
"Tiara?"
Ya wanita itu Tiara, yang entah sengaja datang kesana dengan tujuan apa, atau memang tidak sengaja lewat, entahlah hanya dialah yang mengetahui tujuan nya itu.
Wanita yang memang mempunyai paras cantik nan elegan itu tersenyum dengan manis ke arah Zahla yang masih berdiri di tempat nya semula.
''Hay, Zahla.'' Sapa nya dengan lembut.
''Hay, Nona Tiara. Sedang apa kau di sini?'' tanya Zahla yang merasa penasaran.
''Emmm, aku ada janji dengan teman ku, kebetulan dia dosen di sini, dan oh ya, aku juga baru tahu kalau kau berkuliah disini,'' ucapnya.
''Iya, aku kuliah disini. Teman mu dosen disini? siapa namanya, siapa tau aku kenal,''
''Ahhh, apa kau sudah sarapan, kalau belum temani aku yaa,'' tanpa berpikiran negatif, Zahla mengangguk cepat meng'iyakan ajakan Tiara.
Di cafe yang berada di dalam kawasan kampus, di sanalah dua wanita berbeda usia itu berada, dengan di temani dua porsi sarapan yang berbeda juga, mereka saling berbincang namun bisa di katakan Tiara lah yang sejak tadi lebih banyak bicara ketimbang Zahla yang hanya ber'oh juga meng'iyakan setiap celotehan Tiara yang tiada henti itu.
''Emmm bagaimana dengan hubungan kalian?'' tanya Tiara secara tiba-tiba.
''Hubungan kami? oh, baik,''
''Emmm, baguslah, lalu apa kau sudah mengatakan perihal penyakit mu?'' Zahla hanya menggeleng dengan pelan tanpa mau menjawab dengan ucapannya.
__ADS_1
''Emmm begitu ya, aku tidak bisa membayangkan sedihnya David jika dia mengetahuinya, ya tapi kau tenang saja, pasti David bisa menerima mu kok, aku mengenal sifat dia dengan baik.'' Ucapnya lagi sedikit menjeda ucapannya karena ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
''Tapi entah dengan keluarganya,'' lanjutnya, yang membuat Zahla menghentikan makan sarapannya. Saat dia ingin menjawab apa yang Tiara ucapkan sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel yang tempo hari di berikan oleh Kevin untuknya.
Sebuah pesan singkat masuk, dan Zahla membacanya tanpa suara melainkan membacanya di dalam hati, dan entah ada apa, tiba-tiba Zahla berpamitan dengan Tiara yang masih menyantap makanan itu.
''Nona Tiara, aku permisi masuk ke kelas ya, dosen ku sudah datang, nanti kita bisa berbincang lagi, sampai jumpa.'' Pamitnya dengan segera tanpa menunggu jawaban dari Tiara lagi, Zahla pun berlalu dari sana.
Dengan jalan tergesa-gesa, Zahla menyusuri koridor namun dengan pikiran yang entah melayang kemana.
''Maksud dia mengirimkan pesan itu apa?'' gumamnya.
Ya yang tadi mengirimkan nya pesan singkat tidak lain adalah David sendiri, dengan bahasa yang kurang di mengerti Zahla yang isinya adalah. ' Sayang, jangan pernah berpikiran untuk menyembunyikan apapun dari ku ya, karena di saat kau baru saja akan berniatan seperti itu, aku sudah lebih tahu. Jangan lupa sarapan, aku mencintaimu.'
Di suatu tempat lain seseorang duduk dengan wajah datarnya dengan menatap sebuah layar laptop dan bergumam dengan nada yang menyeramkan.''Aku akan ikuti permainan mu, yang kau sendiri akan terjerembab kedalamnya,'' gumamnya dengan smirk nya.
***
Zahla yang baru saja selesai mengikuti kelas nya, segera pergi meninggalkan gedung kampus itu, dan seperti biasa, ada mobil yang menunggunya dengan apik, yang tak lain pengemudi itu adalah tunangannya sendiri, David.
''David, sudah ku katakan jangan keluar dari mobil,'' rengek Zahla yang berlarian karena melihat David baru saja keluar dari mobilnya.
''Sayang, aku hanya ingin menyambut mu, itu saja,''
__ADS_1
''Ya tapi tetap saja, lihat mata mereka seperti ingin keluar dari tempatnya,'' ucap Zahla dengan kesal.
''Ya, ya. Baiklah, kalau begitu ayo.'' Zahla yang masih mengembungkan pipinya hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil David.
''Jangan memancing ku untuk mencium bibir mu itu,'' goda David.
''David, kau menyebalkan,'' David hanya tersenyum dengan gelengan kepalanya menanggapi manjanya Zahla yang ia rindukan itu.
Dengan lihainya, David mengemudikan mobilnya, namun bukan mengarah ke perusahaan tapi melainkan jalan yang saat ini mereka lewat ia adalah jalan menuju sebuah kawasan apartemen yang tidak asing di mata Zahla.
''David, kenapa kita ke sini, bukannya kita harus nya ke kantor?''
''Kau duduk manis saja ok, aku merindukan mu,'' bisik David dengan nakalnya.
Manik hitam Zahla melebar begitu mendengar apa yang di bisikan David padanya, pikiran nya sudah melayang entah kemana, wajah Zahla memerah dengan di barengi keringat yang entah kenapa tiba-tiba muncul walau sedang berada di dalam mobil yang tentunya ber-AC.
''Kenapa kau berkeringat?'' tanya David dengan sedikit godaan.
''Hah? tidak, aku hanya merasa kepanasan,''
''Kau tidak perlu gugup seperti itu, nantinya kau juga akan terbiasa akan ini,'' dan lagi-lagi ucapan yang di lontarkan David membuat Zahla berpikiran macam-macam.
Belum selesai dengan rasa gugupnya, ia harus menahan debaran jantung nya pada saat David memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tempat biasa ia menaruh mobilnya.
__ADS_1
'Ayolah, Zahla. Kau jangan berpikiran negatif dulu, jangan sampai David mengetahui apa yang aku pikirkan' gumam Zahla dalam hatinya.