Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Bermimpi


__ADS_3

''Dev.. Aku bawakan roti isi favorit mu,''


''Terima kasih, kau selalu tahu apa yang aku mau,''


''Dev,''


''Hem?''


''Aku punya satu permintaan,''


''Apa itu,''


''Jika nanti aku tiba-tiba pergi dari hidup mu, aku ingin kau setia menunggu ku kembali.''


''Tentu saja.''


Senyum dari wajah manis seorang gadis membuat David terbangun dari tidurnya. Ya percakapan itu ada di alam mimpinya, seorang gadis yang mengenakan pakaian seragam sekolah dengan pemuda yang tak lain adalah dirinya, adegan dimana David dengan seorang gadis yang ada di masa lalu nya entah kenapa tiba-tiba berputar kembali di alam bawah sadarnya yaitu mimpi tidur di siang hari.


David berdecak heran, kenapa ia bisa bermimpi seseorang yang bahkan sudah lama ia lupakan, seseorang yang membangkitkan rasa cinta tapi dia juga yang mematahkannya, bisa di bilang gadis itu adalah cinta pertama nya ataupun bisa di bilang cinta monyet di masa sekolah menengah dahulu.


''Apa maksud dari mimpi itu?'' gumam David.


''Mimpi? mimpi apa?'' tanya Zahla yang entah sejak kapan berada di ruangan David.


David menoleh dengan cepat, tidaklah mungkin David menceritakan mimpinya, batinnya. Alis Zahla menyatu melihat David terdiam menatapnya, seakan-akan ada sesuatu yang David sembunyikan. ''Hei, kenapa diam.''


''Tidak, aku baru saja bangun, entahlah sejak kapan aku tidur.''


''kamu belum menjawab pertanyaan ku, David.''


''Pertanyaan apa?''


''Mimpi,''


''Ooh tidak, tidak penting penting sayang, oh ya sejak kapan kau ada di sini?''

__ADS_1


''Sekitar sepuluh menit aku menunggu mu bangun, ini aku bawakan makan siang,'' ucap Zahla yang sudah menyiapkan makanan yang di bawakan nya untuk suaminya makan.


David menghampiri Zahla yang berada di sofa kantor, dan memakan bekal yang di bawakan istri kecilnya itu, mulutnya mengunyah namun pikiran nya melayang memikirkan tentang mimpi yang baru saja ia alami itu.


Zahla diam memperhatikan David yang mungkin tidak sadar sedang di tatap oleh istrinya, Zahla tahu betul ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya itu, namun ia tidak ingin bertanya lebih karena Zahla tidak mau terlihat posesif walaupun ia sangat ingin tahu.


Ujung mata David secara tidak sengaja menangkap Zahla yang masih menatapnya, senyum nya terbentuk tipis, tangannya mengelus lembut kepala istrinya, bukan tidak tahu kenapa istrinya menatapnya bahkan David sadar betul kalau Zahla sedang menunggunya untuk menceritakan apa yang membuat nya melamun.


''Kamu ikut makan ya,'' Zahla menggeleng, David pun merapikan makanan nya karena sudah merasa cukup terisi perutnya.


''Kemarilah,'' tangannya menarik lembut tangan Zahla agar Zahla berpindah tempat ke pangkuannya, David memeluk Zahla dari belakang meluapkan rasa janggalnya karena memimpikan seseorang yang ada di masa lalu nya yang bahkan seharusnya tidak lagi ia ingat.


''David, kau kenapa ?'' tanya Zahla yang merasa aneh dengan sikap David yang berubah menjadi pendiam, David hanya menggeleng dengan kepala yang ia pendam di balik tubuh mungil Zahla.


''Aku hanya merindukan mu.'' Jawab David yang sebelumnya hanya diam.


''Rindu? baru beberapa jam berpisah sudah rindu?''


''Kenapa? apa tidak boleh ?'' David menarik dagu Zahla lalu mengecupnya singkat, matanya menatap dalam-dalam ke pupil mata Zahla dan David pun mengulangi nya lagi namun bukan hanya sekedar kecupan tapi kali ini mereka saling bertukar Silva sehingga membuat suara kecapan dari keduanya.


Karena tidak ingin ada yang mengganggunya, tangan kirinya bergerak mengambil sebuah remote control untuk mengunci pintu serta menutup krai ruangan nya, ya mungkin semua karyawan paham jika ada nona besarnya mereka tidak ada yang akan berani ke ruangan tuan CEO namun David hanya sekedar berjaga-jaga.


Merasa ruang geraknya yang terbatas, David membopong tubuh mungil istrinya tanpa melepaskan pagutan bibir mereka menuju kamar pribadi yang ada di belakang meja kerja nya.


Di sanalah mereka melanjutkan kembali aktivitas panas di siang hari, mengulangi apa yang mereka lakukan malam tadi, menuntaskan keinginan David pagi tadi yang terganggu oleh panggilan dari sekertaris nya karena ada klien yang sudah menunggunya.


Meninggalkan kisah panas dari suami istri itu, di negara lain Kevin tengah merasa khawatir karena kondisi kesehatan Tiara yang semakin menurun, terjadi komplikasi yang berasal dari luka nya karena hilangnya darah yang cukup banyak.


Kevin menatap cemas Tiara dari balik kaca, beberapa dokter serta perawat sedang berusaha untuk Tiara yang tiba-tiba saja kejang dan nafasnya yang terlihat sesak.


Perawat bergantian masuk dan keluar entah untuk apa tapi Kevin paham kalau kondisi Tiara sangatlah serius.


Tangannya mengepal kuat, kalau saja dirinya tidak terlambat untuk membawa Tiara ke rumah sakit mungkin saja tidak akan terjadi seperti ini, dan Kevin masih menyalahkan Olaf akan kondisi Tiara saat ini.


Ya walaupun Olaf sudah membersihkan nama Tiara karena ancaman Kevin, namun tetap saja Olaf lah yang bertanggung jawab atas Tiara.

__ADS_1


''Jika kondisi mu tak kunjung membaik, aku pastikan dia akan lebih parah dari apa yang di alami dirimu.'' Gumam Kevin dengan urat leher yang mengeras.


Saat seorang dokter keluar dari ruangan Tiara, Kevin pun segera menghampirinya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tiara. ''Bagaimana?''


''Kau bisa tenang sekarang, keadaan nya sudah lebih baik, kami sudah memberikan suntikan, dan kau bisa menemuinya sekarang.'' Jawab Dokter tersebut.


''Apa dia sudah sadar?'' dokter itupun mengangguk, dan Kevin segera pergi melewati dokter untuk masuk ke dalam ruangan.


Senyum lemah Tiara menyambut kedatangan Kevin, dan Kevin pun membalasnya dengan tipis. ''Ternyata kau bisa tersenyum,'' ucap Tiara dengan suara yang sangat pelan karena kondisinya yang masih lemah.


''Jangan banyak bicara dulu bisa kan,''


''Hissttt, sekali saja kau bersikap lembut, apa tidak bisa.''


''Bagaimana keadaan mu, sekarang?''


''Sudah lebih baik,''


''Syukurlah,''


Keduanya terdiam sejenak, Kevin yang kembali bersikap dingin seperti biasanya dan Tiara yang sudah terbiasa akan hal itu.


''Kenapa kau menolong ku?'' tanya Tiara tiba-tiba.


''Karena kau manusia,''


''Ck, aku serius,''


''Sudahlah jangan banyak bicara, lebih baik kau tidur, pulihkan dirimu.''


Kevin beranjak kembali dari duduknya dan pergi ke kaca yang langsung menghadap keluar gedung, tangannya yang berada kedua sakunya terlihat gagah dari belakang. Entah kenapa Tiara tiba-tiba tersenyum melihat Kevin yang membelakangi nya.


''Dia selalu saja bersikap begitu, dingin dan kaku,'' gumam Tiara dengan tawa kecil nya.


Sikap Kevin yang ditunjukkan di depan Tiara berbanding terbalik saat Tiara tak sadarkan diri, Kevin selalu merasa khawatir juga terus mencemaskan keadaan Tiara yang tak kunjung sadar. Namun saat Tiara bangun dari tidur panjangnya sikap dingin Kevin kembali hadir. Lalu ada apa sebenarnya dengan Kevin?

__ADS_1


__ADS_2