karyawan lain.
''Aku juga harus menyiapkan sarapannya kan,'' ucapnya.
''Adi kau kenapa?'' tanya Zahla yang menegurnya.
''Bos kita sepertinya sedang berada di fase dimana akan ada korban makian nya,'' sahutnya.
''Siapa? Tuan David maksud mu?''
''Ya siapa lagi-'' sahutnya menjeda ucapannya sejenak. ''Ah ia, aku minta tolong ya, antarkan kopi dan sandwich ini ke ruangan tuan bos, please.. Kau kan sedikit akrab dengan nya,'' ucap office boy itu memohon kepada Zahla agar mau membantunya.
Zahla terdiam, ia benar-benar bingung, sebab ia pergi ke kantor karena ingin mengalihkan perhatian nya tapi kalau bertemu dengan David usaha nya itu hanya percuma.
Tapi melihat wajah office boy itu yang pucat karena sudah takut lebih dulu kalau harus berhadapan langsung dengan tuan Arrogant itu membuat Zahla pun tidak tega dan akhirnya menyetujui nya.
''Baiklah, berikan itu,'' sahut Zahla dengan suara yang sangat lemas.
''Terimakasih La, kau memang teman yang pengertian,'' dengan senang hati office boy itu menyerahkan sebuah nampan ke tangan Zahla.
__ADS_1
Zahla yang sudah menerima nampan yang berisikan kopi dengan sarapan David, berbalik dan akan pergi ke ruangan bosnya itu namun sebelum itu ia menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan si biang kerok yang membuat hidupnya semakin penuh drama itu.
Dengan mengetuk pintu secara perlahan, Zahla pun masuk setelah mendengar sahutan dari dalam, ia berjalan dengan kepala yang tertunduk berharap David tidak menyadari kalau dia yang saat ini sedang mengantarkan pesanannya.
David yang sedang mengecek email di laptopnya belum menyadari kalau Zahla si gadis yang membuat nya cemas di pagi hari, saat ini yang mengantarkan kopi dan sarapannya.
Tapi saat Zahla sudah menaruh nampan di meja David pun menoleh dan terkejut melihat orang yang saat ini sedang berdiri dengan kepala yang tertunduk.
Matanya memicing, dengan mengeluarkan smirk nya, ia memikirkan rencana hukuman untuk Zahla yang berhasil membuatnya cemas pagi ini.
''Ambil lagi nampan itu,'' perintah David dengan tegas dan membuat Zahla mengangkat kepalanya menatap langsung wajah David.
''Kenapa? apa pesanannya salah?'' tanya Zahla.
''Ambil kembali nampan itu!'' ucapnya lagi namun dengan sedikit lebih tegas dari sebelumnya.
Zahla tersentak, ia tahu saat ini David sedang marah padanya, dengan gemetar ia mengambil kembali nampan yang berisikan segelas kopi dan sarapan David.
David yang semula duduk tiba-tiba berdiri dan menghampiri Zahla yang berdiri di sebrang mejanya. Zahla benar-benar gugup, ia memundurkan langkahnya dengan pelan tapi tetap saja David melangkah maju ke arahnya.
Tatapan keduanya bertemu dengan Zahla yang menatap gugup dan David yang menatapnya dengan tajam. ''Pegang itu baik-baik, jangan sampai jatuh karena nampan dan piring juga gelas itu sangatlah mahal harganya,'' ucap David dengan suara yang dingin.
''Ya, tentu saja,'' sahut Zahla yang masih gugup.
Dan tiba-tiba, Cuppp. Ya David mengecup singkat bibir Zahla secara tiba-tiba tanpa permisi, ya David kembali menciumnya dengan licik, ia memanfaatkan kesempatan ketidakberdayaan Zahla karena kedua tangannya yang sedang memegang nampan.
''Anggap saja itu hukuman untuk mu karena membuat ku cemas pagi ini,'' ucap David dengan senyuman liciknya, Zahla memasang wajah bodohnya karena terkejut dengan apa yang di lakukan David.
David tersenyum melihat wajah Zahla yang bagi itu benar-benar menggemaskan dan David pun kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Zahla dan mengulang kembali kecupannya itu namun kali ini bukan hanya sekedar kecupan saja.
David terus melahap habis bibir Zahla dengan tangan yang masih berada di saku celananya,bibir David terus m**umat bibir mungil Zahla tanpa henti sampai dengan Zahla yang tidak sama sekali membalas ciuman David karena masih syok.
David pun melepaskan pagutan itu dan mengelus rambut Zahla dengan lembut, " letakan itu kembali, aku lapar" ucapnya sembari melangkah kembali ke kursinya tanpa merasa bersalah karena perbuatannya membuat Zahla tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah menaruh kembali nampan itu, Zahla pun berlalu pergi dari ruangan David dengan wajah yang merona merah.
__ADS_1