Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Atas seizinnya


__ADS_3

Usai nya breakfast bersama, dan satu persatu anggota keluarga meninggalkan mansion karena pekerjaan dan urusannya masing-masing, tinggallah Devita, Zahla dan David juga Daddy nya, Daniel. Mereka masih berada di ruang keluarga, Daniel yang sibuk dengan ponsel, David yang sibuk dengan remote tv dan Devita yang asik berbincang dengan menantu nya.


''Mom, bukannya kau ada janji dengan Devan siang ini?'' tanya Daniel yang masih menatap layar ponselnya.


Zahla dan Devita menoleh berbarengan setelah mendengar Daniel berbicara, tangan Devita terangkat dan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. ''Aah, iya. Ayo sayang, kita harus ke rumah sakit,'' ucap Devita pada Zahla yang seketika terdiam.


''Rumah sakit?''


''Iya, Mommy ingin tahu secara langsung keadaan calon cucu Mommy, dan Mommy harus tahu apa yang tidak boleh dan boleh di lakukan selama kehamilan mu, Mommy tidak mau ambil resiko kalau ada sesuatu,'' ucapnya, Zahla semakin di buat bingung dan takut, entahlah apa yang ia takutkan.


''Tqpi Mom? aku,, aku..''


''Sudahlah honey, kau menurut saja, kalau tidak mau Mommy akan berubah wujud,'' potong David sekaligus meledek Mommy nya.


''Anak nakal,'' omel Devita, dan Zahla pun menurut.


***


Saat ini Devita David dan Zahla sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit yang keluarga Carroll sendirilah pemilik dari bangunan putih itu.


Tangan Zahla saling meremas, wajahnya memerah cemas, dan membuat Devita yang duduk di sampingnya merasa bingung. ''Hei, kau kenapa? apa kamu sakit, sayang?'' tanya Devita dengan perhatian nya yang langsung memeriksa kan suhu badan Devita dengan menempelkan punggung tangan nya ke dahi Zahla.


Alis Devita mengernyit, karena bukan panas yang ia rasakan di dahi Zahla tapi dingin, ya suhu badan Zahla tiba-tiba terasa dingin tidak seperti biasanya, mendengar Devita yang panik karena Zahla, David pun segera menginjak pedal rem nya karena ikut panik.


''Kenapa Mom?'' tanya David.

__ADS_1


''Tidak, Mommy kira istri mu sakit, tapi kenapa suhu tubuh mu dingin seperti ini?''


''Entahlah mom, belakangan ini aku sering merasa kedinginan,'' jawab Zahla.


''Ooh, mungkin bawaan jabang bayi, ya sudah, ayo David, kita hampir terlambat.'' David pun melanjutkan perjalanan dan kembali menyetir membelah jalanan yang sedikit ramai.


Saat sampai di rumah sakit, merekapun langsung menuju ruangan di mana Devan sudah membuat janji dengan bibinya.


''Bi,, kalian sudah datang. Kenalkan, ini dokter kandungan yang akan terus memantau perkembangan calon penerus keluarga Carroll.'' Ucap Devan memperkenalkan rekan kerjanya yang berprofesi sebagai dokter kandungan yang berparas cantik berdarah campuran Tionghoa dan timur tengah.


''Saya Veronica Tan, kedepannya saya harus berhati-hati karena harus menangani calon penerus keluarga Sultan.'' Ucap dokter cantik dengan sedikit guyonannya.


''Hahah, bisa saja kau ini. Kami juga akan menaruh kepercayaan besar pada mu.'' Sahut Devita.


''Terima kasih sudah memberikan kesempatan emas, mari silahkan duduk, kita akan membahas satu persatu perihal kandungan nona Zahla.''


''Heemmmm, benar, karena usia kehamilan nona Zahla masih terbilang muda dan sangat rentan, jadi tuan David bisa berpuasa sementara,''


''Pu-puasa? berapa lama?''


''Tidak lama, hanya empat bulan, menunggu janin benar-benar kuat.'' Jawaban sang Dokter membuat David melebarkan matanya dengan mulut yang terbuka.


''Empat bulan? astaga lama sekali,,'' Taaggkk,,, tangan Devita melayang memukul kepala David dengan domyang merengek bagaikan anak kecil.


Dokter Veronica melirik ke arah Zahla yang tertunduk sambil meremas tangan nya, setelah selesai berkonsultasi pertemuan itupun selesai.

__ADS_1


''Baik kalau begitu, kami pamit undur diri, terimakasih atas waktu nya.'' Ucap Devita yang sudah akan menggandeng tangan Zahla untuk keluar dari ruangan namun segera di tahan oleh dokter kandungan tersebut.


''Tunggu, Nyonya.''


''Ya kenapa? apa ada hal penting lagi?''


''Bukan, Emmm.. apa saya bisa berbicara berdua dengan nona Zahla?'' ucap dokter Veronica yang mendapatkan tatapan aneh dari Devita.


''Berdua, kenapa? apa ada hal serius, kenapa saya tidak boleh tahu?''


''Oh bukan, bukan. Ini hanya pembicaraan antara pasien dan dokter saja, apa bisa?'' tanya dokter itu lagi, Devita dan David saling menatap dan akhirnya merekapun mau meninggalkan Zahla sendirian di ruangan dokter itu.


Hening sesaat suasana di ruangan, yang kemudian akhirnya dokter Veronica lah yang memulai pembicaraan. ''Maaf Nona, sejak tadi saya perhatikan nona kenapa seperti ada yang sedang di pikirkan?'' Zahla hanya menggeleng.


Dokter wanita itu menghela nafasnya pelan, dan mencoba berbicara lagi pada Zahla, ''saya bertanya bukan berarti saya tidak tahu permasalahan yang saat ini anda alami, tapi percayalah keajaiban itu nyata adanya.''


''Kenapa dokter tidak mengatakan pada mertua dan suami saya?''


''Karena saya menempatkan diri saya pada anda, bukan suatu hal yang gampang menjadi menantu keluarga penting seperti keluarga Carroll, tapi saya yakin, anda kuat dan saya akan berusaha mencari jalan solusinya.'' Ucap nya dengan bahasa yang sebisanya agar Zahla merasa nyaman berbicara dengannya.


''Memangnya ada solusi lain?'' tanya Zahla dengan raut wajah penuh harap.


''Atas seizin sang pencipta, apa ada yang tidak mungkin?''


''Baiklah, terima kasih karena sudah memberikan saya sedikit harapan,'' ujar Zahla.

__ADS_1


''Ya, saya juga berterima kasih karena sudah di berikan tanggung jawab dari kepercayaan anda, nona.'' Zahla pun keluar dari ruangan dokter dengan dokter itu sekali.


Melihat raut wajah Zahla yang menggambarkan kalau tidak ada apa-apa, Devita dan David bisa bernafas lega, karena yang sejak tadi mereka pikirkan kalau ada suatu hal yang mengkhawatirkan.


__ADS_2