
David terpaku dengan wajah terkejutnya, ia benar-benar tidak menyangka kalau Zahla berani menaikan nada bicaranya padanya.
''A-aku tunggu kamu di bawah, pakailah baju mu,'' ucap David yang berlalu pergi meninggalkan Zahla di kamar.
Ya bagaimana tidak terkejut mendengar seseorang bicara dengan meninggikan suaranya, karena belum pernah ada yang berani seperti itu terkecuali Zahla, ya Zahla gadis yang di juluki nya si kulit gelap.
Beberapa saat kemudian, Zahla yang sudah berpakaian, akhirnya turun dari kamar dan menghampiri David yang sedang duduk di ruang TV.
''Duduklah,'' suruh David dengan suara yang lembut.
Zahla yang tersadar kalau nada bicaranya sudah kelewatan merasa tidak enak pada bos nya itu.
Dengan gerakan perlahan, Zahla pun duduk dengan ragu.
''Minumlah, cuaca dingin seperti ini cocok untuk minum teh hijau ini,'' ucap David lagi yang menggeser sebuah gelas berisikan teh yang di buatnya untuk Zahla dan dirinya.
''Terima kasih,''
''Kau menuntut penjelasan bukan, baiklah. Kalau begitu aku akan memperjelas nya,'' ucap David dan membuat Zahla tertunduk merasa bersalah.
''Maafkan aku, tadi aku sudah berani berkata lantang padamu.'' Lirih Zahla dengan kepala yang ia tundukan dalam-dalam.
''Hei, honey. Kau tidak salah, aku yang salah.'' tangannya bergerak mengangkat dagu Zahla dan rupanya panggilan dari David langsung membuat expresi Zahla berubah seketika.
''Apa, honey? dia memanggil ku honey? apa aku tidak salah dengar?'' gumam Zahla dalam hatinya.
''Aku memang pernah menjalin sebuah hubungan namun aku bahkan tidak pernah menyatakan perasaan ku, entah sejak kapan hubungan itu terjalin. Daaan,, sekarang aku baru paham, pentingnya sebuah penjelasan.'' Ujar David dengan keseriusannya.
''Aku pernah mengatakan kalau sesuatu yang sudah ku cap sebagai milik ku akan seterusnya menjadi milikku bukan?'' Zahla mengangguk.
''Dan arti dari kata itu adalah, kau. Ya kau, aku ingin kau dan aku menjadi kita, kita yang akan menjalin sebuah hubungan yang lebih dari sebuah batas pekerjaan, melebihi dari persahabatan, melebihi dari hubungan apapun, tapi aku mau kau menjadi teman hidup ku selamanya. I love you, honey.''
__ADS_1
Mata Zahla berkaca-kaca, entah kenapa ia merasa tersentuh, dada yang berdegup kencang, keringat dingin yang mengucur deras di saat kecupan itu mendarat ternyata bukan hanya dia yang merasakan nya.
Merasa beruntung atau entah merasa dirinya telah utuh, tapi yang pasti Zahla benar-benar bahagia saat ini, air matanya pun menjadi saksi sebagai perwakilan hatinya.
''Hei kenapa menangis, hem? jangan pernah jatuhkan air mata ini karena aku kalau bukan air mata kebahagiaan.'' Ucap David yang membantu Zahla mengelap tetesan air matanya.
''Kau bahkan belum menjawab nya,''
''Tuan, kau?''
''Kapan kau berhenti memanggilku Tuan? merusak suasana saja,'' cetus David yang membuat senyum Zahla terukir.
***
Suara decitan ban mobil mengundang perhatian beberapa orang yang kebetulan melintas, pintu pengemudi terbuka yang sudah sangat hapal mereka siapa seseorang itu.
Ya dia adalah David, CEO perusahaan yang cukup besar dengan nama DGC group, ya nama itu berasal dari inisial namanya sendiri, karena dari awal dia sangat yakin dengan usahanya itu dan terbukti sampai sekarang.
Kasak-kusuk pun terjadi pada mereka yang sejak tadi terus memperhatikan David. Siapa orang yang beruntung membuat tuan CEO Arrogant nan tampan itu sampai membukakan pintu untuk nya? ya kurang lebih pertanyaan seperti itulah yang saat ini terlintas pada mereka.
Kaki seorang wanita yang keluar membuat orang-orang semakin penasaran dan saat wanita tersebut benar-benar keluar dari mobil, mata mereka pun terbelalak kaget melihatnya.
''Zahla? si gadis pembersih lantai?'' begitulah ucapan semua orang saat melihat wanita yang di maksud nya wanita beruntung itu ternyata adalah Zahla.
Keterkejutan orang-orang itu di sadari Zahla yang merasa tidak enak karena David bersikap berlebihan seperti itu. ''Tuan bos, lihat mereka. Please jangan seperti ini,'' bisik Zahla dengan sangat pelan.
''Biarkan saja, kelak mereka akan terbiasa dengan momen seperti ini.'' Jawab David dengan cueknya.
Dengan percaya dirinya, David menggandeng tangan Zahla masuk ke dalam gedung perusahaan, melewati orang-orang yang di buat terkejut oleh pemandangan di pagi hari seperti ini.
Sesampainya David dan Zahla di ruangan CEO, David meminta Zahla untuk duduk diam di sana dan memperhatikan nya yang akan berkerja.
__ADS_1
''Emmm Tuan, aku harus bekerja,''
''Bekerja dimana?''
''Di pantry,''
''Kau sudah ku pecat,'' mata Zahla terbelalak, apa maksud dari ucapan David itu, di pecat? apa yang dia lakukan? benaknya pun turut bertanya-tanya.
''Kau adalah mahasiswa dengan jurusan bisnis dan nilai-nilai mu cukup bagus untuk mengambil kesempatan magang di perusahaan ku. Lalu untuk apa kau masih berada di pantry?'' Ujar David.
''Ya tapi kan-''
''Sudah, diam saja dulu.'' Potong David dengan cepat.
Setelah memastikan Zahla diam, David pun melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja.
Selagi David bekerja, Zahla yang hanya duduk diam merasa sangat bosan, dari mula bermain game di ponselnya dan membuat pola-pola aneh di kertas yang kosong yang ada di atas meja, semua Zahla lakukan karena berniat ingin membunuh rasa kebosanannya.
David hanya tersenyum melihat tingkah Zahla yang sangat kentara sekali sedang merasa bosan.
''Babi kecil itu sangat menggemaskan,'' gumam David yang merasa gemas melihat tingkah gadisnya itu.
Sebuah ketukan pintu membuat Zahla dan David menoleh, seorang pria yang berpakaian formal memasuki ruangan dengan gagahnya.
''Tuan Kevin?'' gumam Zahla yang terkejut melihat Kevin di sana.
''Apa kabar, nona?'' sapa Kevin dengan ramah.
''Heh, rupanya kau sudah memikirkan matang-matang dengan penawaran ku,'' sindir David.
''Kesempatan tidak ada yang datang dua kali bukan?'' sahut Kevin dengan lantang.
__ADS_1
Sejenak dua pria itu hanya terdiam dengan tatapan saling menghunus, namun sesaat kemudian mereka tertawa bersama dan tentunya membuat Zahla kebingungan oleh tingkah dan sikap kedua pria aneh itu.