Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Five months later


__ADS_3

' Sayang pelan-pelan!!


Devita sedikit berteriak di tengah-tengah ramainya orang-orang yang berdatangan ke rumah sakit dengan urusan masing-masing, tapi ia tidak menghiraukan pandangan beberapa orang yang menatap dirinya tidak suka karena berteriak.


Pihak pengamanan pun tidak mempermasalahkan tingkah Devita, karena memang tidak perlu menegur ibu pimpinan istri dari pemilik rumah sakit itu.


Melihat menantu kesayangan nya berjalan sedikit cepat tentu ia merasa khawatir, Zahla yang tidak sabar melihat suaminya memang tidak menyadari kalau dirinya tengah sedikit berlari dan melupakan kehamilannya yang masih dengan keadaan rentang.


'' Oh ya ,maaf Mom.'' Zahla menghentikan langkahnya, menunggu Devita, mertuanya. Devita menggelengkan kepalanya merasa gemas dengan tingkah Zahla, tangannya memukul pelan lengan Zahla yang tertawa kecil karena pukulan mertuanya.


'' Nakal kamu ya, lupa kamu dengan adik utun, hmm?'' ucapnya dengan lembut.


'' Maaf , Mom.'' Merekapun berjalan bersama-sama menuju kamar David.


Di sana Daniel yang masih duduk di sofa terus memperhatikan anaknya itu, ia sungguh merasa sangat lega, karena anaknya sudah sadar dan kembali pada mereka. Tapi ketikan David tidak sengaja melihat nya juga, Daniel membuang pandangannya ke arah lain. '' Dad, kemana istri ku?'' tanya David masih dengan suara yang berat.


'' Oh, mungkin sebentar lagi mereka sampai.''


Mereka kembali terdiam, ya mungkin karena faktor keduanya sering berselisih paham, dan bersifat sama-sama keras, dan karena sebab itulah mereka sangat jarang berbicara hanya berdua saja.


Canggung, ya mereka merasakan kecanggungan. Terutama Daniel yang tidak tahu harus mengatakan apa, dan harus menanyakan apa.


'' Emm, Bagus kau bangun, kalau tidak! mungkin saja, Zahla sudah menjadi pengantin kembali.'' Ucap Daniel setelah berdehem untuk mencairkan suasana.


'' Itu tidak akan terjadi, Dad!''


'' Apa? apa yang tidak akan terjadi?'' tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan, ya dia adalah Devita. Ibu dari pria yang baru saja sadar dari komanya.

__ADS_1


'' W**elcome my prince..'' seru Devita kemudian yang langsung merentangkan tangannya dan memeluk David dengan sangat hati-hati karena masih ada selang infus yang tertancap di punggung tangan David.


'' Dimana Zahla?'' pertanyaan pertama David tidak berubah, ya! yang di cari nya hanyalah Zahla, istri mungil nya.


'' Astaga, anak ini. Apa yang kau rindukan hanya istri mu, tidak dengan Mommy?''


'' Mom??'' David menekuk wajahnya yang tirus.


'' David...??'' Zahla memanggilnya dan David pun segera menoleh, mata yang berkaca-kaca dapat David tangkap dari mata bulat Zahla, David tersenyum manis, matanya pun beralih melihat tubuh Zahla yang sedikit berisi di bagian perutnya, senyumnya pun bertambah, karena rasa bahagia melihat istri dan calon anaknya.


Zahla melangkah perlahan, tangan David menunggu sambutan dari Zahla, sungguh kalau tidak ada kedua orang tuanya, mungkin ia sudah menciumi istri nya itu.


'' Bagaimana kabar mu dan anak kita?'' tanya David dan hanya di jawab Zahla dengan anggukan, ya Zahla tidak bisa berkata apapun lagi karena rasa haru nya.


Suasana haru itupun terjadi di ruangan bercat'kan putih itu, Zahla yang sangat merindukan suaminya dan Devita juga Daniel yang merasa lega karena anaknya sudah melewati masa komanya.


Meninggalkan kisah haru biru keluarga Carroll, di sisi lain Kevin yang sudah tidak bisa lagi berpikir jernih, mengamuk tidak karuan.


Dengan meminta bantuan seorang hacker kenalan nya, Kevin mencari tahu keberadaan Emily yang katanya ada di negara Paman Sam, namun tidak ada sama sekali jejak Emily di sana. Apa benar ia pergi ke sana? tapi kenapa tidak ada jejak apapun yang menandakan adanya Emily di sana.


Suara ponsel berdering, sebuah notifikasi pesan masuk dan ternyata pesan itu dari hacker bayarnya itu yang memberitahukan bahwa Emily memang tidak pergi ke sana karena melihat catatan data penumpang kepergian ke Amerika dari Bandara, memang tidak ada nama Emily disana.


Apa Emily berbohong pada kedua orangtuanya? Kevin terus bergumam sendiri. 'Apa aku harus bertanya lagi pada mereka?' Ya Kevin berniat ingin bertanya lagi pada kedua orangtua Emily tapi ia takut jika mereka akan khawatir karena mengetahui anaknya yang tidak ada di negara tersebut serta membohongi mereka juga.


Kevin kembali menghubungi nomor Emily tapi ternyata nomor itu tidak lagi bisa di hubungi, nomornya di blokir? Kevin tidak bisa lagi memikirkan bagaimana caranya ia bisa menemukan Emily.


Ya mungkin jika ia pria lain, bisa saja ia duduk tenang karena gadis yang ternodai olehnya tidak meminta pertanggungjawaban namun itu adalah Kevin, yang tidak bisa duduk santai dan tidak memikirkan itu semua, terlebih lagi Emily bagian dari keluarga Carroll yang memang berjasa dalam kehidupan Kevin.

__ADS_1


~~


Hari demi hari, Minggu demi Minggu dan sudah 5 bulan lamanya, Kevin berusaha mencari tahu dimana sebenarnya Emily berada namun belum juga ia bisa menemukan nya.


Rasa bersalah itupun semakin memuncak, tidak seharipun ia tidak memikirkan Emily, sosok gadis cantik yang manja dan centil. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika keluarganya tahu kalau anak gadisnya ternyata tidak ada di negara yang mereka tahu.


'' Apa aku keterlaluan tidak memberitahu kalau Emily memang tidak ada di sana padahal aku tahu semuanya? tapi aku benar-benar bingung.'' Gumam Kevin frustasi.


Kevin terduduk seorang diri di sebuah ruangan yang penuh buku-buku, dengan lampu yang tamaran Kevin berkutat pada komputer nya, jari jemarinya dengan lihai mengetik papan keyboard. Matanya yang berkantung dengan bulatan hitam yang mengelilingi sekitar matanya yang menandakan kalau pria 29 tahun itu tidak cukup tidur.


Bibirnya terlukis sunggingan senyuman tipis seraya berkata. '' Ketemu kau!!" Ujarnya setelah menghela nafasnya.


Kevin beranjak dari duduknya menuju kamarnya, kasur yang tidak di jamah nya beberapa hari akhirnya ia bisa juga merebahkan tubuhnya di sana, dan akhirnya iapun bisa memejamkan matanya yang berkantung itu.


Di Mansion Carroll, Zahla yang baru saja datang bersama David langsung di suguhkan kue yang di buat sendiri oleh Devita. Mereka berbincang, hubungan antara Daniel dan David tidak lagi dingin, walaupun hanya beberapa kata yang mereka obrolkan tapi itu sudah sangat lumayan bagi Devita yang mengetahui sifat keduanya.


'' Mom, Dad. Aku ada urusan penting di perusahaan Kakek, dan itu harus aku lakukan sendiri, aku titip Zahla ya.'' Ucap David setelah menelan kue suapan terakhirnya.


'' Apa tidak bisa mengerjakan di sini? apa kau tidak bisa mengirim asisten mu saja untuk ke London?'' sambar Daniel.


'' Benar apa kata Daddy mu, Vid.'' Timpal Devita.


'' Tidak Mom, Krish juga harus mengurus perusahaan ku, kalian tidak perlu khawatir, aku dan Kevin kebetulan ada proyek bersama, jadi kami akan pergi bersama untuk ke sana.''


Ya beberapa bulan ini, David juga mengurus perusahaan Huang Corp yang memang peninggalan Mahendra Huang, Kakek David, ayah dari Devita.


☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Hai para reader aku mau infokan, bahwa novel ini akan segera tamat beberapa episode lagi, dan akan ada lanjutan dari cerita seorang Kevin yang mencari-cari jati diri dan tujuan hidupnya.


Mohon dukungan dari kalian🙏🙏🥰🥰🥰


__ADS_2