Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Hari Bahagia


__ADS_3

Musik pengiring pengantin telah berbunyi dan menandakan bahwa salasatu mempelai sudah memasuki aula pernikahan, ya David serta keluarga sudah berada di gedung yang memang akan di adakan pernikahan Zahla dan David.


David berdiri dengan gelisah menanti kedatangan sang kekasih yang telah ia tunggu semenjak dua puluh menit ia berada di sana, dengan matanya ia melirik sang Mommy, memberikan isyarat pertanyaan, dan sang Mommy hanya tersenyum dengan menjawab tanpa bersuara. ''Tenanglah, Mommy sudah menyuruh paman mu untuk menjemput nya.'' Itu yang di katakan Devita kepada anaknya.


''Kenapa mereka belum juga datang?'' kini bukan lagi David yang bertanya, ya giliran sang Daddy yang bertanya pada Mommy nya, karena ya kembali lagi kepada tabiat Ayah dan anak itu yang tidak suka menunggu walaupun dengan waktu sebentar.


''Diamlah Daniel, kau sama saja dengan anak mu,'' omel Devita yang menyahuti pertanyaan suaminya.


''Kenapa aku yang kena omel, kalaupun dia sama seperti ku, ya tentu, diakan anak ku.'' Celoteh Daniel dengan suara yang di buat sekecil mungkin.


Di perjalanan, Zen yang di minta untuk menjemput mempelai sudah memenuhi tugas nya, ya saat ini Zahla dan Kevin sudah berada di mobil Zen namun ada sebuah kendala kecil yang saat ini mereka hadapi, yaitu jalanan yang sedikit padat.


Zahla duduk dengan tenang namun berbeda dengan Kevin yang duduk dengan gelisah, ia takut akan terlambat datang, ia juga tidak mau membuat kesan buruk terhadap pihak keluarga besan karena keterlambatan mereka.


''Kevin, kenapa kau yang malah gelisah?'' tanya Zen yang sebenarnya merasakan hal yang sama.


''Apa tidak ada jalan lain, paman?''


''Tidak, ini jalan satu-satunya. Kau duduklah dengan tenang,''


''Tidak biasanya jalanan sepadat ini,'' gumam Kevin.


''Kevin, kita hanya menunggu lampu rambu berubah warna,'' Zen tertawa kecil melihat Kevin yang lebih gelisah ketimbang pengantin yang sebenarnya, yaitu Zahla, yang duduk tenang di kursi belakang.


''Benarkah? kenapa aku tidak menyadarinya.'' Kevin bergumam kembali.


''Ya karena kau gugup dan merasa khawatir yang berlebihan,'' sela Zen yang mendengar gumaman Kevin.


''Paman Zen benar, kenapa aku yang merasa gugup, yang akan menikah kan Zahla dan David.''

__ADS_1


Setelah beberapa saat lampu rambu pun telah berubah warna, mobil yang di bawa oleh Zen sendiri pun melaju dengan lancar ke arah gedung tempat yang akan di adakan pesta itu.


Suara ban berdecit, orang yang bertugas menunggu kedatangan mempelai wanita pun segera mengabari bagian orang yang ada di dalam. Sambutan pun telah siap, Zahla yang masih di dalam mobil memang terlihat tenang tapi ketahuilah telapak tangannya sudah berkeringat sedari mula ia menaiki mobil Zen.


Dengan di mulai helaan nafas Zahla pun keluar dari dalam mobil setelah Kevin membukakan pintunya, Kevin yang memang keluarga satu-satunya dari pihak Zahla tentu menjadi wali baginya, Zahla melingkarkan tangannya di lengan Kevin dan berjalan dengan anggun nya.


Kelopak bunga mawar bertebaran menyambut langkah kaki mereka, di ujung sana sudah terlihat David yang berdiri dengan beberapa orang, namun Zahla sedikit geli melihat raut wajah David yang cemburu melihat tangannya melingkar di lengan Kevin.


''Menantu Mommy. Kemarilah.'' Ujar Devita yang langsung menyambut Zahla dan memeluk calon menantunya itu.


''Kau cantik sekali,'' ucapnya lagi.


Kain tipis yang terjuntai sebagai penutup wajahnya tidak sama sekali bisa menyembunyikan wajah cantik Zahla, siapapun orang yang melihatnya pasti akan terpesona, terlebih lagi orang yang biasa melihatnya tanpa riasan wajah, hari ini mereka melihat orang sama namun dengan penampilan yang berbeda.


''Apakah benar dia Zahla, gadis office girl yang kita kenal?'' bisik salasatu karyawan pada teman kerjanya yang saat ini menjadi tamu undangan juga.


''Ya, pantaslah bos kita tergila-gila padanya, ternyata di balik wajah sederhana nya, tersimpan mutiara yang benar-benar indah.'' Ucap yang lainnya.


Setelah Devita ikut mengantarkan Zahla sampai ke mempelai pria, ia duduk kembali dengan wajah bahagia bercampur harunya karena melihat anaknya dan gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu berdiri berdampingan di hadapan banyak orang.


David yang melihat Zahla pun tidak bisa melepaskan pandangannya sedikitpun, ia benar-benar terpesona akan kecantikan Zahla, rasa cemburunya yang tadi ia rasakan lenyap begitu saja.


Janji demi janji telah di sebut, janji suci pernikahan telah terucap dari bibir keduanya, serangkaian demi serangkaian pesta pun telah di lewati mereka. Para tamu pun sebagian telah meninggalkan tempat acara itu berlangsung.


Hari sudah menjelang malam, Zahla dan David sudah terlihat lelah karena harus menyambut para tamu yang datang untuk mendoakan mereka. Muak? ya itulah yang di alami David, David pria yang sangat tidak suka keramaian tapi harus mengubur sifat buruknya itu demi hari spesialnya mereka itu.


''David, bawa istri mu istirahat, biar ini kami yang atasi,'' ucap Daniel dengan suara yang lembut.


''Ya benar, kalian sudah terlihat lelah, istirahatlah.'' Devita pun ikut bicara.

__ADS_1


Dengan anggukan, David pun mengajak Zahla ke kamar yang sudah di sediakan Devita untuk mereka bermalam pengantin, ya tempat acara pernikahan itu berlangsung di sebuah aula Hotel yang Daniel sendirilah pemiliknya, dan kamar yang sudah di sediakan untuk kamar pengantin adalah kamar VVIP yang hanya keluarga Carroll lah yang bisa gunakan.


''David apa tidak apa-apa, meninggalkan Mommy dan Daddy mu di sana untuk meladeni tamu yang masih banyak itu?'' tanya Zahla yang merasa tidak enak pergi dari sana.


''Tidak honey, kau tenang saja. Lagipula mereka sudah mengambil keputusan yang tepat menyuruh kita ke kamar kan?'' goda David.


Pipi Zahla yang berhiaskan pewarna pipi itu semakin terlihat memerah karena ucapan David, dia hanya mengulumkan senyuman tanpa menjawab nya.


''Apa kau bahagia?'' tanya David di sela-sela langkahnya dan Zahla hanya menjawab dengan anggukan kecil.


''Kau terlihat sangat cantik, honey.Aku benar-benar tidak sabar untuk hal selanjutnya.''


''David, jangan mulai,'' ancam Zahla yang sudah malu menanggapi ucapan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Tanpa aba-aba dan tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba David membawa tubuh Zahla ke gendongan dengan sekali hentakan sehingga Zahla yang terkejut pun sedikit mengeluarkan teriakan kecil.


''Akkkhhhh, David turunkan aku,'' teriak Zahla yang melihat sekeliling karena malu.


''Tidak, aku sendiri yang akan membawa mu ke kamar kita. Dan kalian tidak perlu mengantarkan kami, kembalilah ke pekerjaan kalian masing-masing.''


Mendengar perintah David para pelayan pun hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan yang tidak sama sekali berani di angkatnya.


Dengan langkah yang gagah seperti tidak ada beban yang di bawanya, David terus melangkah menuju kamar pengantin mereka, dan saat tiba di sana tanpa merasakan kesulitan untuk membuka pintu David masuk begitu saja dengan masih menggendong Zahla. Dengan hati-hati David meletakkan Zahla ke ranjang besar yang sudah di hias dengan indah.


Mata mereka beradu pandang dengan waktu yang cukup lama, seperti tidak ada puasnya David terus menikmati kecantikan Zahla yang benar-benar ia rindukan. Sebuah kecupan hangat dan lembut mendarat indah di kening Zahla yang sudah memejamkan matanya menikmati kecupan sayang dari suaminya itu.


''Aku benar-benar bahagia bisa mempersunting mu. Berikan hak ku dengan keikhlasan hati mu, hmmm?'' ujar David dengan suara yang tertahan, jarak yang begitu dekat sampai hembusan nafas berbau mint itupun merasuk ke indra penciuman Zahla, sehingga Zahla pun tidak dapat menjawab oleh kata-kata lagi, dia hanya memberikan anggukan kecil sebagai tanda bahwa ia setuju atas permintaan David.


David mendekatkan wajahnya dengan perlahan ke wajah Zahla, Zahla pun sudah memejamkan matanya secara perlahan namun belum sampai niat David terpenuhi tiba-tiba Zahla berteriak.

__ADS_1


''Aaawwwww,'' teriak Zahla menghentikan David yang seharusnya akan menerima hak nya malam itu.


__ADS_2