
Di sebuah ruangan dengan cat dominan hitam dan biru laut itu sebuah kebisuan pun melanda, di meja sudah tertata rapih makanan rumahan dengan Tiga anak manusia yang duduk di sofa yang berbeda, Zahla, David dan Marissa.
Marissa yang sejak kedatangan Zahla hanya diam dengan terus menundukkan kepalanya, dan David yang juga mengunci mulutnya namun dengan raut wajah seakan merasa tidak suka dengan situasi saat ini, tapi berbeda dengan Zahla yang tengah sibuk menyiapkan makanan untuk David juga dirinya.
''Maaf ya Nona Marissa, saya hanya bawa alat makan dua pasang saja, tapi saya sudah meminta Rebecca untuk mengambilkan nya kok,'' ucap santai Zahla, dengan Zahla menyebut nama Marissa seolah-olah sudah mengenal sebelumnya membuat David merasa heran.
''Kalian sudah saling mengenal?'' tanya David dengan rasa penasaran nya.
''Ya, beberapa hari lalu, kita kenal dan kau ingat David, aku pernah mengatakan kalau aku baru saja mendapatkan teman baru dan waktu itu aku pernah pergi ke salon kecantikan, itupun Marissa yang mengajak ku, ya kan Marissa?'' Marissa yang terpanggil pun hanya mengangguk dengan wajah pucat nya.
David melihat Zahla dan Marissa bergantian, seakan-akan sedang menelaah sesuatu, namun hanya dia yang tahu isi pikirannya.
Suara ketukan pintu terdengar dan Rebecca pun masuk setelah Zahla yang memintanya, sebuah satu set alat makan Rebecca berikan pada Zahla dengan raut wajah yang merasa tertekan karena merasa bersalah pada situasi yang saat ini bos besarnya alami.
''Terima kasih Rebecca, oh ya, apa kau juga mau makan bergabung bersama kami?'' ucap Zahla menawarkan Rebecca.
''Tidak nyonya bos, terima kasih. Saya permisi.''
Dengan tenang Zahla mengambilkan nasi beserta lauk pauk dan meletakkannya tepat di hadapan Marissa, ''silahkan makan,,'' ucapnya sambil mengambil makanan miliknya.
Namun gerakan tangan nya terhenti karena melihat David juga Marissa tidak memakan makanannya. ''David, ayo makan. Ayo Marissa,, maaf kalau makanan nya terasa kurang enak, karena entah kenapa hari ini perasaan ku tidak enak dan mempengaruhi hasil masakan ku.'' Ujar Zahla dengan berbicara apa adanya, ya dari pagi Zahla merasa tidak enak perasaan, apapun yang di lakukan nya terasa aneh, dan apa yang di ucapkan Zahla barusan bukanlah sindiran untuk Marissa karena memang itulah yang dia rasakan.
__ADS_1
''Maaf Zahla, asisten ku mengirimkan pesan kalau ada pekerjaan yang harus aku urus, tapi lain kali kita bisa makan bersama kok. Aku pamit ya Zahla, David.'' Marissa beranjak dari duduknya dan pergi dari sana meninggalkan David dan Zahla.
Entah apa yang Zahla pikirkan, tapi dari sikap yang Zahla tunjukkan seakan-akan ia tidak mempermasalahkan apa yang saat ini David risaukan, Zahla melanjutkan kembali memakan makanannya sampai tidak tersisa di piringnya, matanya melirik ke arah piring David yang bahkan belum di sentuh sedikit pun.
''Sedang tidak mau makan ya? ya sudah, aku rapihkan lagi ya..'' Ujar Zahla lagi namun David masih saja diam, setelah selesai merapihkan nya kembali dan membersihkan noda yang tercecer di atas meja tanpa berkata apapun lagi Zahla pun beranjak.
''Kau mau kemana?'' cegah David yang sudah memegang pergelangan tangan Zahla. Dengan raut wajah yang menunjukkan dirinya baik-baik saja, Zahla hanya tersenyum tipis dan berkata, ''aku pamit pulang ya, kamu lanjutkan perkejaan mu, dan jangan pulang telat ya, aku akan memasakkan makanan kesukaan mu.'' Entah kenapa hati David terasa teriris mendengar ucapan Zahla, ia tidak bisa menebak apa yang Zahla rasakan dan pikirkan kali ini, raut wajahnya menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja namun entah kenapa ucapan yang di lontarkan nya tersirat bahwa ada kekecewaan di dalam hatinya.
''Apa kau marah, sayang?'' tanya David dengan raut wajah sendu.
''Marah? marah kenapa, tidak, aku hanya tidak enak badan, kau lanjutkan kembali pekerjaan mu, jika merasa lapar minta Rebecca untuk memesankan makanan. Aku pamit.'' Dengan lembut Zahla melepaskan pegangan tangan David di pergelangan nya dan berlalu pergi dari sana.
David menatap tubuh Zahla yang semakin jauh darinya, perasaannya kacau antara merasa bersalah pada Zahla dan marah dengan Marissa.
''Apa ada perkelahian?'' gumam Rebecca yang semakin merasa tidak enak, dan ternyata gumaman nya tidak sengaja terdengar oleh Krishna.
''Siapa yang berkelahi? Zahla dan tuan David? kenapa?'' tanya Krishna yang juga sedang melihat ke arah Rebecca lihat yaitu Zahla.
''Apa Zahla menangis?'' tanya Krishna lagi dengan rasa khawatirnya karena memang ia masih peduli dengan Zahla yang dulu sempat dekat dengannya.
''Husstt, jangan kencang-kencang, nanti di dengar tuan bos baru tahu rasa kamu.''...
__ADS_1
Tetesan air mata turun begitu saja ke pipi merah muda Zahla, dan di usapnya dengan satu jarinya. ''Kenapa juga air mata ini turun,'' ucap Zahla dengan ketegarannya.
Zahla terus melangkah dengan langkah yang lebar menuju mobil yang menunggu nya di parkiran, tapi panggilan dari seseorang membuat nya menghentikan langkahnya dan ia sangat tahu siapa yang memanggilnya.
''Zahla?'' panggil sekali lagi dari seseorang yang sudah berdiri di belakang Zahla, dan lagi-lagi Zahla menarik nafasnya dalam-dalam lalu berbalik menghadap ke arah orang yang memanggilnya yang tak lain adalah Marissa.
''Ya? kau belum pergi?'' ucap Zahla.
''Aku minta maaf,''
''Untuk?''
''Sebenarnya aku mendekati mu hanya karena-''
''David?'' potong Zahla dengan tiba-tiba.''Aku tahu Marissa, aku menyadari itu semenjak kita ke salon bersama waktu itu.'' Lanjutnya.
''Waktu itu aku melihat mata mu menatap potret David di ponsel ku dengan tatapan aneh, dan aku juga tahu kalau kau dan Emily waktu itu bertemu untuk membicarakan tentang kalian,''
''Syukurlah jika memang kamu sudah tahu itu semua, aku kembali kesini karena sebuah janji yang David ucapkan waktu dulu, jadi ku mohon, jangan meminta ku untuk pergi dengan tangan kosong.'' Zahla pun tertawa kecil mendengar apa yang Marissa katakan.
''Aku tidak punya hak untuk mencegah mu menagih janji David untuk mu, tapi perlu kamu ketahui, dari kecil aku sudah di ajarkan dengan berbagi, apapun yang ku punya harus di berikan sebagian untuk yang membutuhkan, tapi tidak untuk cinta ataupun hanya untuk mengijinkan orang asing melangkah ke dalam rumah tangga ku.'' Zahla menjeda ucapannya.
__ADS_1
''Jadi jangan pernah mengira kalau aku akan menerima mu masuk ke dalam lingkaran yang sudah ku buat bersama David, dan satu lagi, aku sangat membenci penghianatan.'' Ucap Zahla lagi yang kemudian pergi begitu saja tanpa pamit. Marissa menatap sendu Zahla yang sudah masuk ke dalam mobil dan menghilang di persimpangan jalan.