
Zahla terbangun dari tidurnya, ia beranjak dari ranjang empuk yang menurutnya asing di penglihatannya, ia berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Setelah mengingat matanya melebar dan memeriksa seluruh pakaiannya lalu menghela nafasnya dengan lega.
Huufff'
''Masih utuh,'' gumamnya.
Matanya berkeliling seperti mencari seseorang, tapi tidak ada siapapun di sana, ia hanya sendirian di kamar besar itu, dengan langkah perlahan ia keluar kamar, dan baru saja kepalanya keluar dari pintu berwarna putih itu, Indra penciuman nya menghirup aroma yang mampu membuat air liur nya menetes dan perutnya berbunyi karena mencium aroma lezat itu.
''Lapar,'' keluhnya yang langsung turun dari anak tangga menuju lantai bawah.
''Kau sudah bangun?'' suara itu tiba-tiba mengejutkan Zahla yang memang tidak tau kalau di sana ada seseorang.
''Tuan?''
Ya dia adalah David, David menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan bergumam 'terserah' karena mendengar Zahla yang lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan 'Tuan.
''Duduklah,'' perintah David sembari tangannya yang sibuk menata peralatan makan dan menuangkan hasil masakannya ke dalam wadah yang telah di siapkan.
Setelah mereka duduk duduk, dengan telaten nya David melayani Zahla dari menuangkannya air minum lalu makanan untuk Zahla santap sebagai sarapan pagi nya.
''Kau coba ini,'' David menyodorkan sendok yang berisi makanan yang dia ambil dari piringnya.
''Aku bisa sendiri,'' tolak Zahla namun tidak di gubris David, dan dengan terpaksa Zahla pun memakan suapan dari sendok David.
'Ummm' tanpa sadar Zahla bergumam mengibaratkan kelezatan makanan yang di berikan David.
''Bagaimana?''
''Sangat lezat, kau pandai memasak ya, Tuan.''
''Kalau begitu makanlah.'' Kini giliran David yang menyuap dengan sendok yang sama yang tadi untuk di suapkan kepada Zahla.
Seketika mata Zahla terbelalak karena merasa tidak enak, ''Itu kan bekas mulut ku, dan aku lupa belum membersihkan gigi dan muka ku,'' gumamnya dalam hati yang terus melihat David menyiapkan makanan dengan sendok tersebut.
__ADS_1
''Kenapa?'' tanyanya yang sadar Zahla telah memperhatikan nya.
''It-tu, itu kan sendok bekas ku,'' jawab Zahla dengan suara yang pelan, namun dengan cueknya David terus saja memakan dengan sendok itu.
''Lalu?
''Apa anda tidak jijik, sebenarnya ak-aku belum membersihkan diriku lepas bangun tadi,''
''Jijik? bahkan rasa air liur mu saja aku hapal rasanya,'' sahut David tanpa rasa risih mengucapkan nya.
'Asraga selain arogan dia juga jorok ternyata'
Zahla bergidik ngeri mendengar nya, lalu iapun ikut memakan makanan yang telah di buatkan bos nya itu dengan lahap.
Selesai sarapan, Zahla teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi ada keraguan di wajah Zahla sehingga membuat David curiga.
''Ada apa?''
''Emmmm ada yang ingin aku tanyakan,''
''Emmm tadi malam kita, eeehhh maksud ku tadi malam kita tidak berbuat apa-apa kan?'' tanya Zahla dengan ragu, sejenak David hanya diam dengan memasang wajah datarnya lalu tertawa dengan sangat kencang.
''Kau ini lucu sekali, memangnya kau mengharapkan apa?'' ucap David dengan tawanya.
Wajah Zahla sudah memerah malu, namun sudah terlanjur basah, Zahla pun bertanya lebih jauh lagi untuk memastikan karena dia tidak mengingat semuanya.
''Bukan itu maksud ku, kita benar-benar tidak berbuat apa-apa kan?''
''Hampir,'' jawab David dengan singkat, mata Zahla membulat sempurna mendengar jawaban David.
''Maksudnya hampir?''
''Ya, tadi malam kau meminum minuman ku, dan kalau aku tidak menahan diriku sendiri mungkin kita akan berbuat lebih dari sebelumnya.''
__ADS_1
Ya tadi malam lepas mereka sampai di apartemen, David menghentikan sejenak aksi nya dan mengambilkan air minum namun karena Zahla yang sudah tidak sabar sebab habis bertukar nafasnya dengan David, tidak menyadari kalau dia meminum minuman yang bisa membuat nya hilang kesadaran.
Zahla terdiam setelah mendengar apa yang terjadi tadi malam pada mereka, lalu lamunannya buyar karena David mengatakan sesuatu lagi.
''Tenang saja, aku akan mendapat kan hak ku ketika kita sudah terikat dalam sebuah hubungan pernikahan, dan aku tidak akan menyia-nyiakan nya.'' Ucap David sembari berlalu pergi ke kamar yang sama dengan kamar tempat Zahla tidur.
''Astaga apa yang dia bicarakan. Sebenarnya sebutan apa hubungan kita ini.'' Gumam Zahla yang terlihat frustasi karena belum mengerti apa yang telah terjalin di antara mereka.
Zahla takut jika menganggap ini serius tapi tidak seperti harapannya, dan apa harus ia menganggap ini sekedar main-main?bukan tanpa alasan Zahla berpikiran seperti itu, karena David pun belum ada satu katapun mengungkapkan perasaan nya dengan keseriusan nya yang Zahla harapkan sendiri.
Semua wanita bahwasanya membutuhkan kepastian walau hanya sekedar satu kalimat, bukan hanya tindakan dan sebuah kecupan untuk mewakilinya karena itu bisa saja membuat dia merasa tergantung dengan satu kata, 'main-main'.
Zahla termenung di balkon yang ada di apartemen David seorang diri, ia memikirkan nasib dan jalan ceritanya, entah mau di bawa kemana hubungan mereka sebenarnya, sekedar temankah? atau lebih? entahlah itu semua tergantung si pria yang akan mengutarakan sebenar nya.
David yang sedang ada urusan sebentar, sudah berpamitan pada Zahla, ya dia pergi ke perusahaan untuk melakukan pertemuan pada kliennya.
''Rebbeca, apa kau telah menyiapkan bahan untuk di presentasikan nanti,''
''Sudah Tuan,'' sahutnya.
David yang sudah duduk di meja nya terlihat melamun, memikirkan sahabatnya yang kehadirannya sangatlah ia rindukan sebenarnya namun karena rasa gengsinya ia berusaha terlihat biasa-biasa saja.
''Tuan, biasanya Tuan Kevin yang menanganinya, saya takut akan melakukan kesalahan,'' ucap wanita berperawakan kurus tinggi itu.
''Yakin saja, kalau masalah Kevin, jangan bahas dia untuk sekarang,'' sahut David dengan nada dingin nya.
''Baik tuan, maaf.''
Setelah melakukan meeting, dan mentanda tangani surat kontrak antara kedua belah pihak, David pun berlalu pergi dari ruangan itu, dan tiba-tiba ia teringat dengan flashdisk yang di berikan Zahla, langkahnya ia belokan ke arah ruangan pribadinya.
Dengan yakin ia menancapkan flashdisk ke laptop nya dan mengecek isinya, matanya memicing karena isinya ternyata semua data perusahaan dengan rincian yang sangat detail.
Bibirnya tersungging senyuman dan bergumam.
__ADS_1
''Kevin, aku tau apa maksud mu ini,'' dengan bibir yang terus tersungging ia kembali melangkah pergi dari ruangan pribadi nya lalu meninggalkan perusahaan nya menggunakan mobil nya.