
Seseorang yang awalnya di kenal bersifat humble namun tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang dingin, tertutup dan tempramen karena sebuah peristiwa yang sepertinya meninggalkan luka yang amat dalam pada kehidupan nya.
Kevin Heinze, pria 29 tahun itu tiba-tiba berubah 180° sejak kepergian wanita yang di cintainya, dan gosip itu sudah melebar luas, banyak yang menggunjing membicarakan perubahan sikap Kevin terutama kalangan wanita yang sering di goda Kevin.
'' Aku kehilangan sosok pria yang hangat.''
'' Ya, sejak kematian model itu, dia berubah drastis.''
Itu hanya beberapa yang membicarakan nya, karena satu kantor khususnya para wanita terus membicarakan nya saat waktu luangnya.
Mereka membisu ketika sosok yang di bicarakan nya lewat dengan kepala yang terangkat, dengan raut wajah yang dingin, tidak ada sapaan seperti biasanya bahkan saat para karyawan nya menyapa pun tidak sama sekali di gubris nya.
Tidak terima kesalahan apapun, pemecatan jalan ninja nya. Ya seperti kejadian dua hari yang lalu, saat cleaning servis melakukan kesalahan yang tidak di sengaja, menumpahkan minuman ke sepatu pantofel nya, dan berakhir dengan surat pemecatan.
'' Siapkan mobil ku.'' Ucapnya pada asisten pribadinya tanpa ada kata 'tolong' seperti biasanya.
'' Maaf Tuan, tapi 20 menit lagi, pihak Zero group akan datang untuk tanda tangan kontrak.''
'' Apa aku meminta persetujuan mu untuk melakukan apapun?'' mata nya menatap tajam, pria yang usianya jauh di bawahnya hanya bisa menundukkan kepalanya karena tidak bisa lagi menahan apa yang akan di lakukan bos nya itu terkecuali dia ingin surat pemecatan ada di atas mejanya.
'' Maaf Tuan.''
Tapi walau ia sekarang lebih dikenal dengan sikapnya yang sangat arogan bisa di katakan. Perusahaan yang ia kelola berjalan dengan sangat baik, investor-investor berdatangan untuk investasikan dananya ke dalam perusahaan yang sebelumnya akan bangkrut dan setelah Kevin yang menangani nya melesat dengan sangat sukses.
Berjalan dengan jas biru tua dan kaca mata hitam sebagai pemanis untuk penampilannya, Kevin terlihat sangat lah tampan tapi ada yang hilang yaitu senyumannya yang sering di tebar untuk menyapa para karyawan wanita.
Mengemudi dengan serius ia sampai di halaman rumah sakit, berjalan melewati para pengunjung juga suster-suster yang membawa para pasien. Aura ketampanan yang di tambah dengan kegagahan nya tidak bisa ter'palingkan.
'' Zahla.''
'' Kakak? kakak datang?''
'' Apa kau sudah makan? bagaimana keponakan ku?''
__ADS_1
'' Dia baik-baik saja di dalam sana kak.''
Mata Kevin berkeliling memperhatikan ruangan kamar inap David. '' Kau sendirian?'' Zahla mengangguk.
'' Dimana yang lain? Bibi, Paman. Apa mereka tidak ke sini?''
'' Sebentar lagi mungkin mereka datang, Mommy tadi bersama dengan ku disini, tapi karena aku tiba-tiba sangat ingin masakan Mommy, Mommy pun pulang sebentar untuk memasakannya.'' Kevin mengangguk pelan, dia cukup lega karena memang adiknya di perlakukan dengan baik oleh ibu mertuanya.
Getaran yang berasal dari gawai yang di sakunya membuat Kevin berdecak kesal.
'' Sebentar.'' Kevin pun berjalan ke sudut kamar dengan menghadap keluar gedung lalu mengangkat panggilan telepon.
Zahla melanjutkan kegiatannya yang belakangan ini menjadi hobi nya yaitu menyulam sebuah kaus kaki kecil yang sudah pasti ia buat untuk anaknya kelak. Tapi perhatian nya teralihkan karena tidak sengaja mendengar perbincangan Kevin dengan seseorang di sebrang sana.
Sejak kapan Kevin bersikap kasar? dan kenapa? kenapa ia berkata seakan-akan sudah terbiasa dengan perkataan kasar? Zahla memandangi Kevin yang berdiri membelakanginya.
'' Kenapa seperti aura David yang pertama kali aku jumpai ada di diri kakak?''
Sungguh Zahla sangat bingung di buatnya karena yang dia tahu, kakak nya itu sangat lah periang juga humble pada siapapun itu yang berbanding terbalik dengan suaminya yang memang sudah arogan sejak lahir.
Suara pintu yang terbuka terdengar, Zahla menoleh dan tersenyum karena yang datang adalah adik kesayangannya, Emily Carrollin. '' Kakak!-'' panggil Emily dengan sedikit kencang dan tiba-tiba membungkam karena melihat sosok pria di sudut ruangan itu.
'' Emily, kemarilah.. Lihat ini.'' Ucap Zahla memanggil Emily yang mematung di ambang pintu.
'' Ya kak, aku datang.'' Emily berjalan ke arah Zahla dengan sesekali mencuri pandang ke arah Kevin.
Perlakuan Kevin tempo hari padanya tentu belum juga hilang dalam ingatan nya, tapi tidak dapat di pungkiri, perasaannya terhadap pria yang usianya terpaut jauh itu semakin dalam.
Zahla terus berceloteh membicarakan kaus kaki mungil yang di buatnya namun Emily hanya diam dengan terus menatap punggung Kevin.
'' Entah kenapa aku merasa untuk memiliki mu hanyalah halusinasi ku, kamu objek yang nyata namun terasa fatamorgana.'' Ucap Emily dalam hatinya.
Emily tersadar saat Kevin berbalik dan berjalan ke arahnya dan duduk di depannya dan Zahla. Tidak ada sapaan akrab seperti dahulu dari Kevin untuk Emily, Kevin hanya berbicara dengan Zahla tanpa melirik sedikit pun ke arah gadis yang sangat menggilainya itu.
__ADS_1
'' La, kakak pergi dulu ya, salamkan salam kakak pada Bibi nanti. Kamu jaga diri baik-baik, jaga pola makan mu, dan jangan terlalu setres, hmm?'' Kevin pun berdiri begitu juga dengan Zahla, dengan sayang Kevin mengelus kepala adiknya itu dan Zahla memeluknya sebentar.
Ya perlakuan hangat masih berlaku hanya pada Zahla tidak dengan orang lain termaksud Emily, tapi kenapa? entahlah hanya Kevin yang tahu alasannya.
Kevin hanya melirik Emily sebentar yang sejak tadi menatapnya, lalu pergi dari sana yang hanya berpamitan pada Zahla tidak dengan Emily.
'' Apa aku ini tidak terlihat?'' Emily tersenyum getir dengan terus menatap punggung Kevin yang semakin jauh dan menghilang dari balik pintu.
Zahla tidak sengaja mempergoki tatapan Emily ke Kevin, bukan tidak menyadari, bahkan Zahla pun ikut terheran-heran karena sikap Kevin yang hanya terbuka pada Zahla tidak dengan yang lainnya, sikap Kevin yang berubah dingin dengan Emily, bahkan sekedar menyapa pun tidak. Zahla sangat tahu kalau Kevin juga memperlakukan Emily seperti dirinya sebelum nya tapi kenapa sekarang berbeda.
''' Em, kamu kenapa?'' tanya Zahla yang melihat sebuah genangan air mata pada ujung mata bulat Emily.
'' Hah? tidak kak, ya sudah kak, kita lanjutkan lagi membuat kaus kaki nya.'' Sahut Emily sengaja mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
'' Aku akan bertanya langsung padannya nanti, kenapa dia sekarang bersikap seperti itu pada ku, memang nya salah ku apa padanya, kekasihnya yang meninggal, aku yang di jauhi.'' Gerutu Emily dalam hatinya.
Zahla yang sedang membersihkan tubuh David menutup tirainya, bisa saja salasatu suster mengurus mandi David, tapi tentu Zahla tidak mengijinkannya karena dia bertekad untuk mengurus suaminya sendiri perihal membersihkan tubuhnya.
Emily yang sejak tadi duduk di sofa sembari menunggu Zahla selesai memandikan David, terus saja menghubungi nomor Kevin karena dia sudah tidak tahan lagi untuk segera mempertanyakan sikap pria yang di anggapnya malaikat itu tiba-tiba berubah seperti iblis baginya.
Entah sudah beberapa kali Emily mencoba menghubungi Kevin, tapi tidak sama sekali di jawab nya, sampai ketika malam pun tiba.
'' Sayang, kamu bisa pulang sekarang, karena kamu juga besok ada kuliah pagi bukan? biar Zahla, Mommy yang temani, Daddy juga akan kembali sebentar lagi, dia sedang membeli selimut untuk Zahla.'' Ucap Devita menyuruh Emily untuk pulang.
Emily pun meng'iyakan nya dan berpamitan dengan Zahla dan Devita, bibinya. Emily berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan terus menghubungi nomor Kevin tapi belum juga ada respon, sampai ketika ia pun menyerah dan akan menyimpan ponselnya ke dalam tasnya namun getaran ponsel ia rasakan dan segara ia lihat siapa yang menghubungi nya yang ia harap itu adalah Kevin yang menghubungi nya balik.
Matanya melebar, bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan indah.
.
Di sebuah klub malam, seorang pria yang sudah tidak lagi bisa mengenali sekitarnya karena minuman yang di minumnya itu, beberapa botol berserakan di atas meja bahkan di bawah lantai pun ada botol minuman alkohol juga bekas pria itu.
Beberapa kali penjaga klub memintanya untuk berhenti minum tapi karena sudah mabuk dan emosinya juga tidak bisa terkontrol akhirnya pihak klub pun diam-diam mengambil ponsel milik pria itu yang tergeletak di bawah meja dan menghubungi satu nomor yang ada di dinding layarnya, 187 panggilan tak terjawab dari satu nomor yang sama dan akhirnya nomor itu jugalah yang di hubungi boleh pihak klub.
__ADS_1