Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Dia keponakan ku!!


__ADS_3

David yang baru saja mengerjapkan mata nya di buat heran setelah melihat notifikasi masuk ke ponselnya, banyak juga panggilan tidak terjawab juga pesan masuk.


''Mommy dan Paman Zen? ada apa?kenapa mereka saling berlomba untuk menghubungi ku?'' gumamnya dengan suara khas orang bangun tidur.


Tidak langsung menghubungi balik keduanya, David malah berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dahulu, dua puluh menit waktu ia mandi akhirnya David pun keluar dari sana dengan keadaan sudah lebih segar.


Sisah air yang menetes dari rambut-rambut nya menambah kesan tampan seorang David, tubuh yang terawat dengan bentuk roti sobek di bagian perutnya membuat ia semakin seksi kalau untuk mata para wanita.


Ponselnya kembali berdering dan nama Zen lah yang tertera di sana, dengan santainya ia menjawab panggilan walau hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggang nya.


''Ya Paman?''


''David, Ayah mu meminta mu untuk datang ke mansion sekarang,'' alis David mengernyit merasa heran dengan apa yang di katakan Zen.


''Buat apa?''


''Datang saja, nanti juga kau tau, sudah paman tutup dulu.'' Tanpa menunggu jawaban Zen pun mengakhiri panggilan nya.


David semakin penasaran, tidak biasanya ia di minta untuk menghadap sang Ayah di tambah sang Mommy pun menghubungi nya tidak cukup sekali. ''Ada apa- ini?'' gumam David.


Dengan cekatan David memakai pakaian nya dan lainnya seperti jam tangan juga sepatu, setelah siap David pun segara pergi dari apartemen nya namun sebelum itu ia menyempatkan diri untuk ke kamar apartemen yang di tinggali Zahla.


Tanpa mengetuk maupun salam, David masuk begitu saja karena memang dia sendiri tau pin kunci pintu itu.


''Zahla?'' panggil David yang mencari keberadaan Zahla.


''Ya!'' sahut Zahla yang ternyata berasal dari cooking room. Dengan senyum yang terlukis David melangkah menuju dimana Zahla berada.


''Kau sedang apa?''


''Membuat sarapan, kau belum sarapan kan?''


''Kau membuat sarapan untuk ku?''

__ADS_1


''Tidak, aku hanya membuatnya lebih, dan kebetulan kau kemari,'' jawab Zahla yang membuat expresi David berubah masam seketika.


''Kau sangat ahli membuat ku kesal,'' sahut David dan Zahla pun tertawa karena ucapannya.


Zahla telah menyelesaikan masakannya dan langsung menghidangkan nya di atas meja dengan dua porsi untuk dirinya dan David.


''Apa ini?''


''Biryani, cobalah, semoga kau suka,''


Dengan expresi aneh, David mencobanya dengan perasaan ragu, karena penampilan dengan warna yang mencolok juga aroma nya yang penuh dengan rempah-rempah itulah yang membuat David merasa asing.


Setelah mencicipinya sedikit, David terbelalak karena rasanya yang lezat sehingga tanpa sadar ia memakannya dengan lahap, Zahla hanya tersenyum melihatnya dan ikut menyantapnya.


Tandas isi piring marmer, tidak ada tersisah satu mata nasi pun, David menyudahinya dengan meletakkan sendok dan garpu di atas piring kosong. ''Kau pandai memasak juga ya?'' cetus David.


''Aku belajar dari ibu panti. Oh ya, kau akan berangkat ke kantor sekarang?''


''Emmm tidak, aku akan ke mansion tapi sebelum itu aku akan mengantarkan mu terlebih dahulu ke kantor,''


''Apa kau yakin?'' Zahla pun mengangguk meyakini David.


''Baiklah, kalau begitu kau hati-hati ya, aku pergi.'' Ujarnya dengan sayang, sebelum pergi David mengusap lembut kepala Zahla dan mengecup singkat pangkal kepalanya.


''Kau juga hati-hati,'' jawab Zahla dan David hanya memberikan senyuman lalu berlalu pergi dari unit apartemen Zahla.


Setelah mengantarkan David sampai depan pintu, Zahla kembali masuk dan membereskan bekas sarapan mereka berdua lepas itu barulah bersiap untuk ke kantor.


Perlakuan juga sikap hangat David sudah merubah warna kehidupan Zahla yang semula benar-benar hanya putih abu-abu, tapi sekarang semua sudah berubah menjadi lebih berwarna.


Senyum Zahla terus saja terukir di setiap langkahnya, mungkin kalau orang lain melihatnya, bisa saja Zahla di anggapnya sudah tidak waras namun Zahla tidak mempedulikan itu, yang terpenting saat ini dia benar-benar sedang bahagia.


***

__ADS_1


Di Mansion, Daniel sudah berada di ruang bacanya seorang diri, pintu terbuka yang ternyata Zen lah yang datang.


''Aku sudah menghubungi David,''


''Heemmm,''


''Aku akan ke perusahaan untuk menghandle klien, kau bicaralah dengan David tapi ku pinta jangan terlalu keras.''


''Jangan mengajari ku untuk bagaimana bicara dengan anak ku,'' tegas Daniel.


''Dia keponakan ku, kerisauannya bisa aku rasakan.'' Sahut Zen tak kalah tegasnya, tanpa berpamitan Zen berlalu begitu saja dari sana. Zen pun ikut kesal dengan keputusan Daniel, baru kali ini mereka tidak sejalan, Zen yang memikirkan bagaimana nanti perasaan David dan Daniel yang tidak mau peduli bagaimana tanggapan anaknya nanti.


Ketika Zen sudah melangkah keluar Mansion, berbarengan mobil hitam milik David berhenti di palataran rumah besar itu. Langkah Zen terhenti di samping mobilnya yang melihat ke arah David.


''Paman?''


''Kau sudah datang? langsung saja ke ruang baca, Daddy mu ada di sana.''


''Baiklah.''


''Oh ya, David keponakan ku, paman minta jangan terbawa emosi saat Daddy mu bicara, kau lebih mengenalnya ketimbang orang lain, kalau begitu paman pergi dulu.''


David mengernyit heran dengan apa yang di katakan Zen padanya, apa maksud dari ucapan nya? kenapa dia harus terbawa emosi jika tidak ada persetegangan.


Zen pun berlalu pergi meninggalkan David, begitu juga David yang melangkah masuk ke sana untuk menemui Daddy nya di ruang baca seperti apa yang di katakan Zen padanya.


Namun sebelum ia mengetuk pintu besar yang tidak tertutup dan menyisahkan celah itu, David mendengar suara seseorang yang sedang berdebat di dalam sana dan membuat David mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintunya.


Di dalam sana, Devita kembali mengajak Daniel berbicara namun tanggapan Daniel membuat Devita kesal lalu terbawa emosi. ''Pokonya kau tidak boleh membatalkan pertunangan mereka!'' ucap Devita dengan emosi.


''Kau harus mengerti, sayang,''


''Mengerti? apa yang harus aku mengerti?'' Daniel terdiam, ia benar-benar bingung harus bagaimana membuat istrinya mengerti.

__ADS_1


''Kau saja hanya diam begitu, bagaimana aku mengerti dengan maksud mu, bahkan kau memutuskan keputusan dengan sepihak tanpa membicarakan nya pada ku!''


''Baiklah aku akan mengatakan nya! kau mau tau kan? karena Gadis itu anak dari Nadia, wanita jahat yang pernah mencelakai mu dulu dan berusaha membunuh ayah, kau ingat!'' Ucap Daniel yang terbawa emosi juga.


__ADS_2