Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Bisikan Jahil Daniel


__ADS_3

Kesehatan David semakin lama semakin membaik, bahkan ia sudah mulai merespon ucapan dari dokter walaupun hanya dengan gerakan tangan nya, tapi dokter pun merasa aneh karena mata David seakan sulit terbuka namun telinganya berfungsi dengan baik.


Zahla yang melihat perkembangan kesehatan suaminya cukup senang, walaupun ia juga belum merasa lega karena David masih memejamkan matanya.


'' Suami ku.. Apa kau tidak merindukan ku, hmm? bukalah matamu, lihatlah perut ku semakin membesar, apa kau tidak mau menyentuh nya?''


'' Menantu, kau istirahatlah, pikiran juga keadaan calon anak mu, biar David, Daddy yang jaga. Kau pulanglah dulu bersama Mommy mu.'' Ucap Daniel yang memang juga berada di sana.


'' Tapi Dad-''


'' Benar apa yang di katakan Daddy mu, ikutlah pulang bersama Mommy ya?'' setelah terdiam sejenak akhirnya Zahla pun menyetujuinya, ya sudah sebulan lebih ia menetap di rumah sakit, tidur dan makan ia lakukan di sana tanpa keluar dan terus berada di ruangan David.


Devita menarik lembut tangan Zahla dan mengajaknya untuk pergi, namun Zahla benar-benar merasa berat meninggalkan suaminya itu, matanya terus saja menatap David tapi anggukan Daniel membuat ia sedikit lebih tenang. Sungguh baru pertama kalinya ayah mertuanya berbicara dengan nya dan tidak semenakutkan seperti dugaannya.


Tinggalah Daniel yang menjaga anaknya seorang diri, matanya menatap anak semata wayangnya, walaupun hubungan antara anak dan ayah itu tidaklah begitu baik, tapi Daniel tetap menyayangi David layaknya kasih sayang seorang ayah pada anaknya namun Daniel memang tidak pandai mengekspresikan perasaan nya.


'' Kau ini anak ku kan? kenapa kau masih betah berada di dunia mu sendiri, apa kau tidak lagi mencintai istri mu itu, apa kau tidak lagi menginginkan anak mu, hah!'' Daniel berceloteh memarahi David.


'' Ck, bahkan karena wanita itu kau sampai menentang ku. Tapi setelah aku memberikan kesempatan kau malah menyia-nyiakannya.'' Daniel menundukkan kepalanya, tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, merasa tidak berguna sebagai seorang ayah.


Mungkin orang luar mengira kalau dirinya tidak peduli dengan keadaan anaknya, tapi sungguh ia juga hancur melihat anak semata wayangnya menderita dengan selang-selang yang menancap di tubuhnya, merasa sedih melihat menantunya setiap malam menangis memeluk tangan David, anaknya.


Ya, tanpa sepengetahuan siapapun, Daniel selalu datang saat malam tiba, melihat keadaan anaknya, dan memastikan kalau perkembangan kesehatan David bagus adanya.


'' Aku beri kesempatan kau beberapa hari, kalau kamu tidak membuka mata mu, aku akan-'' Daniel mwnjeda ucapannya, tubuhnya ia condongkan ke samping telinga David, lalu berbisik sesuatu.


'' Kau dengar kan?'' Daniel mengulumkan senyuman, alisnya di angkat satu, tangannya ia lipat. Dengan melihat raut serta ekspresi wajah pria yang sudah tidak muda lagi itu seperti merencanakan sesuatu, tapi apa? entahlah.

__ADS_1


Jari-jari David bergerak, merespon apa yang sepertinya Daddy nya itu katakan, Daniel tersenyum puas, tapi respon itu tidak bertahan lama, karena David kembali terdiam.


Tapi Daniel cukup senang karena David sudah mulai merespon walau belum sepenuhnya sadar.


'' Baik, aku tunggu keputusan mu ya,'' ucap Daniel lagi.


Di perjalanan, Devita dan Zahla duduk di kursi belakang, Devita yang terus berbicara karena berusaha mengalihkan perhatian Zahla dari pikirannya yang masih memikirkan David di rumah sakit sana.


'' Coba katakan pada Mommy, kau sedang ingin makan apa?''


'' Tidak Mom, aku sedang tidak ingin apapun.''


'' Benarkah? kalau Mommy meminta di temani membuat kue, apa kau mau?'' Zahla menoleh ke ibu mertuanya, dan tersenyum dengan manisnya.


'' Kau mau?'' Zahla mengangguk dan Devita pun mengelus kepala Zahla dengan sayangnya.


'' Oh ya Mom, sudah dua hari ini, aku tidak melihat Emily, dia tidak datang ke rumah sakit, apa dia sedang sibuk dengan ujian?'' Tanya Zahla, Devita terdiam, ia juga baru menyadari kalau keponakan tersayang nya itu terlihat beberapa hari ini.


'' Di luar jangkauan? oh aku akan bertanya dengan ibunya?'' Devita kini beralih menelpon Puspa ibu dari Emily.


~


Di perusahaan Heinze internasional, Kevin yang sedang mempelajari berkas kontrak nya dengan calon koleganya tiba-tiba konsentrasi nya buyar karena mengingat ucapan pembantu nya tadi pagi.


'' Gadis?'' gumam Kevin.


Ya saat Kevin sedang menikmati sarapannya, Neni sebutan Kevin untuk pembantu nya itu mengatakan kalau gadis yang di bawanya sangat cocok dengannya. Kevin yang merasa aneh dengan ucapan Neni akhirnya bertanya pada penjaga rumah dan jawaban hampir sama dengan Neni yang mengatakan kalau, benar, saat malam itu dia pulang bersama seorang gadis cantik yang membantunya sampai ke kamar nya, tapi sungguh Kevin tidak ingat apapun.

__ADS_1


Kevin semakin di buat penasaran, tapi pria 29 tahun itu tidak ambil pusing, ia pun melanjutkan pekerjaannya.


Setelah pekerjaan selesai, Kevin sangat ingin pulang ke rumahnya, beristirahat di kamar nyamannya, sesampainya di rumahnya, ia segera menuju anak tangga menuju lantai atas tapi suara Neni yang memanggilnya menghentikan langkahnya.


'' Nak Kevin, maaf. Neni hanya ingin bertanya.'' Ucap Neni dengan tangannya memegang sebuah kain.


'' Ya, ada apa Neni?''


'' Eemm anu,-''


'' Kenapa?''


'' Maaf noda ini tidak bisa hilang, apa tidak apa-apa jika sprei ini di buang saja, karena saya sudah mencoba membersihkan nya tapi sepertinya memang bahan dari sprei tidak gampang di bersihkan jika ada noda.'' Kevin melirik sprei yang ada di tangan pembantu rumah nya, alisnya menyatu heran.


'' Apa itu terkena lunturan dari pakaian lain?'' pertanyaan Kevin membuat wanita paruh baya itu tercengang.


'' Lu-lunturan? ta-tapi ini seperti noda darah,'' jawab wanita tua itu dengan suara yang memelan.


'' Darah? darah apa?'' Kevin mengambil alih seprei itu dan memang beberapa noda darah yang sudah mengering mengotori sprei nya, tapi darah apa itu?


Kevin kembali menatap pembantu nya yang sepertinya gugup terlihat dari gerak-gerik nya. Mata Kevin memicing merasa kalau Neni itu, sedang menyembunyikan sesuatu dari nya.


'' Mungkin saja itu darah dari gadis itu, nak.'' Ucap Neni dengan suara yang sangat pelan karena memang dia sangat tidak enak untuk mengatakannya langsung.


'' Gadis? gadis mana yang Neni maksud?''


'' Gadis cantik yang membawa mu pulang dengan keadaan mabuk malam itu.'' Kevin terdiam sejenak, tapi tiba-tiba matanya melebar dan berlari menuju sebuah ruangan yang letaknya di ujung lorong.

__ADS_1


Ruangan yang penuh dengan komputer dan teman-teman nya, Kevin mengecek perlahan sebuah rekaman video yang merekam suasana dan keadaan rumahnya dengan khawatir. '' Astaga, apa aku membawa salasatu wanita malam itu kerumah ku,'' ucap Kevin dengan panik, tangannya dengan lincah memeriksa rekaman tepat malam dimana ia mabuk berat itu.


Semula matanya memicing memperjelas potongan gambar yang di chapter dari rekaman video rumahnya, mulutnya terbuka lebar, tangannya bergetar hebat, jantung nya berdetak kencang, ia terkejut dengan apa yang di lihatnya.


__ADS_2