
Alex melihat Jarum jam yang ada dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 00.50. rasa kantuk seakan menjauh dari kedua matanya.
Terlebih dengan hati dan pikirannya yang tertuju dengan Nora. dia membuka ponselnya dan melihat gambar Nora di layar ponselnya.
" Aku sangat merindukan mu dan calon bayi kita " Gumamnya.
" Daddy harap kita segera berkumpul" Gumam nya lagi sambil mengusap bagian perut Nora dan memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
Alex keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Thalia dan Thomas yang berada di lantai atas. Berharap bisa tertidur setelah bisa melihat salah satu dari mereka. karena Alex tau Thomas pasti akan selalu mengunci kamarnya saat tertidur.
Setiap malam selama berada di sini Alex selalu mengecek keadaan kamar Thomas selalu berharap bisa masuk pada malam hari ke kamar Thomas. tapi sayang selalu kegagalan dan kekecewaan yang didapatnya.
Alex sudah berada di dalam kamar Thalia yang memang tidak pernah di kunci. Dia melihat putri cantiknya sedang lelap dalam tidurnya. cuti kuliah panjang yang diambilnya karena kejadian beberapa bulan lalu di Surabaya.
" I Love You " Ucap Alex lirih karena tidak ingin menganggu waktu tidurnya. kemudian mengecup keningnya Thalia dengan sangat lama.
Alex menutup pintu kamar Thalia dengan sangat pelan. Alex melihat ke arah pintu kamar Thomas. karena selalu pasti akan di kunci jadi Alex melewati kamar Thomas. tapi rasa penasarannya tiba - tiba saja datang. dia memundurkan langkahnya berdiri tepat di pintu kamar Thomas.
Perlahan dia memegang gagang pintu dan mencoba memutarnya. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. sehingga pintu Thomas terbuka setelah gagang pintu di putarnya.
Alex melihat cahaya yang agak remang di kamar Thomas. perlahan dia mendekat ke arah Thomas.
Thomas yang sedang tertidur mulai merasa terganggu dengan mimpi yang setiap malam datang dalam tidurnya.
Keringat yang besar - besar keluar dari pori-pori wajahnya yang tampan dan mulai membasahi pakaian yang di pakai Thomas.
Walaupun dalam pencahayaan yang minim tapi Alex masih bisa melihatnya dengan jelas.
Thomas gelisah tangannya bergerak - gerak seperti ingin menusuk seseorang dengan keringat yang membasahi sprei alas kasurnya.
Dengan cepat Alex mengeluarkan ponselnya dan mulai mengarahkan ponselnya pada tubuh Thomas yang sedang tertidur.
Alex merinding dan merasa sangat bersalah dengan apa yang di alami Thomas saat ini. tapi dia tetap ingin bisa membebaskan Nora dari dalam sana.
Thomas meracau dalam tidurnya beberapa kali.
" Tidak, bukan, Tidak, "
" Maaf kan aku, bukan begini "
" Harusnya kau yang mati bukan dia "
Deg
Apa yang di tuduhkan Bima dan Riza pada putra nya memanglah benar adanya. dia langsung memasukkan lagi ponselnya dan terasa begitu lemas kedua kakinya sehingga tidak kuat menahan bobot tubuhnya, Alex ambruk melorot kelantai samping tempat tidur Thomas.
__ADS_1
Mendengar dengan jelas setiap kata yang terucap dari bibir Thomas. Alex menitikkan air matanya.
Kemarahan yang membabi buta seperti ini justru membahayakan dirinya. seharusnya dia yang merasakan kesedihan dan penderitaan ini bukan Nora ataupun orang lain.
Ini semua terjadi karena rasa egonya yang begitu besar.
Apa sekarang yang bisa dilakukannya untuk menjadikannya sama seperti semula lagi? Pasti tidak ada yang bisa dengan langkah yang sudah jauh dari langkah yang seharusnya di tuju.
Sudah pukul 04.10. Alex baru keluar dari kamar Thomas dengan tubuh yang gemetar dan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
Dia berjalan ke arah kamar Thalia, tapi belum sempat membuka pintunya dia sudah terjatuh tersungkur kelantai dan tidak sadarkan diri.
Surabaya, Rumah Tahanan.
Nora begitu gelisah dengan perasaannya. sudah mencoba untuk miring kanan, miring kiri dan bahkan telentang tapi tetap saja tak membuat matanya terpejam.
" Kenapa Nora, apa perutmu sakit ?" Tanya Ibu Rosa yang merasakan setiap pergerakan Nora.
Kemudian Nora bangun dan menyenderkan kepalanya pada tembok yang ada di belakangnya.
" Bukan Ibu Rosa, tapi nggak tau kenapa nggak bisa tidur ajah ? " Jawab Nora dengan mengelus perutnya yang mendapatkan beberapa kali tendangan yang lumayan cukup kencang sehingga terlihat jelas oleh Ibu Rosa yang melihat perutnya Nora dengan seksama.
" Mungkin bayi mu merindukan ayah nya ?" Ucap Ibu Rosa sambil memiringkan badannya menghadap ke arah Nora.
" Apa Iya kamu merindukan ayah mu?" Tak bisakah hanya Ibu saja yang ada di sisi mu ?" Tanya Nora pada bayi yang ada di dalam perutnya sambil terus mengusap - usap bagian perut yang masih mendapatkan tendangan dari kaki mungil bayinya.
" Itu juga yang terjadi pada ku dan ayah dari bayi yang ku kandung. aku sudah memisahkan mereka dengan Daddy nya" Ucap Nora sendu.
" Hukuman apapun yang ku jalani tak akan ada yang bisa mengembalikan apa yang sudah aku hancurkan " Ucapnya lagi.
Ibu Rosa menyadari ada kesalahan dalam ucapannya. sehingga membuat raut wajah Nora berubah.
" Bukan begitu maksud Ibu, tapi inikan kita lagi bahas bayi yang ada dalam perut mu. jadi tidak seharusnya masih bayi jauh dari Ayahnya " Ucap Ibu Rosa dengan tidak enak.
" Iya Ibu Rosa, aku mengerti maksud Ibu " Balas Nora dengan tersenyum.
" Coba lagi kamu tidur, kasian bayi mu kalau kamu kurang istirahat " Ucap Ibu Rosa menasehati.
Ibu Rosa pun memejamkan matanya lagi. karena memang masih sangat mengantuk.
Nora hanya menganggukkan kepalanya. kemudian menatap langit - langit yang sudah lapuk dengan memejamkan kedua matanya.
" Alexander " Ucapnya dalam hati.
Nora kembali merebahkan tubuhnya di samping Ibu Rosa. dan menatap wajah keriputnya.
__ADS_1
" Terima kasih sudah menjadi penyemangat kami " Gumam Nora lirih dan memegang kembali perut yang mendapatkan tendangan lagi dengan tiba - tiba sehingga membuatnya meringis kesakitan.
" Daddy mu akan baik - baik bersama keluarganya " Terasa ada yang mencubit hatinya saat mengingat Alex yang sudah tidak pernah berusaha untuk mengunjunginya.
" Kita akan bahagia dengan Kakak Ano dan Papa Arthur. izinkan aku egois yang ingin Kemabli hidup bersama mu walau hatiku sudah berubah. tapi aku percaya kamu laki-laki baik yang bisa menerima kami " Ucap Nora pilu masih berharap bisa kembali pada Arthur dan membesarkan anaknya sendiri.
" Alexander Damian Diaz "
Hanya nama yang pernah singgah di hati ku dan sekarang dia sudah kembali pada kehidupan nyata yang sangat menyenangkannya.
Biarkan aku dan anak kita kembali mencoba dengan Arthur dan Anora.
Tak terasa matanya terpejam juga setelah beberapa kali berbicara dengan hatinya dan calon bayinya.
Jakarta, Kediaman Alex.
Keesokan paginya Dokter pribadi Alex datang untuk memeriksa kondisi Alex yang sudah tidak sadarkan diri di depan kamar Thalia.
Adam dan monica datang bersamaan. kali ini yang di telpon Thalia, Adam. tapi Adam datang bersama Monica.
Serra, Thalia dan Thomas sedang menunggu di luar kamar Thalia dengan pintu yang sengaja tidak tertutup.
Adam dan Monica sedang memeriksa Keadaan Alex.
" Bagaimana sayang " Tanya Monica yang duduk di samping tempat tidur Alex.
" Alex hanya kelelahan saja sayang, tapi sepertinya ada hal lain yang dipikirkannya" Jawab Adam.
Monica merapikan kembali selimut yang menutupi tubuh Adam. dan keluar dari kamar menemui mereka yang ada di depan pintu.
" Daddy mu hanya kelelahan saja Thalia, Thomas. ini aku sudah menuliskan resep dan jangan lupa di minumkan pada Daddy kalian " Ucap Adam menjelaskan.
" Iya Baik Om Adam, Tante Monica. terima kasih banyak "Balas Thalia menjabat tangan mereka.
Serra dan Thomas hanya saling pandang saja tanpa bersuara apapun.
Apartemen Arthur.
Ano sedang berkemas memasukkan beberapa pakaian dan perlengkapannya. tidak banyak yang di bawanya. hanya seperlunya saja.
Beberapa buku yang harus di bawanya untuk Nora supaya tidak terlalu bosan dan ada kegiatan di dalam sel.
Drrrttt
" Iya Paman, sebantar " Ano langsung menjawab panggilan telponnya dan langsung mematikannya setelah selesai bicara.
__ADS_1
Dia langsung berlari kearah pintu dan langsung membukanya.
" Anora " Ucap Paman Yoda begitu senang melihat penampilan Ano yang sangat cantik dan selalu menarik di matanya.