Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Haru Biru


__ADS_3

Rangkaian demi rangkaian terlewati dengan sempurna dan hikmat, dari acara dansa, games antara pasangan kekasih sampai undian yang di adakan oleh nyonya besar itu sendiri, yang hadiahnya bukan main-main harganya, dan sampailah di sebuah puncak acara yaitu pemotongan kue yang wajib di lakukan sang empunya acara, Devita dan Daniel, nyonya dan tuan besar Carroll.


Tamu yang di batasi, hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat dan rekan bisnis Daniel, ikut serta merasakan ke seruan acara tersebut.


''Ke marilah sayangnya mommy, potongan kue ini khusus untuk anak perempuan mommy,'' seru Devita memanggil Zahla yang berdiri di samping David.


Sungguh, Zahla merasa bahagia dengan apa yang di ucapkan mertuanya ini, anak perempuan? inikah rasanya memiliki ibu? batin Zahla bergejolak haru.


Zahla melangkah perlahan menuju mertuanya yang saat ini sedang tersenyum untuknya, Devita meraih lengan Zahla agar segera mendekat padanya, ''hehehehe, maaf menantu ku ini sedikit pemalu,'' ucap Devita kepada para tamu.


Devita memberikan potongan kue kedua itu pada Zahla sekaligus menyuapinya dengan kelembutan, dan suara sorai tepuk tangan pun memenuhi ruangan yang di hias indah itu.


''Baiklah, acara suap-menyuap nya akhiri saja, karena aku akan memberikan sesuatu pada kalian sebagai hadiah,'' potong David menghentikan tepuk tangan semua orang.


Nada bicara David berbeda, tatapannya yang tajam membuat semua orang bertanya-tanya, termaksud kedua orang tuanya.


Tangan David merogoh saku mantelnya dan ada sebuah kotak panjang yang tidak di hias layaknya sebuah kado.


''Ambilah, ini hadiah untuk kalian,'' ucap David dengan suara yang ketus.


''Jika kau tidak berniat memberikan hadiah pada kami, tidak perlu,'' sindir Daniel dengan suara yang tak kalah sinis namun Devita yang mendengar suaminya berkata seperti itu tentu merasa tidak suka dan langsung mencubit bagian perut sebelah kirinya.


''Jangan bicara lagi,'' bisik Devita dengan mengeratkan giginya.


''Kalian mau tidak?'' tanya David dengan kesal, ya tentu tidak heran bagi semua orang David kerap bersikap arogan karena yang mereka tahu Ayah dari David yang tak lain Daniel Carroll adalah seorang pria yang terkenal arogannya.


''Tentu saja mau, mommy tidak akan menolaknya karena ini hadiah pertama yang kamu berikan pada mommy dan Daddy,'' sahut Devita dengan menyindir David secara halus.


Zahla yang mendengar ucapan mertuanya, merasa heran dan tentu terkejut dengan hubungan antara anak dan orang tua itu, mata Zahla melirik ke David dan David yang menyadari istrinya melirik tajam kepada nya seketika membuang pandangan ke arah lain.

__ADS_1


''Dia benar-benar arogan,'' gumam Zahla dalam lubuk hatinya.


''Baiklah apa mommy perlu buka sekarang?'' tanya Devita.


''Terserah,'' sahut David yang masih membuang pandangannya.


Tangan Devita merasa gatal karena ingin tahu apa yang di berikan pada anak semata wayangnya sebagai hadiah untuk mereka, namun saat tangannya sudah berhasil membuka kota tersebut, alis matanya pun menyatu heran.


''Kertas? ini bukan nilai ujian kan?'' gumam Devita yang melanjutkan membuka hadiah dari anaknya itu. Sebuah gulungan kertas Devita keluarkan dari kotak nya dan perlahan ia buka dan cermati apa isinya.


Ekspresi wajah Devita kian berubah dengan bibir yang bergerak membaca isi gulungan kertas itu, matanya membasahi, alis matanya turun, dan bibirnya berhenti membaca.


Daniel yang merasa aneh dengan istrinya, memastikan apa yang saat ini istrinya baca, kepala Daniel menunduk melihat istrinya yang tengah menatap secarik kertas itu, alis matanya mengernyit bingung. ''Kau menangis? memangnya apa yang dia berikan?'' tanpa permisi, Daniel merebut kertas itu dan ikut membacanya, ekspresi Daniel tentu berbeda dengan Devita, Daniel hanya diam dengan raut yang datar.


''Sayang.. kau hamil?'' tanya Devita menatap Zahla dengan air mata yang masih tergenang di pelupuk nya.


Zahla tidak menyahut, ia hanya melemparkan senyum manisnya sebagai perwakilan dari pertanyaan mertuanya.


''Mom sudah, kasihan calon anak ku, tertekan seperti itu.'' Tegur David dengan suara yang pelan.


''Aah, iya.. maafkan mommy, mommy hanya terharu..''


Haru biru itupun berlangsung selama acara, dan tamu yang hadir pun ikut merasakan haru dan senang karena bisa menyaksikan langsung kebahagiaan keluarga Sultan itu.


***


Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, di sebuah ruang keluarga, keluarga besar Carroll berkumpul berbincang yang tak lain terus membahas soal kehamilan menantu kesayangan mereka.


''Haaahhh, aku sungguh iri pada kalian, anak ku Devan, sudah sedewasa itu pun belum juga berniat untuk melepaskan setatus nya sebagai lajang,'' ucap wanita yang tak lagi muda itu namun masih terlihat cantik, Dinar. Kakak perempuan Daniel Carroll.

__ADS_1


''Kak.. Mungkin Devan masih ingin fokus dengan karir nya,'' sambar Devita.


''Atau mungkin memang tidak ada yang mau dengan nya,'' celetuk David dengan sembarang dan mendapatkan tatapan tajam dari Zahla dan Mommy nya.


''Sembarangan kau, '' sahut sang punya nama yang baru saja datang, Devan. Kakak sepupu dari David.


''Akhirnya kau datang juga,'' ujar Dinar.


''Maafkan aku, Bi. Banyak pasien yang harus ku tangani,'' ucap Devan yang merasa bersalah karena tidak dapat menghadiri pesta ulang tahun pernikahan mereka.


''Tidak masalah Devan,''...


''Oh ya, Paman Daniel mana?'' tanya Devan yang mencari keberadaan Daniel yang entah kemana perginya.


''Oh iya, aku tidak melihatnya sejak tadi,'' ucap Devita yang juga baru menyadari kalau suaminya tidak ada sejak tadi.


''Astaga,, dia pergi saat setelah melihat hadiah dari David, mungkin saja sedang di ruang bacanya, biarkan saja dulu. Kalian tentu paham dengan sifat dan sikapnya,'' sambar Zen yang lebih mengenal Daniel dari siapapun.


Ya, semua tentu paham dengan sifat Daniel namun terkecuali dengan Zahla yang bingung dengan apa yang di ucapkan paman dari suaminya itu.


''Apa Daddy, tidak menyukai kabar kehamilan ku?'' ucap Zahla dengan tiba-tiba dan membuat semua orang menoleh ke arahnya.


''Tentu tidak begitu, sayang. Dia seperti itu saat sedang merasa terharu, dia tidak mau ekspresi selain datarnya terlihat siapapun.'' Sahut Devita dengan cepat karena tidak mau menantunya itu salah paham dengan sikap papa mertuanya.


''Wait.. wait.. kehamilan? kau hamil, adik ipar?'' potong Devan yang memang hanya dia yang tidak mengetahui nya.


''Iyah kak, kakak ipar sedang mengandung penerus keluarga kita,'' sahut Emily.


''Benarkah?''

__ADS_1


''Bagaimana bisa?'' gumam Devan dalam hati.


''Aahh, iya syukurlah. Selamat ya Zahla, David.'' Lanjutnya, dan hanya mendapatkan anggukan dari David dan mendapatkan senyuman manis dari Zahla.


__ADS_2