
Jakarta, Kantor Alex.
" Oh sungguh sial nasib ku " Bima cukup merasakan lelah yang sangat luar biasa ketika tidak ada Alex, sang Bos.
Ting
Ting
Dia mengambil ponsel yang ada di sampingnya.
" Riza " gumamnya. dia langsung membuka pesan dan membacanya.
( Riza : " Kau datanglah ke alamat yang sudah aku kirim ").
" Rumah sakit Husada ?? " gumam Bima setelah melihat isi pesan berikutnya. dia meminta tolong sekertarisnya untuk membelikannya tiket pesawat dengan penerbangan pertama dengan tujuan ke Surabaya.
Setelah selesai dia langsung merapikan dokumen - dokumen yang ada di atas meja di masukkan ke dalam tasnya. dia menyambar tas dan ponselnya hendak pergi meninggalkan ruangan.
" Bima " Serra melihat Bima yang sudah akan meninggalkan ruangannya.
" Iya Bu, Selamat Sore " ucap Bima hormat.
" Bim, bisa kita bicara di dalam ??" ajak Serra.
" Iya Bu silahkan " ucap Bima membuka pintu ruangan kembali.
Bima melihat ke meja sekretarisnya dan minta di bawakan minuman untuk Serra.
" Silahkan duduk Bu " Bima mempersilahkan Serra untuk duduk di kursi kebesaran bos nya. tapi Serra menolaknya halus.
" Tidak Bim, di sini saja " dia menunjuk sofa yang ada di hadapan meja kerja Alex dan mendaratkan bokongnya disana.
Bima meletakkan kembali tas dan ponselnya di atas meja kerja Alex.
" Iya Bu " Bima juga duduk di sofa berhadapan dengan Serra.
Hening
Hening
" Bim, jika saya bertanya tentang hal yang sifatnya pribadi tentang Alex. apa bisa kamu menjawab dan memberitahukannya pada saya ?? " tanya Serra karena bagaimana pun Bima orang yang sudah sangat lama bekerja dengan Alex pasti akan setia dengan Bos nya walau apapun yang terjadi.
Bima sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Serra dan akan seperti apa.
" Mohon maaf sebelumnya Bu. kalau memang saya bisa, saya akan jawab. tapi kalau saya tidak bisa. itu bukan wewenang saya " jawab Bima tegas. walau ada sedikit rasa kasihan tapi mau bagaiman lagi ini totalitas dia bekerja untuk Bosnya.
Tok
Tok
" Masuk " ucap Bima melihat pintu yang terbuka. " ada apa " tanya Bima menghampiri Sekertarisnya.
" Maaf Pak Bima anda di tunggu di ruang meeting sekarang, karena ada Pak Yoda " ucap sekertarisnya.
" Maaf Pak, Bu. silahkan di minum " ucap sekertaris dan meletakkan minumannya di atas meja.
" Iya, saya kesana sekarang " balas Bima.
" Baik Pak. Terima kasih " sekertaris pun meninggalkan ruangannya Alex.
" Mohon maaf Bu saya tinggal sebentar. kalau Ibu berkenan Ibu menunggu saya disini " ucap Bima keluar meninggalkan Serra.
__ADS_1
Serra berjalan ke arah meja kerja. dia duduk di kursi kebesarannya Alex dengan mengembangkan senyum di bibir manisnya di kala dia mengingat kebahagiaan Alex bisa dengan cepat membangun kerajaan bisnisnya.
Gedung perkantoran ini awal sejarah kesuksesan seorang Alexander Damian Diaz.
Lamunannya menerawang jauh saat mereka pertama bertemu sampai sekarang ini.
Brak
Tak sengaja Serra menyenggol tas dan menjatuhkannya ke lantai. sampai ponsel yang ada di atas tasnya menyala.
Ting
Serra begitu terkejut melihat notifikasi pesan yang ada di layar ponsel yang di tak sengaja dia jatuhkan.
" Alex masuk rumah sakit " gumam Serra.
Lima belas menit sudah Serra menunggu Bima dengan tidak sabar.
Cklek
" Maaf Bu menunggu lama " Bima masuk dan menutup pintunya.
" Iya saya mengerti Bim, tidak apa - apa " ucap Serra santai.
" Saya tak sengaja membaca pesan mu yang mengatakan kalau Alex di rawat di rumah sakit Surabaya " Ucap Serra jujur dan to the points.
Alex langsung mengambil ponsel dan membuka pesannya.
( Pak Bos : " Bim, saya di rawat di rumah sakit Surabaya. Riza sudah mengirim lokasinya ").
" Benar ternyata Ibu Serra sudah membacanya ". gumamnya dalam hati.
" Dan tolong jangan bilang sama Alex saya ikut " ucapnya lagi.
Akhirnya Bima dan Serra langsung berangkat sore itu juga. menggunakan mobil Serra. Bima tak bisa menolak permintaan Serra yang ini.
" Mungkin sudah waktunya Ibu Serra tau tentang Wanita idaman lain nya si Bos " ucap Bima dalam hati.
Surabaya, Rumah Sakit Husada.
Sudah menjelang dini hari mereka sampai di RS Husada setelah melewati perjalanan kurang lebih tujuh jam nanti berhenti kecuali untuk isi bensin.
Bima dan Serra bergantian membawa mobilnya karena mereka sama - sama dalam kondisi yang sudah sangat lelah pulang dari kantor sore itu.
Bima tak melihat ada Riza di mana pun. akhirnya dia dan Serra langsung menuju ruang VVIP di mana Alex dirawat.
" Ku tau kau pasti sangat marah pada ku. tapi tolong pastikan untuk ku keadaan Nora akan
aman " pinta Alex pada Riza dengan penuh kesungguhan.
Serra yang sudah sampai di depan kamar rawat Alex menautkan kedua alisnya. "Nora, apa hubungan nya " batin Serra.
Tok
Cklek
Riza membuka pintu dan mempersilahkan Bima masuk.
Wajah Riza sedikit tegang melihat perempuan yang datang bersama Bima. dia menundukkan kepalanya.
" Pak Bos " sapa Bima yang masih berdiri diambang pintu.
__ADS_1
" Kenapa masih berdiri disitu ?? " tanya Alex yang heran melihat sikap Bima yang tak seperti biasanya.
Serra menampakkan dirinya di samping Bima.
Alex cukup terkejut kenapa ada Serra di sini ?. tapi bagus lah biar cepat selesai urusannya dengan Serra.
Riza dan Bima saling menatap penuh kode untuk meninggalkan Alex dan Serra. memberikan waktu mereka untuk bicara menyelesaikan masalahnya.
" Permisi Pak, Bu " ucap keduanya pergi meninggalkan Alex dan Serra.
Hening
Hening
" Se "
" Hem " Serra duduk di kursi di hadapan Alex.
" Nora ?? " Serra meremas kedua jari jemarinya bercampur semua rasa menjadi satu. saat dia hanya menyebut Nama Nora. Dia tidak berani bertanya secara gamblang pada Alex.
" Iya, aku sangat mencintai Nora " ucap Alex dengan tegas. tanpa memikirkan bagaimana perasaan perempuan yang sudah menemaninya hampir empat belas tahun.
Tapi apa hari ini, dia mengakui perasaan cintanya untuk perempuan yang baru kemarin di kenalnya. apa sebanding dengan dirinya??.
Serra menundukkan kepalanya sangat dalam mendengar pengakuan Alex yang begitu menusuk hatinya.
Serra pergi begitu saja tanpa kata dan tanpa melihat lagi ke arah Alex.
Dia masuk kedalam mobil dan langsung membawa mobilnya membelah jalanan kota Surabaya dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Surabaya, Kediaman Arthur.
Satu jam sudah berlalu. Dengan mata yang sembab dia sudah berdiri di depan pintu rumah seseorang yang ingin ditemuinya.
Tok
Tok
Dor
Dor
Nora dengan langkah cepat membuka pintu rumahnya. dia berharap Arthur yang datang.
" Serra " Nora mendekati Serra yang terlihat sangat kacau.
" Se - " ucapannya terjeda berganti dengan suara yang sangat memilukan.
" Awww "
" Awww "
Serra menarik kasar rambut Nora sampai dia terhuyung ke belakang dan menariknya sampai masuk ke dalam rumah. kemudian dia mendorong tubuh Nora membentur lemari pajang dan ambruk di lantai dekat meja makan. menyiramkan susu yang masih panas yang ada di meja ke atas kepala Nora. menambahkannya lagi dengan menaburkan garam di atas rambut yang sudah rontok karena di jambak.
" Ini tak sebanding dengan luka yang sudah kamu torehkan untuk ku dan keluarga ku " ucap Serra menarik rambutnya lagi sekuat tenaga. sehingga kepalanya Nora mendongak ke atas. tatapan keduanya bertemu dan beberapa detik Serra semakin menariknya kuat.
Argh
Walaupun belum merasa puas untuk menyakiti Nora tapi jauh di lubuk hatinya dia tak ingin melakukan hal seperti ini.
Nora hanya diam tanpa membalas apa pun karena memang ini kesalahannya. " Tuhan, kuatlah aku dan calon anak ku " doanya dalam hati sambil mengusap pelan perutnya.
__ADS_1