
Cahaya dari luar jendela mengusik tidur wanita yang saat ini sedang berada di pelukan suaminya, siapa lagi kalau bukan Zahla dan David.
Setelah melakukan aktivitas panas di pagi hari, keduanya terlelap kembali karena lelah berperang di bawah selimut sana, seakan tidak pernah puas, David selalu memintanya lagi dan lagi, dan Zahla yang tidak bisa menolaknya pun hanya bisa meng'iyakan walau dirinya sudah sangat lelah.
Zahla bergumam di dalam tidurnya, perlahan mata bulatnya terbuka dan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan nan tegas suaminya, dari alis tebal milik David, kelopak matanya sampai hidung dan dagu, semua turut Zahla perhatikan.
''Kau terlihat tampan ketika sedang tidur begini,'' gumam Zahla dengan suara yang sangat pelan.
''Tapi jika sedang memarahi para karyawan, kau terlihat seperti monster, mengerikan .'' Zahla tertawa kecil meledek David yang masih memejamkan matanya itu.
''Apa kau sudah puas meledek ku,'' ucap David seketika yang berhasil membuat Zahla terkejut.
''Kau tidak tidur?'' perlahan mata hazel milik David pun terbuka.
''Jika aku tidur, aku tidak akan tahu apa yang istri ku ini katakan.'' David mencubit manja hidung kecil istrinya.
Setelah membersihkan tubuh di kamar mandi secara bersamaan, dan melakukan nya lagi di dalam sana, kini keduanya sudah duduk di meja makan karena memang sedari pagi pasangan suami istri itu belum juga mengisi perutnya.
Tidak ada berbincang apapun di saat makan pagi yang di laksanakan siang hari itu, karena memang David menerapkan kebiasaan di keluarga nya, pada saat makan tidak ada yang boleh berbicara. Makan pun telah usai, suara ponsel milik David berdering nyaring dari atas nakas yang ada di ruang tv.
'' Sebentar ya,''
''Ya, aku juga akan membersihkan ini,'' sahut Zahla.
Sedang Zahla membersihkan bekas makan mereka, David pun menjawab telpon yang entah dari siapa itu. ''Ya! ada apa?'' tanya David setelah menggeser icon hijau pada layar ponselnya.
__ADS_1
''Ck, apa sebenarnya yang bisa kau kerjakan, di tugaskan menghandle klien saja tidak becus.'' Ada raut kemarahan pada wajah David yang sudah menutup sambungan telponnya.
''Ada apa?''
''Teman mu itu, sangat tidak berguna,''
''Teman ku? maksud mu kak Krish? ada apa memangnya?''
'' Aku akan pergi keluar sebentar, tidak apa-apa kan kau ku tinggal sebentar?'' Zahla pun menggeleng, dan David segera meraih mantelnya yang tergantung di tempatnya lalu memakai nya.
Setelah memakai mantelnya, David menghampiri Zahla dan mengecup kening Zahla dengan mesranya. ''Jangan kemana-mana ya, tunggu aku pulang.'' David pun berlalu pergi namun baru saja beberapa saat ia keluar dari pintu, David membukanya kembali.
''Dan oh ya, jangan pernah menyebut nama pria lain di hadapan ku lagi, kalau tidak mau menerima hukuman dari ku,'' dengan jahil nya David mengedipkan sebelah matanya lalu lenyap dari balik pintu.
Di perusahaan yang David sendiri pimpin, sedang ada kekacauan yang berasal dari seorang klien yang merasa di rugikan karena tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia terima.
''Maaf Tuan, pak CEO kami sedang bercuti, nanti jika pimpinan kami aktif kembali, akan kami konfirmasikan kembali.'' Ujar pria yang bernama Krishna yang David sendiri lah menunjuknya untuk menggantikan posisi Kevin karena kinerja nya yang bagus.
''Ya saya tahu, dia bercuti karena menikah, tapi apa harus meninggalkan tanggung jawabnya,'' ucap klien itu yang tetap keukeuh dengan keprotesannya.
''Kau tidak perlu mempertanyakan perihal tanggung jawab ku, atau kinerja ku.'' Ucap seseorang yang baru saja tiba yang tak lain adalah David sendiri.
Semua orang yang ada di ruangan Meeting seketika bungkam dan berdiri untuk memberikan salam hormatnya, begitu juga klien itu.
''Apa yang membuat anda seenaknya menilai kinerja ku?'' tanya David setelah duduk di kursinya.
__ADS_1
''Maaf tuan David, kami kesini untuk mempertanyakan pemasangan keamanan yang sudah kita sepakati namun belum juga kami terima pemasangan itu.'' Ucap seorang wanita yang sepertinya adalah sekertaris klien David.
Tangan David mengulur, meminta berkas yang sekertaris nya pegang, lalu membacanya, bibir David tersungging sebelah, entah apa yang membuat nya tersenyum seperti itu. Tiba-tiba David melemparkan berkas tersebut ke hadapan pria yang usianya jauh lebih tua darinya itu.
''Sikap arogan apa ini!'' ucap pria itu seakan tidak terima dengan perlakuan David terhadap nya.
''Kau baca itu, atau kau mau staf ku yang membacakan nya,'' sahut David dengan santainya.
Dengan wajah penuh amarah, klien yang semula meledak-ledak itu seketika raut wajahnya berubah serta berkeringat.
''Sudah tertulis jelas di sana, kami akan memasang sesuai pemesanan jika sudah ada pembayaran seluruhnya, dan kalian belum melakukan itu.'' Ucap David dengan nada yang meledek.
Wajah yang penuh malu itu terlukis jelas pada ketiga orang yang berasal dari perusahaan yang melakukan protes itu.
''Sial, dia sangat cerdik,'' gumam pria berbadan besar itu.
Tanpa berbicara lagi dan tanpa permisi, ketiga orang itu berlalu pergi dari sana.
Di lahan parkir khusu tamu perusahaan, ketiga orang itu memasuki mobil hitam dan berbincang sejenak. ''Aku tidak mau tahu, pastikan tuan arogan itu menerima batunya, kalau tidak aku yang akan mendapatkan hukuman dari tuan besar. Kalian mengerti!!'' Bentak pria bertubuh besar itu pada dua bawahannya.
''Mengerti Tuan,'' sahut kedua secara bersamaan.
''Jika tidak bisa dia yang di jatuhkan, incar orang terdekatnya.'' Lanjut pria itu dan merekapun pergi dari lahan parkir itu dengan mobil yang di bawa oleh seorang supir.
Di ruangan, David menerima sebuah pesan dari ponselnya yang di kirim kan oleh nomor yang tidak di kenal, dan lagi-lagi bibir David tersungging penuh makna lalu berujar. ''Jadi kalian ingin bermain-main dengan ku, baiklah, jangan salahkan aku jika kalian yang akan terjebak oleh permainan kalian sendiri.'' Gumam David.
__ADS_1