
Thalia akan pergi meninggalkan Anora saat mendapatkan jawabannya. karena memang sudah tidak ada yang ingin di dengar nya lagi tentang Bima dan Anora.
" Tha tunggu... "Anora menarik lengan dan meminta Thalia duduk lagi diatas tempat tidur.
Anora menarik nafasnya dalam sebelum menyampaikan semua hasil percakapan yang terjadi di ruang tamu pada Thalia tanpa ada yang ditutupinya.
" Jadi,..."
" Kamu berjuang lah untuk Bima, dan buat Bima jatuh hati pada mu"Ucap Anora memotong ucapan Thalia sembari mengusap punggung tangan Thalia.
" Kita bersaing secara sehat, jika pada akhirnya Bima jatuh hati pada mu.maka dengan senang hati aku berbahagia untuk kalian. tapi jika tidak berhasil aku akan langsung menerima Bima, dan mungkin kita akan langsung menikah".Ucap Anora tho the ponints. karena memang itu yang harus dilakukannya.
Thalia menatap Ano yang dengan santai mengatakan semuanya tanpa beban sedikit pun.
" Kamu bisa melakukan apa pun untuk menarik Bima ke arah mu. terserah pada mu dengan cara baik atau tidak. karena aku yakin kamu wanita berkelas yang tidak akan melakukan apa pun. tapi aku juga tidak tahu jika cinta mu pada Bima akan membawa mu kerah sana".
" Iya Kak Ano, terima kasih untuk kesempatannya. aku akan berusaha untuk membuat Bima menerima dan mencintai dengan cara ku sendiri. Aku juga janji Kak, kalau aku tidak berhasil maka aku rela melepaskan Bima untuk mu".
" Ok ".
Anora memang lah belum ada perasan apa pun bada Bima. namun Anora tahu, Bima pria yang sangat baik dan tentunya dengan kasat mata Bima memang tampan.
Didalam otak Thalia sudah banyak rencana untuk meluluhkan Bima menerima keberadaannya.
" Ayo kita siap-siap Tha, Daddy dan Mama sudah berangkat ke rumah sakit".
Thalia menatap Anora dan menunjuk kearah Ale dengan telunjuknya saat melihatnya sudah tidur dengan mainan yang berada disekelilingnya.
Mereka tertawa melihat Ale dengan cara tidur yang seperti itu. Ano mengabadi kan momen langka ini.
" Kalau nanti kita punya anak, pasti secantik dan selucu Ale ya Kak"Tanya Thalia sembari berjalan mendekati Ale dan mengusap wajah yang sangat meneduhkan hatinya.
Jika saja, Bima langsung menerimanya. mungkin sekarang mereka sedang berproses membuat bayi. tapi sayang, Dia harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa bersama Bima.
" Iya pasti Tha, kamu juga sangat cantik, baik hati, tidak sombong, dan banyak lagi kelebihan mu Tha "Puji Anora dengan tulus.
" Kalau aku sangat cantik dan seperti apa yang dikatakan Kak Ano. kenapa Bima tidak mudah mencintai ku Kak?"Tanya Thalia dengan sendu.
__ADS_1
" Mungkin ini hanya soal waktu saja Tha. terkadang apa yang kita angap mudah, sangatlah butuh usaha dan kerja keras. tapi kadang yang terlihat sangat susah, justru dengan mudah kita dapatkan".
" Oia, Tha bukannya kamu ikut Daddy kerja di Hotel nya? jadi kamu dekat dong dengan Bima".
Thalia menggangguk membenarkan kalau memang selama ini mereka dekat. namun hanya dekat soal pekerjaan bukan yang lainnya.
" Kamu bisa mulai dari sana Tha, ada banyak hal yang bisa kamu lalukan".
Thalia menatap Anora sambil mendengarkan ucapannya.
" Kamu bisa kasih perhatian lewat makanan hal kecilnya, atau mengajaknya ngobrol atau sesekali pergi berdua misalkan untuk urusan pekerjaan. nah pintar-pintar kamu nya saja mengambil celah".
" Cinta akan hadir karena terbiasa Tha, coba saja dulu ".
Sekarang Thalia yang menarik nafasnya dalam, mengingat bagaimana awal-awal masuk bekerja di Hotel Daddy nya. perjuangannya untuk menarik perhatian Bima sangatlah susah ternyata dia baru tahu jika selama ini wanita yang sudah bertahta dalam hidupnya adalah Anora,Kakaknya sendiri.
" Semuanya yang Kak Ano katakan, sudah pernah aku lakukan. sampai aku meminta bantuan Daddy. tapi tidak ada yang berhasil Kak".
" Tapi itu tidak lama aku lalukan, hanya sesekali saja. karena terkadang aku merasa minder jika Bima selalu menolak ku Kak".
" Coba saja lagi, dan ingat kamu gunakan hati dan ketulusan mu Tha, tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini jika kita sudah sangat bekerja dengan keras".
" Jadi kamu tidak perlu khawatir akan tersaingi oleh ku, karena aku tidak akan menarik Bima kearah ku".
" Sebenarnya aku sudah kalah Kak oleh mu. tapi aku tetap bandel ingin mencobanya".
" Tidak masalah Tha ".
Perhatian keduanya beralih pada Ale yang tiba-tiba saja bangun.
" Tata No... Tata Ta... "Panggil Ale melihat kedua Kakaknya dengan wajah yang sangat mengemaskan.
.
.
Sedangkan di kantor Bima sedang melakukan panggilan telepon dengan Riza. dan sudah menceritakan inti dari semuanya.
__ADS_1
" Rasanya aku ingin menghilang saja membawa Anora pergi jauh dari sini?!"Ucap Bima.
" Tapi sayang kau tidak bisa melakukannya. aku rasa sekarang Ano lebih dewasa dalam bersikap".
" Betul sekali apa yang kau bilang Ri. tapi aneh rasanya berada di posisiku".
" Sudah bisa ku bayangkan Bim, kau cinta dan lamar Anora. Tapi Thalia ikut berada dihadapanmu dan bilang jika dia cinta pada mu".
" Iya kau tahu yang dibilang Anora. meminta ku untuk memberikan kesempatan pada Thalia. dan aku rasa Anora tidak pernah serius mau menerima ku Ri,dia hanya sedang mungulur waktu supaya aku bisa mencintai Thalia. dan pada akhirnya aku yang akan terluka disini".
" Iya aku paham Bim, Maju salah mundur pun akan tetap salah".
" Kau sudah pernah bilang dari awal pada Ano bagaimana kau bisa jatuh hati padanya?".
" Belum pernah, dan mungkin tidak akan pernah ".
Hening
Hening
" Bagaimana kalau kau terima saja Thalia,yang sudah jelas-jelas sudah sangat cinta padamu? dia sampai mau mencoba padahal dia tahu kalau itu tidak akan berhasil. Dari pada sama Anora. yang belum jelas mau menerima dan mencintai mu sebesar Thalia. Cinta bisa tumbuh dengan seiringnya waktu. Thalia wanita yang tidak kalah cantik dan baik. Ya itu menurut ku Bim, yang pasti-pasti saja".
" Kalau bisa dan mau, sudah aku lalukan dua tahun silam".
" Iya kan dulu karena kau tidak tahu Anora dan bagaimana perasaan nya pada mu. sekarang kan kau tahu, dia meminta mu mencoba membuka diri pada Thalia".
Hening
" Ada benarnya juga yang kau katakan Ri, tapi untuk sekarang aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. jadi tunggu lah beberapa waktu ke depan".
" Bye Bim"
" Tkanks Ri "
Sambungan telepon pun berakhir.
Bima memijat pelipisnya pelan, pusing yang sangat dirasakannya. ingin berjuang mendekat ke arah Anora, sungguh tidak mudah. ingin menjauh pun belum sanggup.
__ADS_1
" Hati, aku percayakan semuanya pada mu".