
Satu Minggu lamanya, Zahla tidak melihat kakak nya, sebenarnya dari dalam lubuk hatinya ia sangat ingin memeluk Kevin dan meminta maaf serta berterima kasih atas nama David karena bagaimanapun Tiara meninggal karena menyelematkan David.
Ponselnya yang sejak tadi di pegang nya ia letakan karena merasa sedih, ya, Zahla terus berusaha menghubungi Kevin namun sama sekali tidak ada jawaban. '' Kakak dimana..'' lirih Zahla dengan menangkup wajahnya dengan kedua tangan nya.
Saat ini Zahla masih setia berada di rumah sakit, bahkan kamar rawat David sudah berpindah tempat menjadi kamar tidurnya juga, walaupun ia harus tidur di sofa yang ada di sana beberapa hari ini. Zahla mengurus semua keperluan David, dari mandi sampai menggantikan pakaian suaminya, walaupun David masih saja setia dengan mimpinya.
'' Sayang .. Apa kau belum puas berjalan-jalan di mimpi indah mu itu,'' ucap Zahla mengelus tangan David yang tertancap selang infus itu.
'' Jika kau mendengar suara ku dari dalam mimpi, maka dengarkanlah baik-baik kalau aku menunggu mu kembali padaku. Oh bukan hanya aku tapi anak kita..'' Ucapnya dengan sedikit berbisik pada akhir kalimat nya ke telinga David.
Zahla tidak selalu sendiri menjaga David, karena Emily dan Devita selalu datang untuk mengantarkan makanan juga baju ganti untuk nya, dan Devita pun sudah berusaha membujuk menantu nya itu untuk pulang dan dia yang akan menggantikan nya bermalam di sana, tapi Zahla terus saja menolak.
Bukan apa-apa, Devita sangat takut kesehatan Zahla dan calon cucunya terganggu karena tidak beristirahat dengan baik, dan karena itu Devita memanggilkan langsung dokter kandungan untuk memeriksa keadaan Zahla. Mungkin sebagian orang berpikiran itu sangat berlebihan namun itu demi Zahla dan kehidupan kecil di dalam perut nya itu.
'' Bagaimana? putri ku baik-baik saja kan?'' tanya Devita pada dokter kandungan yang di panggilnya.
'' Anda bisa tenang nyonya, karena kandungan Nona Zahla terbilang kuat, tapi jangan lalai dengan terus menjaga pola makan dan tidur dengan baik, juga vitamin yang harus di minum setiap harinya.'' Sahut dokter itu.
'' Pasti, itu pasti. Terima kasih, dan maaf merepotkan Anda untuk datang kesini.''
'' Sudah tugas saya, Nyonya.'' Dokter kandungan itupun berlalu pergi dari kamar inap David setelah memastikan keadaan Zahla dan kandungan nya baik-baik saja.
Kalangan media masih ramai membicarakan tentang kematian Tiara yang memang dia adalah seorang model terkenal, dan bahkan banyak artikel yang mencatat kalau Tiara meninggal karena menyelematkan nyawa mantan kekasihnya, yaitu David Guetta Carroll pewaris tunggal dari pengusaha terkenal Daniel Carroll.
__ADS_1
Infotainment yang berseliweran di televisi juga media sosial tidak dapat di cegah walaupun Kean dan Rey yang sudah mencoba menghentikan nya karena merasa terganggu dengan berita tersebut. '' Rey, apa kau sudah meminta pihak televisi swasta itu untuk tidak lagi memberitakan Tiara sebagai topiknya?'' tanya Kean.
'' Haaaah.. Entahlah Kean. Kalaupun kita berhasil membungkam beberapa channel tapi akan ada tv- tv lainnya yang masih membicarakan nya.'' Sahut nya yang di iyakan oleh Kean.
'' Oh ya, apa kau sudah berhasil menghubungi Kevin?'' tanya Rey. '' Dia? bahkan dia sekarang seperti pria tak waras, baru saja kehilangan kekasihnya, dia sudah menyibukkan nya dengan pekerjaan, sungguh tidak habis pikir.'' Seru Kean yang kesal dengan sikap Kevin.
Rey tertawa kecil mendengar celotehan Kean sahabat nya juga yang pernah menaruh hati dengan wanita yang pernah menjadi kekasih David, ketua dari Geng mereka. '' Percayalah Kean, dia seperti itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari keterpurukan karena kehilangan Tiara.'' Ujar Rey yang benar adanya.
Di rumah sakit, gadis yang baru saja selesai dengan mata kuliah dan langsung mengunjungi kakak nya karena memang dia yang harus terus menemani Zahla selain Devita. Emily berjalan dengan sebuah paper bag di tangan nya. Nasi biryani yang pernah ia makan bersama Zahla dan Zahla menyukainya. Emily membawakan demi kakak ipar walaupun ia harus rela mengantre beberapa lamanya hanya untuk sebuah makanan.
'' Kakak...'' suara Emily yang riang memasuki kamar David, Zahla yang melihat kedatangan Emily tersenyum senang.
'' Em, kau datang?''
'' Padahal aku sudah mengantre untuk mendapatkan ini,'' lirih Emily, Zahla yang mendengarnya tak kuasa menolaknya lagi, bagaimanapun adik iparnya itu sudah sangat perhatian padanya.
'' Baiklah, tapi sedikit saja ya.'' Emily mengangguk senang dan pergi untuk menyiapkannya.
Saat mereka sedang menyantap makanan yang baru beberapa suap ke dalam mulut mereka, seseorang masuk ke ruangan dan mengalihkan pandangan kedua perempuan itu.
Mata Zahla berkaca-kaca melihat seseorang itu yang ternyata adalah Kevin, kakak sepupunya yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri. '' Kakak..'' lirih Zahla yang langsung bangun dan berjalan ke arah Kevin.
'' Bagaimana kabar mu?'' tanya Kevin dan Zahla pun mengangguk. Kevin menoleh ke arah ranjang dan terus menatap David yang belum juga membuka matanya itu.
__ADS_1
'' Kak, kakak kemana saja beberapa hari ini? apa kakak marah padaku?'' Kevin kini beralih menatap Zahla dan tangan nya bergerak mengelus rambut lurus adiknya itu. '' Jangan berpikiran buruk, kakak ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, tapi kakak cukup lega karena melihat mu baik-baik saja.''
'' Dan terima kasih, karena sudah menepati janji mu untuk menjaganya.'' Ucap Kevin lagi namun kini pada Emily yang hanya diam dengan wajah merah nya.
'' Dia masih bersikap seperti itu padaku.'' Gumam Emily dengan perasaan sedih.
Kevin berjalan mendekati ranjang David dan duduk di samping berangkar tersebut seraya berkata.
'' Cih, berandal seperti mu bisa juga terbaring di sini.'' Ejek Kevin.
'' Jangan berlama-lama dengan dunia mimpimu, karena masih ada seseorang yang menunggu mu di dunia nyata.'' Lanjutnya. Zahla yang mendengar dan melihat Kevin bisa berbicara banyak seperti itu cukup lega karena dugaannya terhadap Kevin yang marah dengan nya dan David pun salah.
.
Di ujung lorong rumah sakit, Zahla dan Kevin berdiri dengan menghadap langsung ke taman rumah sakit tempat para pasien sekedar berjalan-jalan dan mencari udara segar. Keduanya masih terdiam sampai ketika Zahla sendiri yang memulai pembicaraan nya.
'' Kak, maafkan aku.'' Lirih Zahla dengan menundukkan kepalanya dan memainkan jarinya.
Kevin menoleh, '' maaf, kenapa?''
'' Kalau bukan karena aku yang terus menghalangi mu untuk tetap tinggal di rumah ku, mungkin saja-''
'' Sudahlah, jangan pernah berpikir kalau ini adalah salah mu, mungkin memang sudah tertuliskan kalau dia bukanlah jodoh ku,'' potong Kevin yang terlihat sudah baik-baik saja tanpa Zahla tahu apa yang sebenarnya saat ini Kevin rasakan.
__ADS_1