Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Sang Peneror


__ADS_3

Pria yang memiliki karakter dingin dan selalu memasang wajah datarnya, duduk di kursi kesayangan nya di sebuah ruangan, matanya memicing karena melihat apa yang baru saja ia temukan di layar komputernya.


'' TR?'' gumamnya.


Ya dia adalah Rey, teman atau bisa di bilang salasatu orang kepercayaan David untuk mencari tahu siapa dalang di balik berita yang menyebar itu.


TR, nama akun yang ia baru saja ia temukan, dimana akun itu yang membuat semua berita itu menyebar, dan dari akun itulah berasal data-data gadis yang bernama Zahla dan menyebarkan luaskan tanpa bertanggung jawab atas perbuatannya.


Mata tajamnya kembali memicing, setelah menemukan satu lagi kebenaran. ''Ternyata dia juga meneror calon istri David, tapi,, TR itu siapa?'' gumamnya lagi.


Setelah selesai dengan urusan nya dan dengan menggantungkan data-data pelaku, Rey bergegas pergi dari ruangan pribadinya untuk segera memberitahukan pada orang yang bersangkutan yaitu David.


Di kamar hotel, Zahla yang baru saja selesai membersihkan dirinya, duduk di kursi yang langsung menghadap jendela, ia teringat teror-teror yang ia dapatkan kemarin, mengingat kata-kata jahat itu ia merasakan sakit teramat di hatinya namun ia mencoba untuk tegar.


''Tidak boleh begini, aku bukan gadis yang lemah, lagipula aku sudah tahu keluarga ku siapa dan aku juga akan meyakinkan semua bahwa aku memang pantas berdiri di samping David.'' Gumamnya dengan tekat yang ada pada dirinya.


''Ya, ini hanya teror dari orang yang bahkan aku tidak tahu siapa, bahkan aku sudah menerima banyak cercaan dan makian yang lebih kejam dari ini.'' Lanjutnya.


Suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya, kepalanya menoleh dan melihat siapa yang masuk ke kamarnya, senyumnya terlukis tipis menyambut kedatangan seseorang itu yang tidak lain adalah David, tunangannya sendiri.


''Sedang apa kau, hmm?'' tanya David dengan lembut dan mengecup singkat dahi Zahla.


''Tidak, aku hanya sedang menikmati pemandangan dari sini,'' jawab Zahla.

__ADS_1


''Apa kau tidak lapar?'' Zahla menggeleng.


''Tapi aku lapar,'' lanjut David dengan nada yang di buat manja.


''Ya sudah, kau saja yang makan, aku tidak lapar,'' tanggap Zahla dengan cuek. Mata David memicing dan tanpa permisi David langsung mencuri ciuman dari Zahla secara tiba-tiba.


Ciuman itu semakin dalam, dengan lembut David m*lum*t bibir Zahla dalam waktu cukup lama, sehingga sang empunya bibir pun tidak lagi bisa bernafas dengan benar. David melepaskan pagutan nya dan menatap dalam mata bulat Zahla.


''Kalaupun mau, bisa saja aku memakan mu saat ini, tapi tidak, itu akan ku lakukan nanti, jika kita sudah sah, dan yang sekarang aku inginkan kau menemaniku makan di bawah, hmm?'' Ucap David dengan mata yang terus menatap dalam manik coklat milik Zahla.


Tanpa suara, Zahla pun menjawab dengan anggukan karena dengan tatapan David yang bahkan mampu menghipnotis nya dan meng'iyakan nya tanpa sadar.


Merekapun berlalu dengan tangan yang terus saling menggenggam, tanpa tahu ada seseorang dari jarak yang cukup jauh menatap marah ke arah pasangan yang sedang di landa kasmaran itu.


Dengan kaki jenjangnya, ia pergi meninggalkan hotel itu dengan hati yang terbakar, ia marah melihat kemesraan David dengan Zahla. Orang itulah dalang di balik pemberitahuan juga bocor nya data Zahla.


''Ternyata teror itu tidak membuat nya gila,'' ucapnya dengan tangan yang sibuk mengemudikan mobilnya.


Dengan tangan satunya ia mencari ponselnya dan menghubungi seseorang. '' Buat teror lagi yang lebih asik, sepertinya dia belum terpengaruh oleh teror yang kau buat,'' ucapnya dengan seseorang di sebrang sana, bibirnya terangkat sebelah, senyum jahat terukir jelas di sana.


''Hemmm, aku tunggu kabar berikutnya.'' Dia pun memutuskan sambungan telepon itu dan kembali menyimpan ponselnya.


Di restoran Hotel, David dan Zahla tengah menyantap makanan mereka dengan hening, keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing, Zahla yang ingin mengatakan soal teror itu tapi ia ragu dan David yang ingin mengatakan sesuatu juga namun ia pun ragu.

__ADS_1


''Honey? apa kau tidak merasa nyaman tinggal bersama ku?'' tanya David yang akhirnya membuka mulutnya.


''Maksud mu, David?''


''Ya, Kakak mu Kevin ingin membawa mu tinggal bersamanya, bagaimana menurutmu?''


''Benarkah? kak Kevin akan membawa ku?'' tanya Zahla dengan senyum yang lebar.


''Sesenang itu kah, sampai senyum mu tidak bisa lagi di sembunyikan,'' gumam David yang di dengar Zahla.


''Ya David, karena sejak dulu aku sangat mendambakan memiliki keluarga dan tinggal bersama keluarga ku sendiri.''


''Tapi, Keluarga ku juga Keluarga mu kan,'' sela David.


''Itu berbeda David,'' David terdiam dengan berpikir sejenak untuk menimbang yang sudah di putuskan gadisnya itu.


''Baiklah, aku sendiri yang akan mengantarkan mu ke sana. Tapi, ingat, jika Kevin macam-macam padamu, aku akan membawa mu lagi dari sana.'' Zahla tersenyum geli mendengar ucapan David yang tersimpan sebuah rasa kecemburuan.


''Ya David, lagipula dia kan kakak ku, kau ini ada-ada saja.''


Setelah selesai dengan sarapan mereka, merekapun meninggalkan restoran dan kembali ke kamar Zahla untuk bersiap pergi dari sana. Sembari menunggu Zahla bersiap, David menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahu kalau Zahla akan tinggal bersama Kevin dan Daniel pun menyetujui itu namun berbeda dengan Devita sang Mommy, sebab dia yang sangat ingin Zahla tinggal bersamanya.


''Mom ini sudah keputusan Zahla, lagipula sebentar lagi dia juga akan menjadi menantu mu.'' Ujar David memberikan pengertian kepada Mommy nya.

__ADS_1


''David, aku sudah siap,'' potong Zahla yang sudah siap.


''Mom aku tutup dulu,'' David pun memutuskan sambungan telepon nya pada sang Mommy dan pergi dengan Zahla menuju rumah kediaman keluarga Heinze.


__ADS_2