Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
SIDANG


__ADS_3

Suasana hening melanda sebuah ruangan yang terdapat beberapa orang di dalamnya, antara lain ialah Daniel, Devita, Puspa, Kemal juga Zen. Mereka duduk diam dengan perasaan yang bingung.


Ya Daniel memanggil semua orang secara tiba-tiba dan mengumpulkan nya tentu membuat bingung semua orang tak terkecuali istrinya, Devita. Tidak biasanya Daniel mengumpulkan semua orang dengan tiba-tiba seperti itu kalau tidak ada sesuatu terlebih lagi raut wajah Daniel yang terlihat sangat serius membuat semua orang tegang karena nya.


Suara langkah kaki membuat perhatian semua orang teralihkan ke arah pintu terkecuali Daniel yang masih dengan tatapan datarnya yang jauh kedepan.


David dan Zahla melangkahkan kakinya ke dalam ruangan sang Ayah, ya dengan Zahla yang sedari tadi berjalan dengan menundukkan kepalanya karena tidak percaya diri berada di tengah-tengah keluarga konglomerat seperti mereka.


''Daddy memanggil ku?'' tanya David setelah berdiri di antara mereka.


''Duduk,'' perintah Daniel dengan tegas.


David pun duduk di sofa yang memang di khususkan untuk mereka berdua duduki, namun Zahla yang masih merasa bingung masih saja berdiri di samping sofa.


''Kau juga duduk,'' perintahnya lagi yang tertuju pada Zahla. Gadis 23 tahun itu tercengang karena kali ini Daniel bicara padanya dan masih dengan wajah takutnya tangan nya sudah di tarik lembut oleh David agar duduk di sampingnya.


''Ada apa sebenarnya? kenapa kita berkumpul disini?'' tanya David tanpa rasa takut dan tidak ada satupun jawaban dari siapapun.


Beberapa saat memang ada keheningan sejenak, tapi Daniel yang tidak mau berbasa-basi akhirnya ia memulai pembicaraan dengan deheman nya terlebih dulu.


''Menurut kalian apa penyebab kalian di panggil kesini?'' tanya Daniel.


''Sebenarnya ada apa sih, sayang?'' tanya Devita yang ingin membunuh rasa penasarannya.


Pertanyaan Devita pun tidak sama sekali di jawab Daniel, karena sedari tadi mata Daniel hanya tertuju pada anak laki-laki nya saja yang juga menatapnya.


''Apa kalian memiliki hubungan khusus?'' tanya Daniel.


Zahla yang mendengarnya langsung mengangkat kepalanya dan menatap David yang juga membalas tatapannya, namun David hanya memberikan sebuah kedipan mata menandakan bahwa tidak ada yang patut di takuti olehnya.

__ADS_1


''Apa maksud Daddy bertanya seperti itu?'' namun tidak ada jawaban dari Daniel, ga karena Daniel bertanya untuk di jawab bukan untuk di pertanyakan lagi, yang seharusnya David sendiri tau akan hal itu.


''Ck, sial. Kenapa juga aku bertanya lagi padanya,'' gumam David yang kesal karena pertanyaan tidak terjawab dan diapun tau alasannya kenapa.


''Kalian harus melangsungkan pertunangan sesegera mungkin,'' ucap Daniel yang langsung mendapatkan tatapan terkejut dari semua orang begitu juga Zahla yang terkejut bukan main setelah pendengaran nya menerima suara yang bagaikan gledek itu.


''Daddy?'' tanya Devita yang masih terkejut namun sebenarnya ia mendengar nya merasa bahagia.


''Ya kalian bertanggung jawab atas persiapan acaranya,'' ucap Daniel lagi pada Devita dan adik-adiknya.


Zahla terdiam dengan kepala yang tertunduk, ia benar-benar syok mendengar ucapan Daniel yang begitu tiba-tiba itu, pasalnya memang dia dengan David pun tidak memiliki ikatan hubungan apapun terkecuali hanya hubungan atasan dan bawahan, tidak lebih.


''Aku tau alasan Daddy meminta ku dan Zahla segera bertunangan, ya sudahlah.'' Gumam David dalam hati nya yang bersorak ria karena itu juga dia sangat harapkan.


''Maaf Paman,'' tiba-tiba Zahla berdiri dan langsung angkat bicara.


''Saya tidak mau mendengar alasan apapun,''


''Dan saya memiliki hak untuk tidak menyetujuinya,'' ucap Zahla menyahuti ucapan Daniel, dan tanpa berpamitan Zahla pun berlalu begitu saja dari sana.


''Lho, lho.. Zahla.. Sayang!'' panggil Devita namun Zahla tidak sama sekali menoleh karena panggilan nya.


David terdiam, ia bingung kenapa Zahla bersikap seperti itu, Tidak memiliki hubungan apapun! lalu kenapa Zahla mau di cium? pikir David.


''David?'' tatapan tajam Daniel langsung tertuju pada David, meminta penjelasan atas sikap Zahla dan ucapan gadis 23 tahun itu.


Namun entah kenapa kali ini David tidak bisa membalas ucapan Daniel sama sekali, ia hanya menggaruk kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Bibir Daniel terangkat sebelah, merasa lucu melihat raut wajah frustasi dari sang anak yang baru pertama kalinya ia lihat, yang biasanya selalu memasang wajah datar dan sombongnya namun tidak untuk kali ini, anak laki-laki nya itu hanya diam dengan raut wajah yang bingung dan frustasi atas penolakan Zahla.

__ADS_1


''David? bagaimana? apa kau masih mau menyombongkan diri mu?'' ucap Daniel dengan sedikit ledekan.


''Mungkin, gadis itu masih terkejut Niel, maka dari itu dia menolaknya,'' sambung Zen.


''Bisa jadi,'' sahut Daniel dengan sedikit terkekeh.


''Biar mommy yang bicara pada Zahla,'' saat Devita akan beranjak tapi Daniel mencegahnya.


''Tidak perlu,'' cegah Daniel. ''Biarkan itu menjadi tanggung jawab anak mu sebagai pria sejati dan bertanggung jawab.'' Ucapnya lagi.


***


Di kamar, Zahla duduk di ranjang nya dengan pandangan kosong, ia benar-benar tidak menyangka kalau tiba-tiba orang tua dari bos nya itu menyuruh nya untuk bertunangan dengan anaknya.


Air matanya tiba-tiba saja menetes, entah karena apa, tapi perasaan nya benar-benar di landa kebingungan, dada nya berdebar kencang dan merasa serba salah.


''Bertunangan? bahkan diapun tidak pernah mengatakan hal yang menjurus kesana,'' gumam Zahla.


Tiba-tiba ingatannya tertuju pada adegan di saat dirinya di cium oleh David dengan begitu mesranya, tangannya bergerak sendiri menyentuh bibir bekas kecupan David. 'Aakkhhhhhh' ia berteriak dengan kaki yang terus saja menendang-nendang sisi ranjang.


''Ini ciuman pertama ku, kenapa dia mencurinya!'' teriaknya.


''Dan karena itu dia berpikiran kalau sudah memiliki hubungan dengan ku, begitu? hanya dengan cara itu?'' lanjutnya.


'' Kenapa aku terjebak dalam keluarga aneh ini!'' rengek nya dengan wajah yang dia tekan di kasur agar teriakannya tidak terdengar sampai keluar kamar.


Di sisi lain, David yang sudah berada di kamarnya, sedari tadi hanya berjalan mondar mandir di depan cermin. ''Apa maksud nya berkata seperti itu?''


''Dia menolak ku?'' David terus saja bicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2