Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Bukan hanya sekedar kecupan?


__ADS_3

Zahla kembali ke Pantry dengan wajah yang masih terlihat syok karena perbuatan bos nya itu, dan itu dapat di lihat oleh orang-orang buang berada di Pantry.


''La? kamu kenapa?'' tanya Adi seorang office boy.


''Iya, kok wajah mu memerah? apa kau sakit?'' tanya yang lainnya.


Zahla yang mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu tentu tidak dapat menjawabnya ia hanya bisa merambah wajahnya dan pergi ke kamar kecil yang ada di sana.


''Ini semua gara-gara orang itu?'' gerutu Zahla dengan menghadap ke arah cermin yang ada di sana.


Di ruangan CEO, David tertawa dengan puas karena berhasil mencuri ciuman dari Zahla dengan cara yang tidak biasa, ia puas melihat wajah syok Zahla yang terpaku dengan wajah polosnya.


''Dia semakin menggemaskan,'' gumam David yang membayangkan wajah Zahla tadi.


Hari sudah mulai gelap, Zahla yang sudah keluar dari gedung perusahaan berjalan dengan menyeret kakinya, tas yang bertali ia terus tendang-tendang dengan malas, bingung, ya ia bingung untuk pulang kemana, ke apartemennya atau ke mansion keluarga David, tapi sepertinya itu tidak mungkin kalau harus ke mansion.


Zahla berhenti di sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari sana, duduk dengan menatap bintang, mengharapkan kalau dia masih memiliki rumah keluarga untuk pulang, namun tidak dengan kenyataannya, ia hanya gadis sebatang kara yang besar di sebuah panti asuhan.


''Apa memang aku orang yang tidak beruntung di dunia ini?'' gumamnya dengan lirih.


Saat matanya berkeliling ia melihat seseorang yang duduk di bawah pohon dengan kepala yang tertunduk, postur tubuh yang tidak asing menurutnya membuat ia penasaran dan berniat untuk menghampiri nya.


''Tuan Kevin?'' panggil Zahla pada seseorang itu yang ternyata memang benar seperti dugaan nya, seseorang itu adalah Kevin.


Sang pemilik nama pun perlahan menoleh lalu beranjak dari duduknya, berdiri mensejajarkan Zahla yang berdiri di belakangnya.


''La, rupanya kau disini juga.'' Ucapnya menjeda sesaat. ''Berhubung bertemu kau disini, aku mau menyampaikan maaf dengan kejadian waktu itu.'' Ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.


''Aku benar-benar menyesal,''


''Tuan, saya tidak punya hak untuk memberikan maaf, tapi apa tuan sudah merasa puas karena sudah memberikan penghianatan terhadap tuan bos?''


''Puas? sebenarnya bukan itu yang aku harapkan La, tapi ya sudah jika memang kau tidak mau memberikan maaf mu, aku permisi.'' Kevin melangkah pergi menjauhi Zahla namun suara panggilan Zahla membuat langkahnya kembali terhenti.


Zahla melangkah mendekati Kevin yang berdiri tanpa berbalik badan. ''Tuan Kevin, apa ini milik mu?'' tanya Zahla yang mengulurkan tangannya dan memberikan sesuatu yang di ambilnya dari tas sangkilnya.


''Sewaktu, malam kejadian dimana tragedi penusukan anda waktu itu, saya menemukan ini di dekat tubuh anda yang sudah berlumuran darah-''


''Dan maaf kalau saya lancang, saya sudah melihat isi dari flashdisk itu, mulanya saya kira itu milik pelaku, tapi ternyata itu milik anda, saya mengerti kenapa anda melakukan itu semua pada tuan Bos.'' Lanjutnya menjelaskan.


Kevin mengambil flashdisk itu dari tangan Zahla, dan bibirnya tersenyum lega. ''Terima kasih, saya kira ini sudah jatuh ke tangan dia,''

__ADS_1


''Maksud nya?''


''Ya, orang yang menusuk ku waktu itu adalah sepupu ku sendiri, dan kejadian itu sebenarnya benar-benar real rekayasa kami secara tiba-tiba karena mendengar ada yang datang aku terpaksa menyuruh nya untuk menusuk ku-''


''Dia dan Ayah nya meminta ku memberikan data asli dari perusahaan tapi aku memberikan data yang palsu, dan yang asli disini.'' Lanjut Kevin menceritakan dimana kejadian penusukkan waktu itu.


''Dan sekarang ini bukan hak saya lagi untuk menyimpannya, ini saya titipkan pada kamu, tolong berikan pada David, saya permisi, jaga diri baik-baik ya.'' Ucap Kevin yang berpamitan setelah memberikan kembali flashdisk yang tadi di berikan Zahla dan mengusap kepala Zahla dengan lembut bak seorang Kakak pada adiknya.


Zahla hanya berdiri dengan menatap kepergian Kevin, ia bingung kenapa ia berada di tengah-tengah kedua pria yang berbeda karakter seperti ini, David yang dari awal di kenalnya sebagai pria yang kasar dan pemarah dan Kevin pria yang dikenalnya sangat perhatian juga soft.


Dan kenapa saat Kevin menyentuh kepalanya, perasaannya tiba-tiba tenang, dan hilang sejenak beban yang saat ini ia ratapi.


''Aku tau tuan Kevin sebenarnya orang baik,'' gumam Zahla lalu kembali menyimpan flashdisk itu ke dalam tasnya.


Saat ia akan melangkah menuju jalan, sebuah lampu mobil menyorot ke arahnya, dan mati dengan disusul seseorang yang keluar dari sana.


''Sedang apa kau disini?'' tanya orang itu yang ternyata adalah David.


''Kau?''


''Apa kau mau kita berkencan di taman ini?'' goda David.


''Mencari mu, karena memang kita sudah di takdirkan bertemu alam pun mempertemukan kita disini,''


Zahla memutar matanya malas, walaupun hatinya berkata lain, entahlah kenapa perasaan nya cepat sekali berbunga-bunga jika mendengar ucapan David yang hanya menggoda nya itu tapi dia tidak mau menunjukan nya pada David karena dia pun takut itu hanya sebuah gurauan.


''Ayo..'' David tiba-tiba menarik tangan Zahla tanpa permisi.


''Kemana?''


''Pulang,''


Dengan pasrah, Zahla pun menurut tanpa bantahan lagi, karena di pikirnya dia juga tidak ada tempat untuk pulang selain dua tempat itu, apartemen dan Mansion keluarga bosnya. Panti? tidaklah mungkin ia kembali ke sana setelah memberikan malu karena lari dari hari pertunangan nya yang sudah di atur oleh ibu panti sendiri.


Sepanjang perjalanan keduanya tidak melakukan obrolan, Zahla yang terus saja menengok ke arah jalan dan David yang fokus mengemudi, lalu Zahla teringat sesuatu dan merogoh tasnya.


''Ini,'' ucapnya memberikan flashdisk milik Kevin pada David.


''Apa?''


''Ambilah, ini milik Anda,''

__ADS_1


''Milik ku?''


''Apa maksud mu?''


''Ck, ini titipan tuan Kevin untuk di berikan pada anda, jangan tanya lebih lanjut lagi, saya mengantuk.'' Ucap Zahla yang tidak mau mengatakan sebenarnya asal mula dari mana ia mendapatkan itu.


David di buat bingung dengan flashdisk itu tapi tidak ingin fokus nya teralihkan, David pun menyimpan itu di saku baju tebalnya.


Mobil terhenti di sebuah basement, Zahla yang hanya pura-oura tidur, mengintip dai ujung matanya dan merasa tidak asing dengan basement itu.


''Tuan, kenapa kesini?'' tanya Zahla yang langsung bangun dari tidur pura-puranya.


''Tuan, tuan. Apa aku majikan dari seekor anjing?''


Tiba-tiba David kembali mendekatkan wajahnya ke dekat Zahla yang sudah memundurkan wajahnya.


''Ke-kenapa?'' tanya Zahla yang sudah gugup karena mengira kalau David akan mencuri ciuman nya lagi.


''Aku hanya ingin membantumu melepaskan ini,'' sahut David yang melepaskan seat belt Zahla dan tentu membuat Zahla malu.


''Apa kau mengharapkan sesuatu? hem?'' tanya David dengan suara yang mampu menggoda telinga Zahla.


''Ti-tidak.'' Jawab Zahla dengan cepat dan dengan wajah yang sudah bersemu merah.


''Ya sudah,''


''Aku tanya kenapa kita ke si-''


Cuuupp


Ya lagi-lagi David mencium singkat bibir Zahla yang terus saja bertanya itu, Zahla terdiam dengan wajah terkejutnya


''Mau tanya apa lagi?''


''Kenapa kau mencium ku ter-''


Cuuupp' David mencium singkat bibirnya lagi dan menatap Zahla yang sudah benar-benar diam dengan wajah yang polos dan bibir yang di rapatkan.


Dengan cepat David kembali mengecup Zahla namun bukan hanya sekedar kecupan semata, ia terus melancarkan aksinya sampai keduanya pun terbawa arus yang di buat hangat oleh David, tangan David mematikan mesin mobil agar lampu pun padam dan tidak dapat terlihat dari luar kalau mereka sedang bercumbu mesra.


Saling bertukar Saliva dan saling memburu nafas di dalam mobil, David melepas pagutan itu sesaat dan mengajak Zahla turun dari mobilnya untuk menuju kamarnya, sesampai di kamarnya David melanjutkan aksinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2