Cinta Tuan Alex

Cinta Tuan Alex
Exp 5


__ADS_3

Apartemen Arthur.


" Jika kamu mau berkunjung ke rumah mama mu, silahkan saja. karena kita masih memiliki waktu yang masih banyak untuk persiapan pernikahan".


Anora melihat sambil tersenyum ke arah Arthur.


" Kenapa Papa bisa tahu, jika aku ingin mengunjungi mereka?, padahal aku belum bilang apa pun"Ucap Ano menampilkan kan senyum manisnya.


" Karena aku Papa mu! "Terdengar gelak tawa Arthur yang sudah lama tidak di dengar oleh Ano.


" Papa bahagia selalu ya sama Mommy Anya. itu yang selalu aku harapkan, dan semoga saja cepat dapat adik lagi buat aku, seperti harapan Mama selama ini".


Deg


Raut wajah Arthur seketika berubah saat Ano berbicara tentang kehadiran seorang anak. karena sampai saat ini, Arthur masih belum melepaskannya.


Arthur lupa dengan hal itu, jika dia tidak akan memiliki keturunan lagi karena perbuatannya sendiri. dia harus segera membicarakan dengan Anya. bagaimana pun Anya harus tahu semua tentang dirinya. Arthur tersadar, dia berencana untuk menemui Dokter dan berkonsultasi.


Anora menyadari ada kesalahan dalam perkataannya.


" Maaf kan Aku Pa, jika aku ada menyinggung Papa".


" Tidak sayang, justru Papa sangat berterima kasih pada mu sudah mengingatkan Papa. tidak masalah sayang. Papa baik-baik saja".


" Jadi kapan kamu akan menemui mereka?, dan kalau boleh Papa minta tolong mampir ke tempat Riza. ada berkas yang harus Papa kasih".


" Besok Pa, paling lama aku dua minggu disana. Iya boleh Pa, paling enaknya aku ke tempat Om Riza dulu kali ya, baru ke tempat Mama".


" Iya sayang, terserah pada mu saja. tapi jika memang mau ke tempat Riza dulu, Papa akan menghubunginya. meminta dia untuk menjemput mu di bandara".


" Apa tidak merepotkan Pa?".


" Tidak sayang, pasti Riza senang kamu sudah mengantarkan berkas nya".


" Baik Pa, aku masuk kamar dulu mau siap-siap buat besok".


" Iya sayang, selamat malam".


Arthur mengambil ponsel dari saku celananya, dan mengirimkan pesan pada Riza jika Anora akan ke Jakarta besok, dan memintanya supaya menjemput Anora.


.


.


Bandara, Jakarta.


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.50 saat Anora keluar dari bandara. dan kini dia sudah bersama dengan Riza didalam mobil.


" Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi".


" Aku juga senang Om, hampir dua tahun lebih ya Om?!".

__ADS_1


" Iya segitu lah, bagaimana keadaan mu sekarang? sepertinya sudah sangat baik".


" Seperti yang Om lihat?"Ucap Anora tersenyum sambil melihat ke arah Riza yang fokus dengan kemudinya.


" Bagus lah aku senang melihatnya, dan kamu harus bisa lebih bahagia lagi".


" Siap Om ".


Tidak terasa hampir empat pulih lima menit mereka di jalanan, kini mereka sudah sampai di rumah sekaligus kantor untuk Riza.


" Bima..."Gumam Riza melihat ke arah Bima yang baru sampai juga di depan rumahnya sambil menatap ke arah mobilnya.


" Bima siapa Om? ".


" Itu, Kaki tangannya Pak Alex ".


" Owh itu, iya aku ingat. aku pernah beberapa kali saja bertemu dengan nya dan itu pun dulu ".


" Ayo turun "


Anora dan Riza pun turun dari mobil dan menghampiri Bima.


Deg


Jantung Bima seperti mau loncat dari tempat nya melihat sosok wanita yang selalu menghiasi hati dan pikirannya selama ini sedang berjalan ke arah nya. dengan kecantikan yang selalu bisa menghipnotisnya.


" Woi Bim, seperti melihat hantu saja kau? ".


" Iya santai saja Bim, Ayo kita masuk"Ajak Riza pada Anora dan Bima.


Sedangkan Anora hanya tersenyum mengangguk.


Bima berjalan paling belakang, melihat Anora yang berjalan di depan nya saja sudah sangat membuat nya bahagia luar biasa.


Seperti mimpi yang menjadi nyata saat melihat Anora kini berada sangat dekat dari jangkauannya.


" Om Riza...Bima..., Aku tinggal ke kamar ya. dan ini Om, ada berkas dari Papa"Anora menyodorkan berkasnya.


" Iya terima kasih Anora sudah membawa nya"Riza mengambilnya dari tangan Ano.


" Iya Nona Anora, silahkan"Balas Bima.


" Jangan terlalu formal Bim, panggil saja Anora atau Ano".


" Baik No.. Ano.. Em No... em.. Ano.."Ucap Bima penuh rasa gugup sehingga menimbulkan gelak tawa bagi Riza.


Anora hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


" Sejak kapan Bim, bicara kau seperti itu?"Tanya Riza yang masih mengeluarkan suara tawanya.


Bima tidak menjawab, dia hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


Anora pun meninggal kan keduanya, dia berjalan menuju kamar yang biasa di tempatinya. jika sedang mengunjungi Arthur disini.


" Ayo ke ruanganku "


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang kerja Riza.


Riza mendorong pintunya yang tidak di kunci. karena supaya memudahkan karyawannya mengangkat telepon masuk yang berada di dalam ruangannya.


Kemudian keduanya duduk saling berhadapan.


" Sejak kapan kau suka padanya Bim? ".


" Suka apa? pada siapa? ".


" Anora ".


" Kau tahu dari mana Ri? ".


" Semuanya terlihat jelas Bim dari semua anggota tubuh mu"Goda Riza dengan senyum jahilnya.


" Kau hanya menebak saja kan Ri? ".


" Bagaimana bisa menebak, jika mata kau saja berbicara saat menatap Anora tadi dan sampai kau dibuatnya gugup begitu. mana Bima yang ku kenal penuh ketegasan?".


" Apa jelas terlihat Ri?".


" Sangat jelas Bim, bahkan sangat jelas terlihat".


Bima menepuk pipinya beberapa kali. sampai terlihat kemerahan pada wajah tampannya.


" Kau kenapa lagi Bim, cinta membuat mu sangat aneh".


Riza terawa lagi sambil menepuk pahanya.


Bima hanya menatap intens wajah Riza yang terus saja menertawakan dirinya.


" Dari pertama kita di Villa Pak Yoda, aku mulai jatuh hati pada nya. sampai aku tahu Nona Anora mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Pak Yoda. dan terakhir aku mengetahui jika mereka sudah tidak bersama lagi. karena Pak Yoda menikah dengan Nyonya Serra".


Riza mulai terdiam mendengar kan setiap perkataan yang keluar dari mulut Bima.


" Rasa itu tidak pernah pergi sedikit pun walau tahu aku terluka, kecewa karena Anora dan Pak Yoda. karena aku sadar, aku tidak akan pernah bisa bersaing dengan Pak Yoda".


" Aku membiarkan semua rasa menjadi satu. berharap semuanya akan bisa ku lewati setiap prosesnya".


" Perasaan itu tetap sama ku rasakan padanya, malah menjadi berkali lipat. ketika mengetahui jika Paman Yoda pada akhirnya menikah dengan Nyonya Serra. tapi aku masih hanya diam saja. karena Anora menyembuhkan luka yang tinggalkan Pak Yoda ".


" Dan lagi-lagi tetap sama, perasaan itu masih ada sampai sekarang. dan aku ingin berusaha memperjuangkan nya. walau pada akhirnya aku harus kecewa bila Anora menolakku".


" Tapi setidaknya aku pernah berjuang untuk mendapatkan cinta ku, wanita ku dan kebahagiaan ku".


" Aku punya keberanian itu, melihat Nona Anora yang bisa di titik ini berdiri di hadapan ku dengan segala kelebihanya".

__ADS_1


__ADS_2