
" Terima kasih untuk itu " Alex menatap ke arah Thomas yang sudah mulai tenang.
" Kalian istirahat saja dulu.Datanglah kekantor besok kita akan bicarakan. Daddy harus bekerja"Alex melihat kerah jam yang melingkar ditangannya sembari menepuk pundak Thomas.
Alex terlebih dahulu meninggalkan mereka dan kembali lagi ke kantornya.
Kemudian Serra memegang tangan Thomas dan membawanya berjalan ke arah lift.
Setelah sampai di dalam kamarnya, Thomas langsung merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. sementara Serra menyusun pakaian mereka kedalam lemari.
Alex memerintah kepada seluruh pegawai Hotel untuk memberikan pelayanan terbaik untuk putranya dan Serra.
" Serra dan Thomas ada disini" Alex memberitahukannya pada Bima ketika Bima sudah berada dimeja kerjanya lagi.
" Kapan? " Tanya Bima cepat.
" Sekarang " Jawab Alex lebih cepat lagi dengan mengerutkan dahinya.
" Kamu kenapa Bim?" Tanya Alex menatapnya intens.
" Tidak Bos " Jawab Bima datar.
" Mereka berniat untuk menemui Nora dan keluarga Suster Nur. itu yang aku tangkap dari pembicaraan dengan mereka tadi " Ucap Alex.
" Baguslah Tuan Thomas dan Nyonya Serra sudah mau mengakui kesalahannya. walupun kesalahan mereka sudah dimaafkan terlebih dahulu tanpa dibawa ke pengadilan"Bima mengapresiasi tindakan Thomas dan Serra jika memang seperti itu.
" Tapi benar kamu tidak apa-apa?" Alex memastikan lagi kalau Bima tidak dalam masalah.
" Tidak Bos " Jawab Bima dengan senyum tipis dibibirnya.
Kediaman Alex.
Paman Yoda, Ano dan Thalia sedang menikmati makan malam yang sudah disiapkan Ano. walau hanya masakan rumahan tapi rasanya tetap enak.
" Paman dari kapan disini?" Tanya Ano sembari mengunyah makanannya.
" Hampir mau satu minggu " Jawab Paman Yoda jujur.
" Trus Paman sama Kak Ano serius?" Tanya Thalia kepo.
Ano hanya jadi pendengar yang baik untuk keduanya. dan sesekali menatap intens Paman Yoda. apalagi Thalia mempertanyakan keseriusannya.
" Paman dari awal juga serius.kalau Ano mau Paman akan memintanya pada Nora dan Arthur.
" Ish Paman, Masa menyebut nama pada calon mertua " Thalia tertawa geli. secara umur Pamannya masih berada di atas orang tua mereka.
Ano ikut tertawa menimpali Thalia.
__ADS_1
" Iya, Mama Nora dan Papa Arthur " Ralat Paman Yoda mengulang lagi nama Nora dan Arthur di tambah kata Mama dan Papa.
Semakin pecah ketawanya Thalia dan Anora sehingga membuat ramai di meja makan.
Sedangkan Paman Yoda menjadi objek yang ditertawakan keduanya dia tetap santai dengan makanannya. tidak membuatnya baper atau sakit hati. ya, karena memang kenyataannya seperti itu.
Mereka bertiga melanjutkan lagi keseruannya di ruang tengah dengan menonton film yang bergenre drama romantis.
Sementara di dalam kamar Hotel X yang dihuni Serra dan Thomas mereka sedang duduk di jendela kaca yang memperlihatkan hamparan kota Surabaya penuh dengan bangunan yang menjulang tinggi tetapi sangat indah di pandang mata dan langsung menghadap ke bawah tepat ke kolam renang.
" Mommy tidak menghubungi Thalia?" Tanya Thomas.
Serra hanya menggelengkan kepalanya.
" Kalau mau, Abang bisa memintanya datang kemari. kita tidur bersama " Ucap Thomas lagi.
Serra masih menggelengkan kepalanya.
" Mommy ingin cepat besok. kita mulai perjalanan kita yang sesungguhnya" Ucap Serra menatap Thomas.
" Biarkan Thalia tidak tau apa-apa tentang kita untuk saat ini. Mommy tidak ingin melukai hatinya. biarkan dia tinggal dengan mereka yang bisa menyayangi dan menjaganya dengan tulus dikala nanti kita tidak bisa menemaninya " Ucap Serra dengan berusaha tegar tapi tetap terpancar ada kesedihan didalam dirinya.
Hening
Hening
Sinar bintang yang bercahaya dimalam hari sudah berganti dengan sinar matahari yang mampu menghangatkan tubuh.
Serra dan Thomas sudah sangat rapi pagi ini.
keduanya langsung menuju kantor Alex setelah menyelesaikan sarapannya.
Tok
" Dadd " Panggil Thomas dari luar.
" Masuk Tuan Thom " Bima membukakan pintu untuk mereka.
" Duduk Thom, Serra " Alex mempersilahkan keduanya untuk duduk kursi yang sudah disediakan Bima.
" Terima kasih Lex " Serra mendaratkan bokongnya di kursi.
Thomas merasa aneh akan sikap formal yang ditunjukkan keduanya. tapi dia berusaha untuk memakluminya.
" Maaf kan Dadd aku sudah menjadi seorang pengecut " Thomas menundukkan kepalanya tidak berani menatap Alex seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu. bahkan Thomas dengan tidak berperasaan tetap menyalahkan Nora atas perbuatannya.
" Daddy salut sama kamu sudah mau gentle datang kesini untuk menyelesaikan masalah yang kamu buat sendiri " Ucap Alex.
__ADS_1
Drrrttt
Drrrttt
Alex mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu tersenyum tipis melihat Thalia melakukan panggilan video dengannya.
" Iya sayang " Jawab Alex.
" Dadd kami sudah siap mau menemui Tante Nora dan adik bayi aku" Ucap Thalia dengan senang.
Tiba - tiba dadanya terasa sesak ketika Thalia akan bertemu dengan Nora dan calon anaknya Alex juga. Serra memegang dadanya dengan memejamkan kedua matanya.
" Sayang, sepertinya hari ini Daddy tidak bisa mengajak kalian. karena ada urusan yang sangat penting yang harus Daddy lakukan. sebagai gantinya kalian jalan - jalan saja bersama Paman Yoda " Ucap Alex dengan nada memelas karena tidak enak hati pada mereka.
" Yah Dadd, aku kan mau mengelus adik aku yang ada di perut Tante Nora" Thalia masih kekeuh untuk ikut ke Rutan.
Telinga Thomas sedari tadi sudah sangat panas mendengar setiap perkataan Thalia yang begitu manja tentang Nora dan bayinya.
" Secepat itu Thalia bisa menerima Nora dan calon adiknya " Batin Thomas.
" Sayang, Daddy matikan dulu telponnya Karena ada pekerjaan penting " Izin Alex pada Thalia.
" Iya Dadd, baiklah tapi setelah urusan dan pekerjaan Daddy selesai kita ketemu Tante Nora dan adik aku " Ucap Thalia sebelum mematikannya telponnya.
" Baiklah kita lanjutkan lagi" Ucap Alex.
" Aku dan Thomas bisa mulai dari mana?"Tanya Serra tidak ada keraguan.
" Baik kita bisa mulai dari mereka dulu"Jawab Alex meminta Bima untuk membawa kelurga inti Suster Nur kedalam ruangannya.
Tak berselang lama, mereka sudah masuk dan duduk bergabung dengan mereka.
Thomas mengedarkan pandangannya pada semua orang yang baru saja bergabung dengannya.
" Kenapa wajah mereka semua mirip dengan suster itu?" Gumamnya dalam hati dengan keringat yang sudah membasahi wajah tampan dan hampir sebagian tubuhnya. Padahal ini masih pagi kenapa harus sudah bermimpi. pikirnya.
Serra mengelap semua keringet di wajah Thomas dengan kedua telapak tangannya.
" Tenanglah mereka semua nyata, Abang tidak sedang bermimpi " Gumam Serra lirih.
Thomas hanya mengangguk mengiyakan.
Pun dengan keluarga Suster Nur yang sebelumnya sudah pernah melihat Thomas didalam video pengakuannya. sudah tau kalau Laki-laki tampan itu anak pertama Alex yang sudah menghilangkan nyawa anaknya.
Thomas perlahan jalan kehadapan keluarga Suster Nur dan langsung menekuk kedua lututnya, berlutut didepan mereka dan menyampaikan permohonan maaf dan rasa sesalnya. jika waktu bisa diulang tidak ingin dia melakukan hal seperti itu. bahkan Thomas bersiap untuk mendapatkan hukumannya.
Begitu juga dengan yang Serra lakukan meski tidak berlutut memohon. tetap saja dia meminta maaf atas nama putranya dan rasa sesalnya atas kejadian ini, dan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya suster Nur walau sudah sangat terlambat sekali. karena lebih baik terlambat mohon ampun daripada ditemani penyesalan seumur hidupnya. seperti mimpi yang selalu menggangu tidur nyenyak Thomas.
__ADS_1