
Sebulan telah berlalu, dan satu bulan itupun Marissa tidak terdengar kabarnya, entah karena menyerah atau terkena mental atas apa yang Zahla ucapkan, tapi Zahla cukup merasa tenang karena wanita itu sudah tidak lagi mengganggu rumah tangga nya.
Dua Minggu belakangan, Zahla sudah aktif kembali dengan aktivitas nya, berkuliah dan bekerja di kantor, jari-jari tangan tanpa noda cat kuku itu dengan lihai bermain di keyboard laptop nya, membuat laporan yang harus di serahkan oleh bos besarnya yaitu suaminya sendiri.
Sebenarnya David telah melarangnya untuk bekerja, karena David hanya mau Zahla fokus dengan pelajaran nya, tapi Zahla bersikeras untuk tetap bekerja karena tidak mau berdiam diri layaknya nyonya besar seperti kebanyakan, walaupun David sudah memenuhi kebutuhan nya tapi Zahla merasa tidak lengkap jika tidak mempunyai penghasilan dari kerja kerasnya sendiri, ya walau dia bekerja di bawah naungan suami.
Jam sudah menunjukkan pada angka tepat di 12 dan memang waktunya untuk makan siang atau sekedar rehat sejenak dari pekerjaan, Zahla merapikan berkas-berkas di mejanya dan bersiap akan keluar untuk makan siang bersama suaminya tapi sebelum ia keluar seseorang sudah ke lebih dulu masuk ke ruangan nya, seketika Zahla pun menoleh dan mengerutkan keningnya mengingat-ingat siapa gerangan yang masuk seenaknya ke dalam ruangan nya.
''Siapa anda?'' tanya Zahla dengan tegas karena merasa tidak memiliki janji apapun.
Seorang pria berperawakan tinggi dan berparas cukup tampan hanya tersenyum dan duduk di kursi sebrang meja Zahla dengan melipat tangannya di bawah dada bidangnya.
''Kau benar-benar melupakan aku, La?'' tanya pria itu dengan bibir yang terangkat sebelah.
Zahla terdiam, memang wajahnya tidaklah asing tapi siapa dia? Zahla terus mengingat-ingat dan seketika ingatannya mundur pada seorang pria yang pernah ia tinggal saat acara pertunangan yang seharusnya mereka lakukan.
''L-Leo?'' lirihnya, pria yang ternyata bernama Leo pun tersenyum aneh seraya berkata ''akhirnya kau ingat juga padaku, apa kabar kau saat ini? aku lihat semenjak kau meninggalkanku di altar saat itu, kau hidup dengan baik.'' Ujarnya.
Wajah Zahla terlihat panik, ia takut Leo akan membalas dendam atas kepergian nya saat di hari pertunangan kala itu,
'David, ya apa aku harus menghubungi David, tidak, tidak. Aku tidak mau ada keributan di kantor' gumam Zahla dalam hati nya.
''Kenapa? apa aku menyeramkan bagimu?'' tanya Leo dengan tawa kecil nya.
Menyadari expresi Zahla yang panik dan berkeringat sangat jelas kalau saat ini Zahla ketakutan walaupun ia ingin menyembunyikan rasa takutnya. ''Aku kesini hanya kebetulan saja, aku baru saja selesai rapat dengan para dewan dan CEO, dan ternyata pria yang membawa mu waktu itu adalah CEO disini.''
'' Aku minta maaf untuk kejadian dulu, tapi ku mohon jangan ganggu aku lagi''
__ADS_1
''Mengganggu mu? aku? kau tenang saja, aku hanya ingin tahu keadaan mu saja, kalau begitu aku permisi dan sampai jumpa lagi.'' Pria bernama Leo itupun seraya pergi menyisakan banyak pertanyaan di benak Zahla.
''Apa dia benar-benar tidak marah untuk kejadian waktu itu? apa benar dia hanya ingin tahu keadaan ku dan tidak bermaksud apa-apa?'' gumam Zahla yang sedikit bisa bernafas lega karena Leo sudah pergi tapi batinnya belum tenang sepenuhnya, karena ia takut ada maksud di baliknya.
Beberapa saat kemudian David pun datang ke ruangan istrinya dan melihat Zahla yang berdiri dengan tatapan mata yang kosong seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.
''Honey?'' panggil nya namun Zahla tidak menyahutinya.
Tangan David terulur dan mengelus lembut rambut hitam Zahla, ''Astaga!!'' Zahla terkejut bukan main karena seseorang memegang rambutnya dan ternyata suami nya sendiri.
''Hei, kau ini sedang memikirkan apa? kenapa wajahmu pucat begitu? apa aku mengejutkan mu.''
''Tidak, oh ya kau kesini ada apa?''
''Ada apa? tentu saja untuk makan siang,''
''Tidak masalah, kita makan siang di luar, ayo.'' David menarik tangan Zahla dengan lembut meninggalkan ruangan untuk makan siang di luar, melewati beberapa para staf dan karyawan lainnya, membuat para mata melihat kemesraan mereka walaupun hanya bergandengan tangan.
Ya semenjak bos besar mereka mengenal Zahla sampai menikahi nya, pria yang terkenal sangat dingin, angkuh juga arogan, seketika menjadi pria idaman wanita kebanyakan, lembut, romantis dan hangat, ya walaupun hanya dengan istrinya saja tidak untuk para karyawannya.
.
Sesampainya mereka di sebuah cafe, David pun memesan beberapa makanan untuk mereka makan berdua, dan tidak ketinggalan teh hijau favoritnya yang wajib ia minum sebelum makan.
David tengah sibuk dengan ponselnya karena menerima pesan yang mungkin saja dari Krishna yang memberitahukan jadwal-jadwal meeting selanjutnya, Zahla menatap wajah David seakan-akan ia takut kalau tidak bisa lagi melihat wajah tampan suaminya itu.
''David?''
__ADS_1
''Hem,''
''Apa kau baru saja mendapatkan projek baru?''
''Oh ya, aku hampir lupa memberitahukan mu, kita mendapatkan projek besar kali ini, dan aku usahakan untuk menanganinya dengan baik,'' sahutnya.
''Dari perusahaan mana?''
''Lion Corp, perusahaan yang lumayan besar, entah kenapa tiba-tiba mereka memberikan kesempatan kepada perusahaan yang tidak terlalu besar ini untuk menangani nya.''
''Apa kau mengenal nya?''
''Tidak terlalu, tapi perusahaan itu tidak asing di lingkungan para usahawan.''
''Apa kau tidak berniat mencari tahu maksud mereka memberikan projek untuk mu?''
Pertanyaan Zahla membuat David heran, ya bagaimana tidak heran tiba-tiba Zahla banyak bertanya kepada nya tentang siapa yang memberikan projek besar untuk nya, melihat wajah Zahla yang menyimpan banyak pertanyaan membuat David sangat penasaran.
Tapi saat ia akan bertanya, makanan yang ia pesan pun datang dan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Merekapun makan dengan tidak bersuara, tidak ada perbincangan lagi, Zahla yang takut David kecewa kalau nantinya projek itu di berikan atas dasar niat yang tidak baik dan David yang merasa heran atas pertanyaan-pertanyaan Zahla untuk nya itu.
Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya merekapun bergegas pergi dari sana, karena lahan parkir yang ada di depan cafe sudah penuh dan mengharuskan David memarkirkan mobilnya di sebrang jalan, akhirnya mereka harus menyebrangi jalan raya yang cukup ramai kala itu.
Lampu menunjukkan pada warna merah dan seharusnya waktu nya pejalan kaki untuk menyebrang namun saat mereka akan menyebrang sebuah mobil melesat dengan cepat ke arahnya tapi beruntung tidak terjadi apa-apa.
''Tidak bermoral,'' gerutu David pada pemilik mobil itu, ''Apa kau tidak apa-apa, sayang?'' tanya David selanjutnya.
Dengan wajah pucat Zahla hanya menggeleng meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
__ADS_1