Cinta Tuan Alex

Cinta Tuan Alex
Bab 61


__ADS_3

Serra dan Paman Yoda sudah sampai di tempat tujuan.


Mereka datang bersamaan dengan Arthur dan Riza yang baru sampai juga.


" Selamat pagi Pak Yoda "


" Selamat pagi Ibu Serra "


Riza menjabat tangan Paman Yoda dan Serra bergantian.


" Selamat pagi juga Ri "


" Tak perlu formal banget Ri " balas Serra santai.


Riza mengangguk mengiyakan.


Mereka menuju tempat yang sudah di pesan jauh - jauh hari untuk meeting mereka kali ini.


Serra melihat penampilan Arthur yang jauh berbeda dari pertama kali mereka bertemu. Perawakannya yang agak kurus, rambut yang dibiarkannya panjang dan brewok yang semakin lebat hampir memenuhi sebagian pipinya.


Kehidupan percintaan mereka memiliki nasib yang sama yaitu di khianati pasangannya. padahal dari segi apapun dan mana pun mereka sangat ideal dan sempurna untuk pasangannya. tapi sayang hati tak melihat itu semua.


" Hei " ucap Arthur membuyarkan lamunan nya.


" Hei " balas Serra sedikit grogi.


" Ayo jalan " ajak Arthur.


Surabaya, Kediaman Alex.


" Cinta, hari ini aku ada meeting. Suster sedang dalam perjalanan kesini. aku minta tolong jaga kesehatan kamu dan calon bayi kita. jangan melakukan hal apapun yang membahayakan dan jangan berfikir terlalu keras. cintai aku dan hidup kita " pinta Alex panjang lebar dan terselip rasa khawatir akan keadaanya tanpa pengawasan langsung dirinya.


Nora mengelus wajah tampan nan rupawan yang ada di hadapannya.


" Iya Daddy kita akan baik - baik di rumah. Daddy juga kerjanya hati - hati. kami menunggu mu pulang " balas Nora dengan ******* sedikit bibir bawah Alex.


Alex tak mau hanya ******* di bibir bawah nya saja jadi dia menahan tengkuk Nora dengan sebelah tangannya dan memperdalam cium@n mereka.


" Akh... Alex udah, nanti kamu telat meeting "


Nora menarik rambut Alex dan memegang wajahnya.


" We love you " Nora menempelkan kening mereka.

__ADS_1


Alex begitu bahagia mendengar kata keramat yang keluar dari bibir manis Nora yang selama ini belum pernah dia dengar.


Nora melihat kedatangan suster yang akan menemaninya " Silahkan masuk Sus " Nora mempersilahkannya masuk.


" Ibu Nora sudah bisa berbicara " teriak suster dan menghampirinya.


" Saya seneng Bu "


" Iya, terima kasih Sus "


Nora memeluk suster yang sudah hampir empat bulan ini membantu merawat dan menjaganya.


" Oia Pak, Mohon maaf saya kelewat senang jadi lupa kalau ada bapak di sini " ucap suster tak enak hati.


" Iya tidak apa - apa sus ".


" Cinta aku berangkat ya, Jagoan ku, princess ku, Daddy berangkat ke kantor ya. nanti kalau sudah selesai Daddy langsung pulang menemani kalian ".


Alex memeluk dan mencium perut buncitnya Nora lalu dia pergi meninggalkan rumahnya menuju kantor.


" Ibu beruntung sekali punya Bapak yang sangat mencintai ibu " ucap suster sungguh merasa iri melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Nora tersenyum mendengar apa yang baru saja suster katakan.


" Iya kami sangat beruntung, tapi sayang keberuntungan itu membuat banyak orang terluka " ucap Nora sendu.


" Maaf sus saya hanya terbawa suasana".


Nora langsung berpamitan pada Suster untuk masuk ke kamar nya mengganti pakaiannya.


" Sus, saya ke kamar dulu ya. kalau suster belum sarapan di meja makan ada roti dan selai. kalau mau makanan berat di kulkas sudah ada isinya. tadi bapak yang isi " ucap Nora cekikikan.


Nora mengambil ponsel yang sudah beberapa bulan dia abaikan tapi Alex selalu mengisi dayanya. Dia melihat pesan masuk tapi tak ada satupun pesan dari Anora ataupun Arthur.


Dia melihat jam yang ada di ponselnya menunjukkan pukul 09.45.


" Mungkin Ano masih sibuk "


" Tapi kalau sibuk pasti Ano tidak akan mengangkatnya " ucap Nora dalam hati.


Akhirnya dia memberanikan diri untuk menghubungi Anora dengan perasaan bercampur aduk.


Tut

__ADS_1


Tut


Tut


Nora begitu senang saat mendengar suara Anora dari sebrang telpon.


" Halo Om Alex, aku tak bisa datang lagi untuk beberapa minggu ke depan karena pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan dan tugas kampus yang sudah mau hampir deadline penyerahannya dan semoga cepat sembuh untuk istri anda " ucap Ano menjelaskan panjang lebar.


Nora hanya mendengarkan begitu banyak kalimat yang terucap dari Ano. anak yang sangat di rindukannya. tapi apa " Istri anda ". Nora tak mendengar kata Mama untuk memanggil dirinya.


" Halo Om, Aneh "


Anora langsung mematikan telponnya saat tak ada jawaban dari lawan bicaranya di telpon.


" Anora " Nora membenamkan wajah sembab nya pada bantal. gejolak emosi yang tak bisa di tahannya. dia menggigit bibirnya sampai mengeluarkan darah.


Sementara itu Thomas dan Thalia yang masih berada di dalam kamar hotel X sedang berkemas untuk kembali lagi ke Jakarta siang ini. sudah tidak ada yang tersisa. mereka menelan kekecewaan yang sangat teramat dalam pada Daddy nya.


" De, agak di percepat berkemasnya. kita sebentar lagi berangat ke bandara. Abang sudah minta tolong Bima untuk mengantarkan kita " ucap Thomas yang mau hampir selesai merapikan barang - batang nya.


Karena tak mendapatkan respon dari Thalia, Thomas menoleh ke samping ke tempat Thalia. dia melihat Thalia yang duduk di bawah pinggir tempat tidur sudah selesai berkemas terlebih dahulu. dia lagi memegang ponsel dan tas nya dalam pangkuannya.


Thalia menatap ponsel yang memperlihatkan Daddy nya.


" Dadd, aku sangat sedih sekali kehilangan Daddy, Daddy tak bisa menyelami dan merasakan rasa yang ada di dalam hati ku. sungguh sudah sangat terluka parah Dadd. sampai aku tak sanggup lagi untuk bernafas. apa Daddy akan sedih dan merasa kehilangan Aku jika aku tidak ada, I love you Dadd, ?? " Tanya Thalia lirih sambil mengusap wajah Daddy nya di layar ponsel.


" Kamu bicara apa De ?? tidak jelas begitu " tanya Thomas yang hanya mendengar beberapa kata saja dan seperti sedang menggerutu.


Tanpa sepengetahuan Thomas Thalia mengeluarkan pisau yang sudah di bawanya dari rumah. dia sudah memperhitungkan hal terburuk karena Daddy nya tak bisa lagi bersamanya.


Dengan perlahan Thalia menyayat pergelangan tangannya. rasa perih dan rasa sakitnya tak pernah sesakit saat Daddy nya pergi.


Darah yang keluar dari pergelangan Thalia mulai membasahi pakaian bawahnya.


Semakin lama semakin dalam Thalia menyayat pergelangan tangannya semakin banyak pula darah yang keluar.


" Selamat tinggal Daddy, aku tak akan merasakan kesakitan yang teramat dalam saat Daddy benar - benar pergi dari hidup aku"


Ucap Thalia lirih. dia menyandarkan tubuhnya pada pinggiran tempat tidur dengan lumuran darah.


Bima yang sudah cukup lama menunggu. tapi belum terlihat keberadaan mereka. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu mereka membawa barangnya. dan langsung menuju ke kamar mereka.


" De ayo pergi Abang udah selesai " Thomas menggendong tasnya di punggung dan menenteng tas kecil.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Thomas melihat Thalia sudah bersimbah darah.


__ADS_2