
Para lelaki sudah berkumpul di ruang kerja Arthur, sedangkan Anora sedang menata makanan yang di bawanya di atas meja makan.
" Ada apa Thom kemari ? apa ada yang penting " Tanya Arthur.
" Iya Om, aku mau kasih dokumen punya Riza". Jawab Thomas.
" Dokumen apa ?" Tanya Riza ikut nimbrung.
" Ini Ri, Dokumen Pembuatan Butik Mommy di Surabaya " Jawab Thomas.
" Permisi ... Permisi " Ucap Ano menghampiri para lelaki yang sedang mengobrol.
Mereka semua melihat ke arah Ano yang sudah membawa nampan berisi tiga gelas kopi panas dan beberapa makanan ringan sebagai ganjal perut sebelum makan malam mereka tiba.
" Terima kasih Ano " Ucap Riza membantu Ano meletakkan gelas - gelas kopinya.
" Iya sama Om Riza " balas Ano langsung pamit lagi keluar.
" Duduk di sini saja Ano !" perintah Arthur menghentikan langkah Ano dengan menarik salah satu kursinya.
" Tidak Pa, aku tunggu kalian diluar saja " Tolak Ano dan melanjutkan lagi langkahnya kemudian menutup pintunya.
" Oh iya ya Butik yang mau di bangun di Surabaya ? Ucap Riza membuka tiap halaman dokumennya.
" Bagaiman Thom keadaan Thalia sekarang " Tanya Arthur "
" Sudah sehat Om, jauh lebih baik " Ucap Thomas merasa sedikit tidak nyaman.
" Iya kami lagi meeting Bima mengabari kalau Thalia masuk rumah sakit " sambung Riza.
" Iya Bima sangat membatu kami selama di Rumah sakit " Ucap Arthur menautkan kedua jari jemari tangannya.
" Iya Bima juga sangat panik saat tau Thalia sudah kehilangan banyak darah. di tambah lagi kepanikan Bima karena kau tidak ada saat itu untuk beberapa waktu " Ucap Riza sengaja membahas yang di bagian itu dengan sedikit tersenyum.
Dan cukup terlihat raut wajah yang panik dan khawatir yang di perlihatkan Thomas.Tapi dia mencoba bersikap biasa saja.
" Iya Bima tau kalau aku nunggu di mobil karena terlalu kaget dengan kejadian yang Thalia lakukan " Ucap Thomas mendaratkan punggungnya pada badan kursi.
Riza cukup tersenyum mendengar jawaban Thomas.
" Tapi bagaimana membuat dia mengaku kalau tak ada bukti yang mengarah padanya?" Batin Riza dengan tatapan yang tajam sampai membuat Thomas salah untuk bersikap.
__ADS_1
" Pasti ini yang sulit juga Bima lakukan" Batin nya lagi.
" Kenapa Ri ?" Tanya Arthur yang menyadarkan Riza dari lamunan. sampailah terucap kalimat yang membuat Thomas dan Arthur terkejut.
" Nora di tahan di Rutan Surabaya " Ucap Riza menatap Thomas dengan sangat sulit di artikan olehnya.
Deg
Deg
Keduanya cukup kaget dan terkejut karena mengetahui ini.
" Dari mana kau tau Ri " Tanya Arthur dengan rasa tidak percayanya.
" Bima yang mengabari aku dua bulan yang lalu " Jawab Riza mengalihkan pandangannya ke arah Arthur.
" Kau kan sudah berpikir Nora bahagia sama Alex. Ya, Nora bahagia dengan hidupnya yang baru, di tahanan. dan Alex terpuruk di rumahnya karena tak bisa membebaskan Nora. Nora di hukum lima belas tahun dalam keadaan hamil besar pula ". ucap Bima yang kembali mengunci tatapannya pada kedua mata Thomas.
Thomas hanya diam seribu bahasa tanpa berkomentar apapun atas obrolan mereka berdua. tapi dia tidak menyangka Nora akan di tahan. tapi dia selalu meyakini ini karma sebagai penebus kesalahan yang sudah dilakukannya pada kelaurga mereka dan keluarga Nora sendiri.
" Karena apa Nora di tahan? kenapa juga Alex tidak bisa membebaskannya ? " Tanya Arthur lagi dengan perasan bersalah pada mantan istrinya. karena tidak bisa tetap menjaga dan melindunginya lagi.
" Katanya Nora menghilangkan nyawa suster yang sudah membantu dia selama dia sakit. Dan semua bukti sudah mengarah pada Nora semuanya. dan Nora pun mengakui itu perbuatannya ". Jawab Riza.
Semua pasang mata tertuju pada suara pintu ternyata benar saja Ano sudah terhuyung ke belakang pintu saat mendengar apa yang dikatakan Riza.
Ano menangis sejadi - jadinya, menutup wajah dengan kedua lututnya terduduk dilantai. begitu sakit hatinya mengetahui keadaan Nora sungguh tidak baik. bahkan Ano tidak tau kalau Nora sudah mau bicara dan lebih parahnya lagi saat Nora menderita. dia, sebagai seorang Anak tidak ada disampingnya.
Arthur berlari mendekat ke arah Ano. dia menggendong Ano membawanya ke dalam kamarnya. Arthur ingin dia sendiri yang menyampaikan langsung berita tentang Nora.
" Thom kau mau makan malam bersama kami ?" Tanya Riza.
" Akh tidak Ri, aku pulang saja. sampaikan salam ku pada Om Arthur " Pamit Thomas pada Riza dan langsung berlari ke arah mobilnya.
Riza hanya mengangguk mengiyakan.
" Aku yakin kau pelaku sebenarnya !"
" Tapi bagaimana membuat mu bicara "
Tanya Riza pada dirinya sendiri. dia sungguh frustasi. kemudian dia langsung mengambil ponsel dan mengirimkan pesannya pada Bima.
__ADS_1
Surabaya, Rumah Tahanan.
Tidak banyak kegiatan yang di lakukan Nora didalam sel selain dia bercerita dengan Ibu Rosa atau dia yang jadi pendengar untuk Ibu Rosa.
Waktu sudah menjelang sore, seperti biasa Ibu Rosa sudah rapi dengan penampilannya.
Sedangkan Nora masih terduduk di lantai beralaskan tikar.
" Ibu sudah cantik sekali " Nora memuji kecantikan yang di miliki Ibu Rosa walau usianya sudah memasuki angka tujuh puluh tahun.
" Apa kamu tidak ingin mandi ?" Tanya Ibu Rosa balik.
" Tidak, aku merasa tidak enak badan " Ucap Nora merebahkan tubuhnya di atas tikar.
" Mau aku panggilkan Ibu penjaga untuk membawamu ke dokter ?" Tanya Ibu Rosa khawatir dan mendekat ke arah Nora. kemudian dia memegang dahi dan beberapa bagian tubuh Nora dan memang suhunya lebih panas daripada biasanya.
" Akh tidak jangan Bu. bisakah kepalaku tidur di paha Ibu ?" Tolak Nora sekaligus meminta untuk menidurkan kepalanya di atas paha Ibu Rosa.
Ibu Rosa mengangguk, dia meluruskan kedua kakinya di lantai dan langsung mengangkat kepala Nora untuk di letakkan di pahanya.
Nora memiringkan tubuhnya dan langsung memeluk erat kedua kaki Ibu Rosa.
Nora menarik nafas dalam - dalam untuk menahannya tidak menangis. tapi sayang kedua tangan Ibu Rosa yang berada di atas kepalanya sambil mengusap rambutnya malah dengan cepat membuatnya menangis.
" Aku merindukan mereka!" ucapnya lirih.
Hening
Hening
Beberapa jam sudah berlalu, Ibu Rosa dengan setia masih meminjamkan pahanya untuk alas Nora tertidur.
Kesemutan yang di rasakan kaki tua Ibu Rosa.
Tapi sungguh tak tega bila harus memindahkan kepala Nora atau membangunkannya. Karena ini kali pertama Nora meminta seperti ini darinya.
Jakarta, Kediaman Alex.
Berbeda dengan Thomas yang sedang nyenyak tertidur di kasur empuk miliknya.
Setelah pulang dari kantor Arthur, dia langsung pulang dan masuk ke kamarnya. Dia tidak bisa berpikir apapun lagi.
__ADS_1
Kejadian demi kejadian masih sangat jelas di ingatannya. bahkan itu menjadi mimpi buruk untuknya.
Yang biasanya Thalia dengan leluasa masuk ke kamarnya walau hanya untuk membangunkan tidur atau hanya sekedar iseng saja masuk ke kamarnya kini harus bersusah payah dulu untuk minta di bukakan pintu.