
Rambut yang terurai dengan keadaan yang masih sedikit basah, Zahla keluar dari kamar, menuruni tangga yang terus bergumam dengan wajah dan telinga yang memerah.
'' Astaga, David, kau benar-benar menyebalkan,'' ujarnya dan David yang berjalan di belakangnya hanya tersenyum dengan sesekali mengelus kepala Zahla dengan lembut nya.
Tapi saat kaki mereka menginjak di anak tangga yang terakhir, langkah Zahla berhenti tiba-tiba begitu juga David yang merasa bingung karena Zahla berhenti secara tiba-tiba. '' Ada apa honey?'' tanya David dan Zahla menoleh ke arahnya, tanpa menjawab, jari telunjuk Zahla menunjuk pada seseorang yang berada di sofa panjang dengan posisi menungging dan dengan bantal yang menutupi seluruh kepalanya, David mengikuti arah kemana Zahla menunjuk.
Mata David memicing, telunjuknya di tempelkan ke bibir Zahla, agar istrinya tidak mengeluarkan suara apapun. David mencari sesuatu yang akan di ambil nya, dan sebuah tongkat baseball yang berada di lemari ia pilih dan mengambil posisi ancang-ancang untuk menyerang seseorang itu.
Berjalan mengendap-endap, pasangan suami istri itu menuju sofa dan... BUUGHHHHH' David memukul bokong orang itu dengan tongkat baseball nya dan di susul dengan suara jeritan dari orang yang di pukul nya.
'' Sialan! Berandal sialan! kau memukul ku!!'' teriak Kevin yang marah akan tindakan David yang tiba-tiba saja memukul nya.
'' Kakak?'' ucap Zahla yang terkejut dengan orang yang menungging itu ternyata adalah kakaknya sendiri.
'' Oh kau, aku kira penyusup,'' berbeda dengan Zahla, David malah bereaksi seperti tidak terjadi apa-apa, santai dan acuh.
'' Apa maksud mu, oh kau?! hah!!'' Kevin masih tidak terima dengan pukulan yang di berikan David untuk nya.
'' Lalu? ya aku kira kan, kau itu penyusup, mana aku tahu kalau kau yang sedang menungging dengan bodohnya di sofa mahal ku itu,'' sikap arogan David pun secara alami keluar lagi dari nya.
'' Kakak sejak kapan ada di sini?'' tanya Zahla dengan wajah memerah karena takut kalau kakaknya mendengar jeritan- jeritan memekik telinga itu. Kalaupun iya, sungguh memalukan! gumam Zahla dalam hati nya.
__ADS_1
'' Sejak suara kucing bertengkar terdengar jelas,'' celetuk Kevin yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa dari David.
'' Sialan! kau samakan kami dengan seekor kucing?'' sungut David.
'' Ya memang mirip dengan suara kucing kampung sedang bertengkar,'' gerutu Kevin dengan kesal.
'' Kenapa kau bisa masuk ke sini?'' tanya David yang sudah duduk dengan menyilangkan kaki panjangnya.
'' Jangan berpura-pura lagi, Vid. Kau sendiri yang mengirimkan ku pesan dan memberikan aku sandi pintu mu. Kalau aku tahu kau membuat telinga ku ternodai, aku tidak akan masuk begitu saja.'' Dengus Kevin karena kesal menerima tingkah jail David.
David tertawa puas karena rencananya berhasil menjahili sahabat nya itu, karena pada saat Kevin mengirimkan nya pesan yang berisi kalau dirinya sudah berada di lobby dan David yang tiba-tiba mendapatkan ide gila untuk menjahili sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
'' Emmm.. kak, dimana kakak ipar ku itu?'' tanya Zahla yang bingung karena Kevin hanya seorang diri.
Zahla yang menerimanya dengan senang langsung membuka isi dari paper bag itu, dan ternyata sebuah figura yang terdesain cantik dan terkesan antik Zahla dapatkan dari Kevin.
'' Nanti letakan potret anak kalian di sana, dan aku akan bahagia jika melihatnya terpakai dengan semestinya.'' Ujar Kevin dengan senyum hangatnya yang tertuju pada Zahla dan di sambut sama dengan ibu hamil itu.
Makan malam pun terjadi walaupun tanpa kehadiran peran utama yang membuat Zahla memasak itu semua, perbincangan dan di selingi candaan mengisi waktu makan malam mereka, tapi diam-diam David terus memperhatikan Kevin yang terus saja mengalihkan pembicaraan setiap kali Zahla dan David bertanya soal wanita yang berhasil mencuri hatinya itu. Ada sesuatu yang di sembunyikan Kevin? tapi apa?.
~
__ADS_1
Hari ini, David berpamitan untuk perjalanan bisnisnya, walaupun terasa berat meninggalkan istrinya yang tengah hamil muda tapi David tidak bisa mengabaikan tugasnya juga.
Emily yang lagi-lagi di perintah David untuk menemani kakak iparnya itu selama ia tidak ada di sisi Zahla, sudah berada di apartemen, Zahla dan Emily mengantarkan David sampai lobby gedung. Zahla menatap mobil yang di kendarai David sampai menghilang dari pandangannya.
'' Ayo kak, anginnya sedang tidak bagus.'' Ajak Emily untuk kembali ke unit apartemen.
Emily mengajak Zahla masuk ke dalam, Zahla yang terus menoleh ke arah kemana mobil David menghilang, entah kenapa semenjak ia hamil, dia sendiri tidak rela untuk berjauhan dengan suaminya itu.
'' Kak, apa kakak perlu sesuatu?'' tanya Emily yang ikut duduk di sofa bersama Zahla.
'' Tidak Emily, kau duduk bersama kakak saja, hmm? atau kau ingin makan sesuatu? biar kakak buatkan.'' Ujarnya yang langsung di sahuti Emily dengan penolakan karena tidak mau membuat kakak iparnya yang tengah hamil mengerjakan sesuatu untuk nya.
'' Tidak kak, jangan membuat aku mendapatkan Omelan dari ka David karena membuat kakak ipar kelelahan.'' Gurau Emily dan merekapun tertawa bersama.
Di sebuah kafe, Kevin yang baru saja selesai melakukan pertemuan dengan kliennya teringat akan Zahla yang sangat menyukai makanan yang ada di menu kafe itu, dan berniat membelikan sekalian untuk Zahla.
Dengan wajah yang tersenyum, Kevin menenteng sebuah kotak kue untuk ia berikan pada adiknya dan akan di bawanya ke apartemen yang di tinggali Zahla dan David.
Mobil berwarna biru metalik yang di bawa Kevin, melesat kencang menuju apartemen, ia tidak sabar melihat raut bahagia adiknya yang memakan kue favorit nya saat ia kecil dahulu. Kevin terus melirik kotak kue yang di letakan nya di kursi penumpang sebelah nya dengan wajah yang terus tersenyum.
Bunyi bel pintu terdengar, Emily dan Zahla yang berada di kamar tidur karena sedang menonton drama bersama itu segera keluar untuk membuka pintu, bisa saja Kevin langsung masuk namun ingatan nya berputar dengan kejadian sebelumnya, ia tidak mau mengulang kesalahannya dan harus menderita karena mendengar suara-suara jahanam seperti waktu itu.
__ADS_1
Emily meminta Zahla agar duduk di sofa dan dia yang menuju pintu untuk membukanya, saat ia buka, matanya seolah-olah terkunci melihat seorang pria tampan berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis padanya. '' Emily? kau disini?'' tanya Kevin yang memang sudah mengenal gadis 19 tahun itu sejak kecil.
'' K- Kak Kevin? silahkan masuk,'' pipinya memerah, entah kenapa perasaan nya tidak pernah berubah pada Kevin yang sejak dulu ia suka, bukan hanya ketampanannya, Emily menyukai Kevin karena Kevin kerap bersikap perduli dengan nya dan membuat Emily sering salah paham dengan sikap Kevin.