
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.50. Mereka bertiga baru saja selesai dengan makan malam. Anora yang memasak untuk mereka.
" Kalian lanjut saja mengobrolnya, aku akan istirahat?"Ano pamit pada Riza dan Bima, dia berjalan meninggalkan mereka.
" Maaf Anora..."Ucap Bima menggantung ucapannya sampai Ano berhenti melangkah dan memutar tubuhya menghadap Bima.
" Iya, kenapa Bim ?".
" Apa kau mau ke Surabaya juga? ".
Anora mengangguk mengiyakan.
" Boleh jika saya temani?,kapan kita akan kesana?"
" Besok pagi, penerbangan pertama".
" Ok, selamat istirahat "Ucap Bima.
" Iya Bim "
Anora pun langsung masuk kedalam kamarnya.
Riza yang melihat keberanian Bima, hanya mengacungkan jempolnya. memberikan dukungan.
" Apa aku terlalu cepat jika bergerak sekarang?".
Riza terkekeh dengan raut wajah yang ditunjukkan Bima, seperti orang kebingungan. tadi didalam ruangan kerja bilangnya mantap. kenapa sekarang malah bertanya lagi.
" Iya aku berjuang semampu ku ".
" Begitu dong sob ".
Bima mengambil ponsel dan memesan tiket pesawatnya secara online.
" Kita minum lagi, sebelum kau pulang ".
" Baiklah ".
Mereka berdua ke ruang keluarga membawa gelas yang berada diatas meja.
Keesokan paginya, Anora dan Bima sudah pamit pada Riza dan mereka menaiki taksi online menuju bandara. karena tidak ingin merepotkan Bima, tapi yang jelas Riza memberikan waktu pada Bima untuk berdua dengan Anora dan menentukan sikapnya.
Setelah beberapa menit berlalu," Kau mau makan atau meminum sesuatu?"Tanya Bima pada Anora setelah sampai di bandara.
Anora melihat jam dipergelangan tangannya. terlihat masih ada waktu satu jam lagi.
" Boleh ".
Bima membawa Anora ke kedai kopi yang menjual makanan dan minuman juga yang bisa membuat perut kenyang.
Bima dan Anora sudah memesan minuman dan beberapa makanannya.
" Anora... "Bima memberanikan diri memulai obrolan sambil menunggu pesanan mereka datang.
" Hem "
" Maaf sebelumnya, tapi saya tidak tahu kapan waktu yang pas untuk saya berbicara pada mu?, dan apa pun penilaian atau pikiran mu, utarakan saja tapi setelah saya menyampaikan maksud Saya".
__ADS_1
Anora menatapnya dengan intens sehingga Bima dibuat salah tingkah.
Bima menarik nafas panjang, dilakukannya berkali-kali. namun rasa gugup tetap saja tidak mau pergi.
" Bicaralah Bim "Ano merasa lucu dengan ekspresi Bima yang salah tingkah dan gugup seperti itu.
Bima menarik nafas dalam sekali kali dengan mengepalkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya mencari keberanian diantaranya.
" Menikahlah dengan ku, Anora!!?"
Hening
Bima masih dengan posisi yang sama. dan Anora terus saja menatapnya. sampai suara pelayan datang membawa pesanannya.
" Permisi, ini pesananya ".
" Terima kasih "
Bima pun membuka kedua matanya setelah mendengar suara Anora.
Anora pun melihat Bima yang sudah membuka kedua matanya.
" Gaya sekarang ya, meminta wanita untuk menikah. dengan cara yang kamu tunjukkan tadi"Anora tersenyum lebar kearah Bima sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
" Tapi tenang saja kamu punya teman, karena Papa juga orangnya sama seperti mu"Lanjut Anora dengan tertawa mengeluarkan suaranya.
Bima sungguh menikmati momen langka ini.
" Bagaiman dengan permintaan ku tadi?".
" Kamu sudah tahu aku dari dulu bagaimana? masa iya kamu mau dengan ku? bahkan aku pernah bercumbu dihadapanmu".
" Kamu tahu siapa aku, dan apa saja yang sudah aku lewati selama ini. kegagalan ku dan kedua orang tua ku, tidak mudah untuk menghilangkan itu dari rasa ketakutan ku sendiri ".
" Tidak menutup kemungkinan apa yang kedua orang tua ku alami, akan menimpa ku juga. karena kita tidak pernah tahu jalan seperti apa yang akan kita lewati. apa akan membawa kita pada keabadian cinta atau justru akan membuatnya terpisah".
Bima diam, menatap wajah cantik Anora yang bisa dilihat dan dinikmatinya dalam jarak dekat.
" Jika kamu siap dengan segala resikonya, kamu bicara saja pada kedua orang tuaku. aku akan menuruti apa yang mereka putus kan untuk hidupku".
" Masalah cinta, wanita akan lebih cepat untuk mencintai ketimbang pria,dan akan ku pastikan aku akan bisa mencintai ".
Bima meneguk habis minumannya dengan sekali gerakan.
" Aku akan berusaha, selalu berusaha supaya kita bisa melewati semua jalan yang ada dihadapan kita nanti".
" Baik lah, aku berbicara dengan Ibu Nora dan Pak Bos terlebih dahulu. setelahnya baru pada Pak Arthur".
" Kenapa tidak berbicara sekalian pada ketiganya?".
" Ok jika itu mau mu? ".
" Hanya saran saja ".
" Tidak masalah, terima kasih saran mu saya terima".
" Kita akan bicarakan lagi setelah mengetahui apa keputusan mereka".
__ADS_1
"Ok, saya akan menunggu waktunya tiba".
Nora menjerit melihat jam yang sudah menunjukkan waktu hampir habis dan bisa-bisa mereka ditinggal pesawatnya.
" Cepat Bim, lebih cepat lagi larinya "Pinta Anora pada Bima. yang memegang dan menarik tangannya berlari.
" Untung saja tidak telat, hebat juga kamu larinya cepat Bim!".
" Bima "Ucapnya membanggakan diri sendiri.
Bima begitu senang, ternyata tidak serumit teorinya. awalnya saja yang sangat susah untuk memulai. setelah nya sudah sangat gampang hanya ikuti saja alurnya.
.
.
.
Surabaya, Kediaman Alex.
" Cinta, semuanya sudah siap. kita tinggal langsung berangkat saja nanti".
" Terima kasih Lex".
Alex mengelus perut buncit istrinya yang tinggal satu hari lagi melahirkan anak mereka yang ke tiga.
" Sudah Lex, jangan mancing terus. dari semalam sudah betapa kali".
" Habis kamu selalu membuat kerja otak ku terganggu".
" Memang apa yang sudah aku lakukan sampai yang ada di kepala kamu itu hanya penyatuan, penyatuan dan penyatuan".
Alex menelan saliva nya dengan kasar,saat tangan Nora sudah berada di dalam penutup senjatanya.
Tangan Nora sudah memijat dan meremas lembut senjatanya.
" Apa seperti tadi yang aku lakukan pada mu, atau.... seperti ini".
Nora menempelkan kan bibirnya pada bibir Alex dengan gerakan slow motion. tanpa melepaskan tangannya pada senjata yang sudah terpasang dengan sempurna.
Bibir Alex bergerak untuk me lu mat nya, tapi dengan cepat Nora menjauhkan bibirnya dari bibir Alex.
" Atau seperti ini... "
Nora sudah berjongkok, dengan wajah sudah berada tepat didepan senjata Alex yang sudah siap ditarik pelatuk nya.
Tangan Nora, mengeluarkan senjata Alex dari dalam penutupnya.
" Wow... kenapa setiap hari ukurannya selalu bertambah. apa yang sudah kamu lalukan padanya? ".
Nora menatapnya dengan lekat senjata yang sudah mengarah pada wajahnya.
Alex melepas kan sendiri kaos yang dipakainya. dan juga melepaskan celenanya. sehingga Alex sudah berdiri dengan polos dihadapan Nora.
Nora mendekatkan wajah pada senjata nya, salah satu tangannya membawa senjata itu memasuki gua bergigi nya.
Untuk beberapa menit Nora bermain disana, sampai Alex sudah tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Kemudian Alex melepaskan semuanya pakaiannya yang membalut tubuh sexy Nora dan membawanya keatas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
" Ini kah Cinta yang sangat kamu inginkan?!!"Goda Alex dengan mencium rakus bibir Nora.