
Bab 52
Kediaman Alex.
Setelah sampai di rumah tengah malam. Thomas langsung ke kamar dan menguncinya.
Aaarrrrgghh
Aaarrrrgghh
Thomas meninju samsak berkali - kali tanpa memakai sarung tinju sehingga membuat jari - jarinya sangat merah dan lecet serta ada bercak darahnya.
Suara erangan penuh frustasi yang menggema di dalam kamar Thomas. dia merasa buntu untuk mencari jalan keluar dari apa yang sedang mereka hadapi.
" Oppa " gumamnya.
Thomas langsung mencari ponselnya dan tak dapat menemukannya.
" Akh, ketinggalan di mobil " guman Thomas.
Dia bergegas ke garasi untuk mengambil ponselnya di jok mobil.
" Thom, dari mana ??? " tanya Alex melihat Thomas keluar dari lift.
" Garasi Dadd, ambil ponsel " ucap Thomas menunjukan ponselnya.
" Astaga Thomas, tangan mu " ucap Alex meraih tangan Thomas dan melihat kondisi kedua tangannya.
" Nggak apa - apa Dadd, ini hanya luka kecil "
Balas Thomas datar.
" Ayo kita bersihkan kemudian di kasih obat. Itu pasti sakit " ucap Alex panik.
" Iya Dadd, memang sakit. tapi di sini Dadd, disini yang paling sakit " ucap Thomas menunjuk dadanya sendiri dan berniat pergi dari hadapan Alex.
" Thom, Maaf kan Daddy " ucap Alex menahan pergelangan tangannya.
" Maaf kalian tidak akan mengembalikan apa pun " ucap Thomas menepis tangan Alex dan berlalu pergi meninggalkan Alex yang masih setia berdiri ditempatnya.
Surabaya, Kediaman Arthur.
Tak terasa satu minggu sudah Arthur dan Nora menempati rumah mereka yang di Surabaya.
Riza meminta bantuan pada beberapa istri pegawai nya untuk merapikan dan membersihkan rumah Arthur.
Sementara untuk semua pekerjaannya, Arthur menyerahkan sepenuhnya pada Riza.
Karena Arthur akan menemani dan fokus pada kesehatan Nora dan calon bayinya. Karena Ano tak bisa ikut ke Surabaya karena sudah mulai magang. Dan Arthur memberikan izin untuk tinggal di apartemen.
Nora mendengar suara berisik dari arah dapur. dia menghampiri asal suara, benar saja Arthur sedang berusaha menyiapkan bahan makan dan peralatan masak yang akan di gunakan.
" Mas, biar aku ajah yang masak " ucap Nora menarik tangan Arthur untuk pergi dari dapur.
" Tidak sayang, nanti pasti kamu mual mencium aroma - aroma bumbu dapur. terus kata dokternya juga jangan melakukan pekerjaan berat. jadi kamu duduk manis saja di sini " ucap Arthur pada dan mendudukkan Nora di atas kursi.
__ADS_1
" Mas "
" Ssssssstt, jangan pernah meminta maaf lagi. kita akan melanjutkan hidup bahagia kita disini " ucap Arthur seolah tahu apa yang akan di katakan Nora. dan memang begitu kenyataannya. setiap waktu Nora selalu meminta maaf padanya.
" Apa kita pesan makanan ajah " tanya Arthur mengalihkan pembicaraan mereka
" Nggak Mas. biar aku saja yang masak. aku merasa biasa ajah tidak merasakan mual atau apa pun. jadi aku mohon biarkan aku membuat makanan untuk kita " ucap Nora memohon.
" Iya baiklah, kamu yang masak. aku akan duduk disini menemani mu " ucap Arthur mengambil kursi dan mendekatkannya di sebelah Nora.
Drrrttt
Drrrttt
Arthur mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
" Riza " ucap Arthur memberitahu Nora siapa yang menelponnya.
Nora hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan masaknya lagi.
" Iya Ri, katakanlah " pinta Arthur.
Arthur mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di katakan oleh Riza dari sebrang telponnya.
" Iya Ri, akan aku usahakan. tapi tidak janji " ucap Arthur lalu mematikan sambungan telponnya. dia melihat Nora yang sebentar lagi menyelesaikan masakannya. sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Nora di sini sendiri. tapi Riza memintanya datang ke Jakarta. jadi dia merasa bingung apa yang harus dilakukannya.
" Ada apa Mas ? " tanya Nora melihat Arthur yang sedari tadi memandanginya.
" Ada pekerjaan yang mengharuskan aku ke Jakarta. tapi aku belum bilang bisa atau tidaknya datang kesana " ucap Arthur hati - hati.
" Aku tidak apa - apa kalau harus di tinggal sendiri, Mas jangan terlalu khawatir " ucapnya lagi mengusap lengan Arthur.
" Kita makan Yuk " ajah Nora pada Arthur yang Udah selesai menyiapkan makanannya di atas meja makan.
Hening
Mereka berdua menikmati makanannya tanpa ada suara obrolan hanya saja terdengar bunyi sendok dan piring yang beradu.
Setelah selesai, Nora merapikan meja makannya. mengambil piring, sendok dan mangkuk yang kotor dan meletakkan di dapur.
Nora menyusul Alex ke dalam kamar, dia melihat Arthur sedang berkemas. " kapan Mas berangkatnya ? " ucap Nora membantu memasukan beberapa pakaian yang akan di bawanya.
" Besok, Mas akan naik pesawat " Ucap Arthur menghentikan kegiatan berkemas nya.
" Iya kamu hati - hati disana " ucap Nora.
" Kamu dan Calon bayi kita juga hati - hati ya " Untuk pertama kalinya Arthur memberanikan diri untuk memegang perut Nora yang masih rata.
" Iya Mas, Terima kasih banyak " ucap Nora memegang tangan Arthur yang berada di atas perut ratanya.
Kantor Paman Yoda.
Jam Istirahat sudah di mulai dua puluh menit yang lalu. tapi Anora masih saja sibuk dengan pekerjaannya. siapa lagi kalau bukan Paman Yoda pelakunya yang memberikan Anora pekerjaan yang sangat banyak.
" Ano " panggil teman Mia, teman satu kampusnya.
__ADS_1
" Hem " jawab Nora tanpa melihat ke arah Mia.
" Aku bantuin ya. di bagi dua ajah sini dokumen nya kamu bisa lanjutin yang kamu kerjain. aku kerjain dari belakang " ucap Mia.
Niatnya ingin membantu Anora biar cepat selesai mengerjakan pekerjaannya. tapi sayang sang Pemilik perusahaan tak suka melihatnya membatu pekerjaan Anora.
Ekhem
Paman Yoda berdehem di depan meja mereka. dan sontak saja membuat kedua orang yang sedang bekerja pun mendongakkan kepalanya ke atas melihat siapa yang berdiri menjulang di hadapannya.
" Pak Yo - da " Ucap Mia gugup langsung berdiri. sedangkan Anora masih menatap layar monitornya dengan tangan yang fokus mengetik.
" Bukannya ini jam makan siang. cepat sana selesaikan makan siangnya. saya tak ingin ada yang santai setelah jam istirahat berakhir?? " tanya nya pada Mia dengan memasukkan kanannya kedalam saku celananya.
" Baik Pak. permisi " ucap Mia melirik ke arah Anora merasa tak enak hati. dia makan siang tapi temannya masih sibuk dengan pekerjaannya.
" Cepat Sana " ucap Paman Yoda penuh penekanan.
" Iya Pak " ucap Mia setengah berlari meninggalkan meja kerja Anora.
Bukannya Anora mau bersikap kurang ajar pada Sang pemilik perusahaan cuma untuk apa meladeni sikap Paman Yoda yang seperti itu. mending dia fokus pada kerjaannya biar cepat selesai dan bisa mengisi perut yang sudah di demo segerombolan cacing penghuni perutnya.
" Kamu " Tunjuk Paman Yoda padanya.
" Saya Pak " Ano menunjuk dirinya sendiri.
" Siapa lagi yang ada di sini selain kamu " ucap Paman Yoda datar.
" Keruangan saya, Sekarang " ucap nya dengan kalimat yang di tekankan.
" Baik Pak " Ano berdiri dan mengklik tanda close untuk keluar dari file yang sedang di kerjanya.
Ano berjalan memasuki ruangan Paman Yoda yang terbuka.
" Permisi " ucap Anora.
" Masuk " balas Paman Yoda sedang menyiapkan dua kotak makanan di atas meja kerjanya.
Anora masuk dan berdiri di sebelah kursi yang menghadap Paman Yoda.
" Paling aku di suruh buat minuman " gumam nya dalam hati.
" Duduk lah, kita makan siang bersama !! " ajak Paman Yoda dengan memindahkan kotak makanannya di depan Anora.
" Hah " ucap Anora membuka mulutnya.
" Tutup mulut mu nanti jadi sarang lalat. cepat duduklah !!! " Paman Yoda menarik tangan Ano agar duduk di kursi hadapannya.
Ano masih tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Samapi - sampai dia menepuk kedua pipinya bergantian.
" Awww, sakit " ucap Ano meringis dan memegang pipi kirinya.
" Ini bukan mimpi di siang bolong Anora " ucap Paman Yoda setelah mencubit cukup keras pipinya Ano.
" Selamat makan Paman Yoda " ucap Ano genit menatap Paman Yoda.
__ADS_1
" Anora " timpal Paman Yoda.